Pembalasan Ratu Ular

Pembalasan Ratu Ular
Berhasil Menemukan Mutiara Ular


__ADS_3

Sejak saat itu, Mala menjadi menantu di rumah mewah milik Tian Rasyid. Pada saat menjelang malam pertama, mereka melakukannya tanpa ada hambatan.


Di tengah malam, guru datang menemui Mala pada saat Radit tertidur pulas.


"Ratu, selamat atas pernikahanmu dengan anak manusia. Dan kamu telah berhasil menikahi seorang perjaka tulen. Sekarang penglihatanmu tentang keberadaan mutiara ular sudah bisa. Cepatlah kamu cari tahu dimana saat ini mutiara ular berada. Jangan sampai menunggu fajar menyingsing," ucap guru setelah itu ia pun menghilang pergi.


Saat itu juga, Mala memejamkan matanya untuk mengetahui dimana keberadaan mutiara ular. Dan ia sudah tahu dimana saat ini mutiara ular itu berada.


"Astaga, bukankah yang aku lihat adalah salah satu ruangan di rumah ini saja? kok bisa ya? lantas siapa yang telah mencurinya?"


Mala lekas kuat dari kamar secara perlahan supaya tidak membangunkan Radit. Dan ia terus saja melangkah ke ruangan yang ada di dalam penglihatannya.


"Nah, ini ruangan yang aku lihat. Tapi dimana lagi ya?"


Sejenak Mala memejamkan matanya lagi untuk melihat sekitarnya. Dan ia bisa melihat jika mutiara ular ada di balik sebuah dinding rahasia.


Mala mencari tombol rahasia supaya dia bisa masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di ruangan itu.


Dan ia akhirnya menemukan sebuah tombol yang tersembunyi di balik sebuah lukisan. Ia pun lekas memencet tombol itu dan lekas masuk ke dalam rusng rahasia itu tanpa ada rasa takut sama sekali.


Dari jauh ia bisa melihat kilauan pancaran mutiara ular tersebut. Akan tetapi pada saat ia akan mengambil mutiara ular itu, seseorang menyerangnya dengan seribu anak panah.


Untung saja ia gesit dan bisa menghindari setiap anak panah yang melesat ke arahnya.


"Heh, siapa kamu yang telah lancang mencuri mutiara ular!" bentak Mala di sela ia menghindari serangan anak panah yang bertubi-tubi.


"Hhaaaaa...ini aku Mala! aku yang telah mencurinya dengan bantuan sahabatku ini!" ucap Anggit di balik persembunyiannya.


"Sialan! cari mati kamu ya!"


Saat itu juga Mala berubah menjadi seekor ular berkepala manusia.Dan ia mengibaskan ekornya dengan keras ke arah pria bertopeng yang terus menyerangnya dengan meluncurkan anak panah.

__ADS_1


"Aaahhhh.."


"Kena kamu!"


Dan pada saat Mala akan membuka topeng pria yang terkena kibasan ekornya. Anggit datang dengan melempar mata Mala dengan pasir.


"Aaahhh...sialan kamu Anggit! awas ya, akan aku singkirkan kamu secepatnya!"


Sejenak Mala terus saja mengusap matanya, dan pada saat ia sudah bisa melihat. Pria bertopeng dan Anggit sudah pergi dari ruang rahasia itu.


Untung saja mutiara ular tidak di bawanya serta. Mala mengambil mutiara ular tersebut, dan ia pun menghilang saat itu juga.


Kini Mala sudah ada di sebuah gua tempat gurunya berada.


"Syukurlah, Ratu. Kamu telah berhasil menyelamatkan mutiara ular tepat pada waktunya," ucap guru sangat senang.


"Guru, sebaiknya mutiara ulsr ini kita sembunyikan di tempat yang aman. Jangan di tempat yang semula karena sudah ada yang mengetahuinya," ucap Mala.


Dan pada akhirnya, Mala membawa mutiara ular itu ke sebuah istana ular. Dan ia menyembunyikannya di istana ular, rumah dirinya sewaktu masih ada ibunya.


Setelah itu ia pun kembali ke kamar Radit, dan ia ikut tidur di samping suaminya itu.


