Pembalasan Ratu Ular

Pembalasan Ratu Ular
Korban Ketiga


__ADS_3

Mala terus saja mencari cara untuk bisa menghabisi Anggit, karena ia adalah target kedua yang gagal dihabisi.


Dia pun menghubungi Vista untuk meminta saran atau ide darinya.


"Vista, bagaimana caraku untuk bisa menghabisi Anggit karena dia adalah target kedua yang gagal aku habis dan aku harus menghabisinya segera? apalagi dia sekarang sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya adalah jelmaan ular," tanya Mala bingung.


"Apa tidak sebaiknya kamu menargetkan yang lain saja dulu, supaya tidak terlalu menjadi beban pikiran. Misalnya target ketiga atau target keempat dulu? biarkan untuk Anggit sementara kita beri kesempatan untuk hidup terlebih dahulu. Setelah kedua target yang lain berhasil kita habisi barulah kita memikirkan langkah selanjutnya," ucap Vista panjang lebar.


"Tetapi apakah dia tidak akan menjadi batu sandungan? setelah dia mengetahui niatku datang ke rumahnya yakni untuk menghabisi empat orang yang telah melukai, Vikri?" tanya Mala.


"Kamu tak usah khawatir dengan, Anggit. Biarkan ia aku yang pantau. Saat ini kamu fokus saja dengan targetmu yang ketiga dan ke keempat," ucap Vista.


"Baiklah jika begitu, akan akan melanjutkan misiku dengan target yang ketiga. Tetapi aku minta kamu benar-benar memantau Anggit, supaya rencanaku tidak berantakan," ucap Mala.


"Kamu tenang saja, Ruhi. Aku tidak akan ceroboh. Aku akan fokus dengan tugas dari dirimu," ucap Vista.


Ia pun datang ke rumah keluarga besar Papah Rasyid dengan menyamar sebagai pengusaha wanita yang paling ternama di kota A, dia menyamar sebagai Veli.


"Silahkan masuk, Nona Veli. Bagaimana kabar anda, kenapa tidak memberitahu pada saya jika akan datang kerumah saya?" sapa Papah Rasyid.


Vista yang menyamar sebagai Veli membawa banyak anak buahnya yang sesama ular juga. Semua bisa berubah wujud menjadi manusia.


"Kebetulan saya sedang memantau perkembangan usaha baru saya di kota ini, Tuan Rasyid. Dan saya menyempatkan diri mampir kemari untuk sejenak silaturahmi dengan anda dan keluarga," ucap Vista atau Veli.


Sedari tadi , Anggit menatap genit ke arah Vista. Vista pun tahu akan hal itu.


"Apakah pemuda tampan ini adalah anak anda, Tuan Rasyid?" tanya Vista sengaja menggoda Anggit dengan senyumnya.


"Oh iya, Nona Veli. Namanya Anggit, ia anak nomor tiga dari istri sah saja," ucap Papah Rasyid.

__ADS_1


"Hah, maksudnya? maaf."


"Saya punya dua istri, Nona Veli. Yang satu istri sah dan satunya lagi istri siri," ucap Papah Rasyid tersipu malu.


Vista hanya berhoohria saja, ia sebenarnya sudah tahu dari awal hanya saja pura-pura tak tahu.


"Tuan Rasyid, bolehkah saya izin menginap di sini?" tanya Vista.


"Astaga, Nona Veli. Tak perlu anda meminta izin segala, jika ingin menginap di sini tinggal menginap saja. Apalagi di rumah ini banyak sekali kamar kosong,' ucap Papah Rasyid.


"Terima kasih sebelumnya Tuan Rasyid, atas kebaikan anda mengizinkan saya untuk beberapa hari tinggal di sini," ucap Vista tersenyum ramah.


Dia memang sengaja melakukan itu supaya dirinya bisa memantau atau bahkan lebih dekat dengan Anggit.


Pada malam menjelang, Vista menemui Mala secara diam-diam.


