
Ruhi pun mengatakan pada Vista tentang apa yang guru mereka barusan katakan padanya.
"Bagaimana Ruhi, apa yang dikatakan oleh guru?" tanya Vista penasaran.
"Guru mengatakan kalau mutiara ular hilang dari tempatnya, dan dia mengharapkan aku segera mencarinya. Karena jika tidak lekas ketemu negeri ular akan terancam bahaya."
"Sementara tidak ada satupun yang tahu siapa pencurinya dan di mana saat ini mutiara ular berada. Guru meminta aku untuk menikahi seorang anak manusia yang benar-benar masih perjaka, dengan begitu penglihatanku bisa terbuka dan bisa mengetahui keberadaan mutiara ular."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ruhi sejenak Vista terkekeh.
"Aku sedang bicara serius kamu malah menanggapinya dengan candaan terkekeh seperti itu," ucap Ruhi memicingkan alisnya.
"Ya maaf karena lucu saja dengan permintaan guru. Kamu diminta menikah dengan seorang anak manusia yang benar-benar masih perjaka. Lantas bagaimana kamu bisa tahu jika manusia itu masih perjaka atau tidaknya? itu yang membuat aku tertawa," ucap Vista terkekeh.
"Barusan aku juga sempat seperti itu, tapi guru sudah mengatakan bagaimana aku bisa mengetahui seseorang itu masih perjaka atau tidaknya," ucap Ruhi.
"Kalau boleh aku tahu, bagaimana cara kamu mengetahui akan hal itu?" tanya Vista.
"Menurut penuturan guru, kalau manusia itu sudah tidak perjaka dia akan meninggal dunia saat itu juga pada saat menikah denganku," ucap Ruhi.
"Tunggu-tunggu-tunggu-tunggu, maksudnya meninggal itu setelah kalian sudah melakukan hubungan atau sebelumnya?" tanya Vista.
"Entahlah, aku juga tidak tahu persis karena aku lupa bertanya pada guru. Apa lagi tadi aku juga sempat terkekeh terus," ucap Ruhi.
"Hem, lantas kamu akan menikah dengan siapa?" tanya Vista memicingkan alisnya.
"Radit, anak sulung dari Nyonya Ani. Karena kemarin dia pernah mengajakku menikah," ucap Ruhi pasti.
__ADS_1
*****"**"*****
Malam menjelang, kebetulan sekali Radit mengajak Mala untuk berbicara sejenak. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mala untuk berbicara tentang pernikahan.
"Mala, aku ingin berbicara sejenak denganmu tidak apa-apa bukan? aku ingin menanyakan kembali tentang tawaranku pada saat pagi tadi. Apakah kamu sudah mengambil sebuah keputusan yang tepat?" tanya Radit penuh harap.
"Den Radit, sejujurnya saya sudah mempunyai suatu jawaban dari tadi pagi. Hanya saja saya sengaja tidak mengatakannya langsung pada, Aden," ucap Mala.
"Memangnya kenapa kamu tidak langsung mengatakannya? seharusnya kamu katakan saja, baik buruknya keputusanmu itu aku akan terima dengan lapang dada," ucap Radit.
"Den Radit, misalkan saya menerima Aden apakah orang tua Aden akan memberikan restunya pada kita? karena saya menyadari saya hanya seorang asisten rumah tangga yang sudah tidak punya orang tua. Secara kita ini bagaikan langit dan bumi," ucap Mala.
"Kamu tidak usah memikirkan tentang keluargaku, orang tuaku. Aku yakin mereka tidak akan menentang hubungan kita. Jika memang kamu bersedia menikah denganku aku ingin kita menikah secepatnya, bagaimana?" tanya Radit.
"Baiklah Den, saya bersedia menikah dengan Aden. Tapi apakah Aden benar-benar tidak akan menyesal memilih saya untuk menjadi istri Aden?" tanya Mala untuk memastikan.
"Ya sudah kalau begitu, saya terima Aden menjadi calon suami saya. Dan terserah Aden saja kapan kita akan menikah, saya akan selalu siap sedia," ucap Mala.