"Aku sudah terjebak dalam pernikahan ini. Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk langkah kedepannya," batin Mala seraya terus menatap wajah suamimu yang sedang tertidur pulas.


Pada akhirnya, ia pun ikut memejamkan matanya. Hingga tak terasa pagi menjelang, ia pun cepat melangkah ke dapur untuk memasak dan lain sebagainya.


Walaupun mertuanya sudah melarangnya untuk tidak melakukan kerjaaan rumah tangga lagi. Tetapi ia masih saja melakukannya.


"Astaga, Mala. Mamah kan sudah mengatakan supaya kamu tak usah lagi mengerjakan dapur. Mamah sudah mempekerjakan orang kok, untuk menggantikan kerjaanku," ucap Mamah Ani pada saat ia ke dapur.


"Nggak apa-apa, mah. Kalau aku nggak ngerjain apa-apa, bosan juga," ucap Mala.

__ADS_1


"Mala, ayok dong nurut sama mamah. Kamu istirahat saja hih, di kamar. Itu kan sudah ada dua bibi. Yuk mamah antar."


Mamah Ani merangkul Mala dan membawanya melangkah meninggalkan dapur. Bahkan Mamah Ani mengantar Mala ke kamarnya dimana Radit masih tertidur pulas.


"Astaga, mau sampai kapan aku terbelenggu di dunia manusia ini? gara-gara hilangnya mutiara ular, aku harus terperangkap dengan pernikahan seperti ini. Aku sama sekali tidak menyangka akan seperti ini," batin Mala seraya menghela napas panjang.


Mala pun kembali membaringkan tubuhnya di samping Radit. Akan tetapi ia tak bisa memejamkan matanya.Ia teringat dengan dua target yang belum juga bisa di habisi. Apa lagi Anggit sudah tahu tentang dirinya adalah seekor jelmaan ular.


Tak terasa sudah menjelang pukul tujuh pagi, Mala dan Radit pun bangun dari tidurnya.


"Pagi sayang, bagaimana tidurmu semalaman?" tanya Radit seraya mencium kening istrinya.


"Pagi juga, tidurku nyenyak Mas Radit," ucap Mala tersenyum.


"Syukurlah, sayang. Apa kamu tahu, Mala. Aku sangat senang dan bahagia setelah menikah dengan dirimu. Dan berharap pernikahan kita langgeng untuk selamanya," ucap Radit memeluk Mala.


"Bagaimana ini, aku di sini hanya ingin membalas dendam pada adik-adikmu yang telah menembak calon suamiku. Bukan ingin selamanya berumah tangga denganmu. Tetapi aku juga tidak tega meninggalkanmu, karena kamu tidak seperti adik-adikmu. Kamu pria yang sangat baik, Mas Radit. Tapi aku juga tidak yakin, akan selamanya bisa bersama denganmu. Kita ini beda dunia, aku berasal dari negeri ular. Dan kamu berasal dari dunia," batin Mala terus saja mengerutu memikirkan akan hari esok.


"Sayang, ayok kita turun untuk sarapan bersama."


Keduanya melangkah keturun ke lantai dasar menuju ke ruang makan. Di sana telah menunggu seluruh anggota keluarga. Tatapan tajam Anggit terarah pada Mala.


"Lihat saja Mala, aku akan terus saja berusaha untuk menyingkirkanmu dengan seribu macam cara. Karena aku tak ingin, Mas Radit mempunyai istri seorang wanita jelmaan ular," batin Anggit seraya tersenyum sinis ke arah Mala.


Dan Mala pun bisa merasakan akan hal itu.


"Sepertinya Anggit sedang merencanakan sesuatu kembali untuk bisa membuka jati diriku sebagai ular. Tetapi sebelum itu terjadi, aku akan menyingkirkan dirimu terlebih dahulu, Anggit," batin Mala.


Baik Mala maupun Anggit sama-sama saling mengancam satu sama lain. Keduanya tidak ada rasa gentar satu sama lain.


Keduanya sama-sama ingin saling menyingkirkan.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu malah bengong saja? ayok sarapa. karena aku akan mengajakmu healing. Aku minta maaf belum bisa mengajakmu honeymoon karena urusan kantor yang sangat padat," ucap Radit mengagetkan lamunan Mala.


__ADS_2