"Kamu harus segera melakukan aksimu, karena aku hanya beberapa hari tinggal di sini tidak bisa berlama-lama. Rasanya tidak enak jika terlalu lama tinggal di sini. Jadi kamu harus gerak cepat untuk menghabisi dua target selanjutnya, sementara untuk urusan Anggit biarlah aku yang akan menghabisinya," ucap Vista.


. Tetapi aku minta kamu jangan menghabisi Anggit, biarkan aku saja yang kelak menghabisinya karena memang itu adalah dendamku bukan dendammu," ucap Mala.


"Terserah kamu saja, Ruhi. Tapi ingat pesanku untuk segera bertindak jangan mengulur waktumu," ucap Vista.


Hingga malam berikutnya, Mala menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan ia mengajak kenalan Ratno di sebuah bar.


"Sayang, maukah kamu jalan denganku malam ini?" tanya Ratno merayu Mala.


"Jalan kemana, sudah malam seperti ini?" tanya Mala.


"Cantik, kita ke hotel yuk?" aksinya tanpa ada rasa malu, apa lagi ia telah terpengaruh minumab keras.

__ADS_1


Mala tak menolak ajakan dari Ratno. Akan tetapi pada saat di hotel. Mala mengajak Ratno ke lantai atas. Dengan tanpa ada rasa curiga, Ratno pun menuruti kemauan Mala. Dan pada saat sampai di lantai paling atas, Mala berubah ke wujud aslinya yakni seekor ular.


"Hah, ka-ka-ka-mu?"


Ratno mendadak panik, melihat Mala yang tadinya berubah menjadi gadis cantik. Kini berubah menjadi ular besar yang siap memangsa Ratno.


"Kenapa kamu kaget, apakah ksninmssih ingat denganku? beberapa bulan lalu bukannya kamu juga menginginkan tubuhku ini. Mendekatlah sayang," Mala yang jelmaan dari Ruhi perlahan mendekati Ratno dengan menjulurkan lidah ularnya.


"Ja-ja-ngan mendekat! pergi kamu ular!" Ratno terus saja berjalan mundur, ia tidak ingat jika dirinya di lantai paling atas.


Ratno terus saja mundur dan akhirnya ia pun jatuh dari lantai yang paling tinggi hingga ke jalanan. Saat itu juga Ratno meninggal dengan darah mengalir deras dari kepalanya.


Ruhu tersenyum senang, ia pun menghilang begitu saja dan kembali ke rumah.


"Hem, target ke tiga sudah pasti mati karena ia jatuh dari ketinggian,' batin Mala senang.


Sementara banyak orang yang berkerumun melihat kejadian naas itu.Dan kebetulan ada salah satu pejalan kaki yang mengenakan korban, ia langsung menelpon ke rumah Papah Rasyid, dan juga menelpon ke kantor polisi.


"Apa, anakku jatuh dari lantai paling atas? apa maksudnya dia bunuh diri?" tanya istri siri Rasyid yakni Mamah Ana.


"Iya, banyak saksi yang melihat ia ada di lantai atas sendiri dan tiba-tiba jatuh kebawah. Tetapi sedang dalam penyelidikan apakah ada sebab lain kenapa ia bisa jatuh."


"Karena menurut para saksi, tidak ada orang sama sekali di lantai atas. Hanya ada Ratno saja."


"Memang Ratno tidak pernah berkeluh kesah padamu, pada saat di rumah? masa iya kamu seorang ibunya tidak tahu apakah anak-anak mu itu sedang punyaasalah atau tidak?'


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Mamah Ana menjadi tersinggung.


"Kamu pikir, Ratno itu mati karena bunuh diri? frustasi, depresi, karena punya beban berat? Ratno selama ini baik-baik saja, pah. Dia tidak pernah berkeluh kesah. Aku yakin ada seseorang ya g telah membunuhnya," ucap Mamah Ana sangat yakin.

__ADS_1


"Memang benar yang abda katakan, Nyonya Ana. Akulah yang telah membunuh Ratno," batin Mala pada saat ia menghidangkan minuman.


Di dalam hati Mala sangat puas karena ia tidak gagal dengan target ke tiga. Dan ia sedang mengincar target ke empat yakni Roso.


__ADS_2