Pembalasan Ratu Ular

Pembalasan Ratu Ular
Dalam Pengaruh Sihir Burung Pemakan Bangkai


__ADS_3

Mala kaget pada saat melihat kedatangan, Uci. Ia pikir adiknya tersebut telah binasa oleh anak sulung burung pemakan bangkai. Ia pun terus saja menatap ke arah, Uci.


"Mba Ruhi, kenapa diam saja? apa mba nggak suka aku datang kemari?" tanya Uci mengagetkan lamunan Ruhi.


"Bu-bukan begitu, Uci. Aku pikir waktu itu kamu telah....


"Mba, aku tidak binasa tetapi aku telah di selamatkan oleh seseorang dan orang itu saat ini telah menjadi kekasihku," ucap Uci begitu yakinnya.


Ruhi merasa bingung dengan semua yang telah terjadi. Ia juga bingung dengan yang terjadi pada adik kandungnya. Padahal waktu itu jelas sekali, jika Uci telah binasa dan berubah ke wujud aslinya yakni ular. Tapi bagaimana mungkin ia bisa datang lagi dengan kondisi sehat seperti tidak terjadi apapun.


Ruhi mencoba menepis rasa curiganya pada adiknya tersebut. Ia memeluk Uci melepas rasa rindunya.


"Mba, aku datang kemari untuk suatu hal. Aku ingin menagih janji mba yang dulu," ucap Uci.


Ruhi memicingkan alisnya pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh, Uci. Dia sama sekali lupa dengan janji yang pernah ia ucapkan dulu pada, Uci. Hingga ia pu bertanya pada Uci tentang janji yang ia katakan itu janji apa.


Sejenak Uci mengingatkan pada Ruhi, jika dulu dirinya telah berjanji akan memberikan tahta ratu ular padanya. Berikut dengan mutiara ularnya sekaligus.


Ruhi baru ingat akan hal itu, tetapi ia heran kenapa juga Uci tiba-tiba datang ingin meminta haknya tersebut. Padahal dulu ia tidak mau sama sekali pada saat dinm beri tahta ratu ular dengan alasan, ia tidak pantas untuk menjadi ratu ular.

__ADS_1


" Uci, kenapa sekarang kamu inginkan tahta ular? padahal dulu pada saat aku tawarkan padamu, kamu mengatakan tidak ingin dan tidak berminat untuk menjadi ratu ular," ucap Ruhi.


"Mba, dulu karena aku masih terlalu muda makanya aku tidak mau menerima tahta ular. Tetapi sekarang ini aku merasa telah dewasa dan telah berhak untuk mendapatkan tahta ular," ucap Uci.


"Baiklah adikku tersayang, aku akan memberikan tahta ular kepadamu."


Tanpa ada rasa curiga sama sekali, Ruhi pun mengajak Uci ke goa perbatasan antara alam manusia dengan negeri mimpi. Ruhi sempat di nasehati oleh Vista dan Vikri, tetapi ia sana sekali tak mau mendengarkan.


Bahkan ia merasa tersinggung pada perkataan yang di lontarkan oleh, Vista dan Vikri. Ia tahu jika sebelumnya Vikri juga menginginkan mutiara ular dan juga tahta ular.


Pada akhirnya, Vikri dan Vista tak dapat berkata lagi. Ia pun menuruti kemauan, Ruhi untuk menyetujui tahta ular di serahkan pada Uci.


"Heh, untuk apa kamu datang ke wilayah ular? apa kamu tidak takut jika seluruh anak buahku akan memangsa dirimu?" ucap Ruhi kesal.


"Mba Ruhi, aku yang telah memanggilnya datang kemari. Karena Adi adalah pacarku, ia yang telah menyelamatkan aku waktu itu sehingga tidak binasa," ucap Uci membuat Ruhi terperangah tidak percaya.


Ruhi sama sekali tidak menyangka jika adik yang ia sayangi malah berkhianat dan kini membela musuh besar bangsa ular. Ia benar-benar kecewa dengan adiknya. Hal ini sebenarnya sudah di ketahui oleh Vikri dan Vista. Tetapi pada saat mereka akan mencoba berkata, Ruhi sudah tak bisa mengontrol emosinya.


"Vista, apa yang aku takutkan kini telah terjadi," bisik Vikri pada Vista.

__ADS_1


"Benar juga, padahal kita sudah sadar akan kesalahan kita dan akan membantu Ruhi. Tapi dia malah marah-marah pada kita," bisik Vista.


Uci memaksa pada Ruhi untuk menyerahkan mutiara ular, tetapi ia tidak mau. Bahkan Adi melukai Vikri karena Ruhi berkeras hati tidak mau menyerahkan mutiara ular padanya.


"Cepat serahkan mutiara ular sekarang juga, atau kdnu ingin teman wanitamu ini juga aku lukai!" ancam Adi mencengkram leher Vista.


Hingga Ruhi pun tak tega, bagaimana pun Vista adalah sahabat baiknya. Walaupun ia pernah berbuat salah padanya, tetapi Ruhi tak ingin sahabatnya celaka. Hingga dengan terpaksa, Ruhi menyerahkan mutiara ular pada, Adi.


Dan saat itu juga Adi merangkul Uci membawanya pergi dari goa tersebut. Saat ini Uci terpengaruh oleh sihir yang di berikan oleh Adi. Hingga segala apapun yang di inginkan oleh Adi di turuti oleh Uci.


Seperginya Uci dan Adi, Ruhi benar-benar merasa bersalah pada Vikri dan Vista. Ia pun meminta maaf kepada kedua temannya itu.


"Aku minta maaf, aku tak percaya Dr apa yang telah kalian katakan. Maafkan aku yang telah marah-marah pada kalian. Tali aku rasa ada hal yang membuat Uci menuruti semua perintah Adi. Aku bisa melihat dari mata Uci. Aku yakin saat ini Uci sedang dalam bahaya."


Hingga saat itu juga, Ruhi berlari mengikuti kepergian Uci dan Adi. Bahkan ia tak menghiraukan larangan dari Vista dan Vikri. Uci tetap saja akan pergi ke negeri burung pemakan bangkai.


"Bagaimana ini, Vista? apakah kita akan mengikuti kepergian, Ruhi?'


"Tidak bisa Vikri, aku harus mengobati lukamu itu. Jika tidak bisa berbahaya."

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, Vista dan Vikri tidak mengikuti kepergian Ruhi.


__ADS_2