
Mala terus saja mengikuti kepergian Uci dan Adi. Ia masuk ke dalam goa dimana tempat persembunyian burung pemakan bangkai. Mala bersembunyi di balik batu besar. Ia bisa mengamati setiap gerakan atau perkataan yang di lakukan oleh Adi dan para anak buahnya.
"Hem, ternyata Mira dan Nina tidak turut serta di sini. Hanya Adi saja beserta beberapa anak buahnya sesama burung pemakan bangkai," batin Mala.
Ia pun mencari keberadaan Uci, karena tidak terlihat sama sekali. Dan pada saat ia melihat Uci sedang sendirian, Mala pun menghampiri dirinya.
"Mba Mala, untuk apa mengikuti aku sampai di sini?" bisik Uci celingukan kesana kemari.
"Aku mengkhawatirkan dirimu, Ayuk lekas pergi dari sini bersama diriku. Karena mereka itu jahat, aku nggak ingin terjadi hal buruk padamu."
Bisik Mala seraya meraih jemari Uci dan akan mengajaknya pergi.
Tetapi Uci malah menepis tangan Mala, ia tidak bersedia turut serta dengan Mala.
"Aku nggak mau ikut, biarkan saja aku di sini bersama dengan calon suamiku," ucap Uci.
"Astaga, Uci!....
Belum juga Mala berkata lagi, Adi telah memanggil Uci.
"Uci, sayang... keluarlah.. ayok kita berpesta untuk merayakan keberhasilan dirimu menjadi ratu ular! Uci...
dimana kamu sayang?"
__ADS_1
"Aku ada di sini, Mas Adi. Aku akan segera datang."
Saat itu juga Uci berlalu pergi tanpa menghiraukan Mala yang masih saja bengong menatap kepergiannya. Ucum dengan sangat antusias menghampiri Adi.
"Hay teman-temanku semua, mari kita rayakan kemenangan kita dengan berhasilnya kita mendapatkan mutiara ular."
"Untuk merayakannya, aku bebaskan kalian semua untuk berpesta dan silahkan santap dirinya. Paru daging ular dari wanita ini enak sekali."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Adi, Uci terperangah. Ia sama sekali tidak percaya
"Mas Adi, kamu sedang bercanda bukan? aku ini kan calon istrimu, masa iya kamu memerintah anak buahmu untuk memangsaku?" tanya Uci seraya terkekeh.
"Aku serius, tidak sedang bercanda. Aku hanya memperalatmu untuk bisa mendapatkan mutiara ular. Dengan begini burung pemakan bangkai akan menguasai negeri ular. Kalian semua mangsa saja wanita itu dan makan saja sepuas kalian!"
Semua anak buah Adi yang merupakan jelmaan Burung Pemakan Bangkai, kini telah berubah menjadi burung.
"Tidak! pergi kalian dari sini! cepat pergi!" teriak Uci hingga terdengar sampai ke telinga Mala yang sebenarnya ia akan pergi dari goa tersebut.
Secepat kilat Mala merubah wujud menjadi ular berkepala manusia. Dan ia mencari sumber suara teriakan adiknya. Ia pun mendapati Uci sedang di kerumuni oleh burung pemakan bangkai.
Sedangkan saat ini Adi membawa mutiara ular ke markas burung pemakan bangkai. Ia sengaja membiarkan Uci di mangsa oleh rekan sesama burung pemakan bangkai.
Mala tidak tinggal diam, ia pun mengibaskan ekornya pada beberapa Burung Pemakan Bangkai yang sedang mengerumuni Uci. Dan saat itu juga semua burung pemakan bangkai terkapar karena sabetan ekor dari, Mala.
__ADS_1
Pada saat semua burung pemakan bangkai terkapar tak berdaya, Mala segera berubah wujud menjadi manusia lagi dan segera mengajak adiknya untuk pergi dari goa tersebut.
"Mbak, aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu ya."
"Sudahlah tak perlu kita bahas masalah ini terlebih dahulu, tetapi kita fokus untuk segera pergi dari goa ini sebelum para burung pemakan bangkai itu sadar kembali."
Hingga pada akhirnya Mala bisa keluar dari goa tersebut dengan menyelamatkan adik kandungnya. Mereka pun segera pergi ke tempat persembunyian guru di mana di sana sudah menanti ibu ratu ular.
hianya dalam waktu sekejap saja mereka telah sampai di goa tempat persembunyian ibu ratu ular. Uci memeluk Ibu Ratu Ular begitu eratnya untuk melepaskan rasa rindunya, karena sekian tahun mereka tidak pernah bertemu bahkan Uci telah mengira ibunya telah meninggal dunia.
"Ibu, aku telah bersalah besar. Karena aku, mutiara ular saat ini berpindah tangan pada burung pemakan bangkai," ucap Uci sedih.
"Sudahlah, kamu tak usah bersedih hati. Ibu yakin Mala bisa merebut kembali mutiara ular yang saat ini ada pada burung pemakan bangkai," ucap Ibu ratu ular.
"Iya Uci, lagi pula apa yang kamu lakukan itu di atas kesadaranmu karena kamu telah dipengaruhi oleh sihir si burung pemakan bangkai. Hingga segala yang ia katakan dengan mudahnya kamu menurutinya."
Mala sama sekali tidak menyalahkan apa yang telah terjadi dengan berpindah tangannya mutiara ular ke tangan burung pemakan bangkai. Mala tidak menyalahkan adiknya tersebut.
Justru ia merasa bersyukur karena pada akhirnya ia berhasil menyelamatkan adiknya hingga bisa membawanya pulang dalam kondisi selamat tidak kurang suatu apapun.
Saat itu juga, Ibu ratu ular meminta Uci untuk sejenak istirahat. Sementara dirinya bercengkrama dengan Mala.
"Ibu, apakah aku bisa mendapatkan mutiara ular kembali?" tanya Mala ragu.
__ADS_1
"Ibu yakin kamu akan berhasil mendapatkannya kembali, karena bukan sekali dua kali mutiara ular hilang bukan? dulu pada saat ibu yang menjadi ratu ular juga sering mengalami hal seperti ini, di mana mutiara ular selalu saja hilang atau dicuri," ucap Ibu ratu ular mencoba menghiburnya.