"Baiklah, Mala. Kamu tak usah memikirkan segalanya, karena aku yang akan mengatur semuanya. Kamu hanya tinggal menyiapkan hati dan pikiranmu untuk bisa fokus kelak di pernikahan kita," ucap Radit.
"Den Radit, jika bisa kita menikah tak usah mewah-mewah yang penting kita sah saja bagaimana? jadi kita bisa menikah secepatnya," saran Mala.
Mala berkata seperti itu karena dia tak ingin menunda pernikahannya dengan Radit. Ia ingat akan misinya untuk mencari mutiara ular yang hilang, karena waktunya sangat terbatas tidak bisa berlama-lama lagi.
Radit sangat antusias mendengar apa yang disarankan oleh Mala, hingga pada malam itu juga ia segera menghubungi anak buahnya untuk mengatur acara pernikahan yang akan diselenggarakan besok pagi.
"Kamu tenang saja, Mala. Aku akan menuruti kemauanmu, besok pagi kita akan menikah. Untuk acara resepsi lain waktu saja, yang terpenting kita sah saja dulu," ucap Radit.
__ADS_1
Hingga tak terasa pagi menjelang telah datang, pernikahan pun segera diselenggarakan. Orang tua dan seluruh keluarga Radit sempat terhenyak kaget, karena mereka sama sekali tidak tahu akan adanya rencana pernikahan Radit.
"Radit, kenapa kamu mendadak sekali menikah dan tidak membicarakannya terlebih dahulu kepada Mamah dan Papah?" tanya Papah Rasyid.
"Iya, Radit. Kamu juga menikah dengan Mala apa kamu tidak salah?" ucap Mamah Ani.
"Iya, Mas Radit, Mala itu bukan manusia tetapi dia adalah siluman ular. Aku khawatir kelak Mas Radit akan menjadi mangsanya," ucap Anggit.
"Sudahlah kalian semua tak usah mengkhawatirkan diriku. Aku tahu, dan aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa memilih mana yang terbaik buat kehidupanku dan buat masa depanku," ucap Radit.
Setelah mendengar perkataan Radit, orang tuanya hanya diam saja mereka pun tidak melarangnya untuk menikah dengan, Mala. Hanya Anggit yang terus saja berkata hingga membuat Radit marah dan tak mengizinkan Anggit untuk hadir di acara pernikahan pagi ini.
Pagi itu juga Radit meniksg dengan Mala tanpa mengadakan acara resepsi sama sekali. Acara pernikahan juga hanya di hadiri oleh keluarga.
Satu jam berlalu, kini Mala sudah resmi menjadi menantu di keluarga besar Radit. Akan tetapi ada satu orang yang masih tidak terima dengan pernikahan yang telah terjadi antara Radot dengan Mala yakni Anggit.
"Bagaimana bisa, Mas Radit menikahi Mala? apa otaknya sudah tidak berfungsi? atau karena terpengaruh oleh, Mala? ya, aku yakin pasti Mas Radit menikahi Mala karena pengaruh guna-guna dari Mala. Secara dia itu kan siluman ular. Tetapi aku tidak akan membiarkan pernikahan itu berlangsung lama. Aku akan mencari cara untuk bisa membuktikan pada Mas Radit, bahwa Mala adalah siluman ular. Dengan begitu Mas Radit akan menjauhi, Mala," batin Anggit.
Dia sedang berpikir keras untuk bisa menyingkirkan Mala dari rumah itu.
Saat ini pasangan pengantin sudah berbahagia. Bahkan orang tua Radit sudah bisa menerima Mala menjadi menantu mereka berdua.
"Mala, kamu sudah sah menjadi menantu kamu. Jadi kamu tak perlu lagi menjadi asisten rumah tangga di rumah ini," ucap Mamah Ani.
"Nggak apa-apa, Nyonya. Saya sudah terbiasa kok dengan pekerjaan rumah," ucap Mala.
"Astaga, Mala. Kamu tidak boleh memanggilku nyonya lagi. Mulai sekarang dan seterusnya panggil kami, dengan mamah dan papah,' ucap Mamah Ani.
__ADS_1