
Kedua orang tua Widia pun seakan pasrah jika suatu saat sesuatu yang buruk terjadi pada Widia.Tapi mereka tetap berharap Widia membuka matanya dari tidur panjangnya.
Ajeng pun datang bersama Clara yaitu adik Damian.
"Bagaimana??apakah masih belum ada perkembangan dari kondisi Widia?" tanya Ajeng pada Damian.
Damian hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menggenggam tangan Widia.
"Lalu,sampai kapan kita harus menunggu Widia dirawat disini??sementara kita tidak tahu kapan Widia akan terbangun dari komanya." tanya Ajeng.
"Apa maksud ibu??" tanya Damian sesaat menoleh kearah ibunya.
__ADS_1
"Maksud ibu tuh,lebih baik kak Widia dirawat di rumah saja kak..melihat kondisi kak Widia yang kita tidak tahu kapan akan sadar,tapi tagihan rumah sakit jalan terus itu akan berat untuk kakak membayarnya."sahut Clara membantu ibunya menjelaskan.
"Dirawat di rumah??" tanya Damian lagi.
"Iya kak..hal ini sebelumnya sudah kami bicarakan kak." jawab Clara lagi.
"Kenapa kalian harus membicarakan hal ini tanpa sepengetahuan ku??apakah kalian pikir merawatnya dirumah akan membuat keadaan Widia membaik??" tanya Damian ingin protes.
"Bu ..Widia sedang koma bukan tertidur sesaat..Ibu tahu kan bagaimana pasien yang harus mengalami koma??mereka harus mendapatkan perhatian khusus. bagaimana kita akan merawatnya di rumah jika suatu saat kita tidak tahu keadaannya akan membaik atau justru memburuk." sahut Damian yang langsung protes dengan saran ibunya.
"Tapi pikirkan juga keuangan mu..kau tidak bisa terus-terusan menggunakan uangmu hanya untuk biaya perawatan Widia..Ibu sangat menentangnya..Kenapa kau harus menikahi wanita yang pada akhirnya hanya akan menjadi beban untuk hidupmu.." ujar Ajeng yang mulai berdebat dengan Damian.
__ADS_1
"Cukup bu..Tega sekali ibu bilang begitu..Lihat Widia saat ini bu,dia sedang berjuang untuk hidup..Kenapa ibu bisa-bisanya cuma memikirkan uang..Ibu tidak perlu memikirkan keuangan ku..Aku mencari uang untuk Widia,Widia adalah istriku..tidak perduli seberapa banyak aku harus menghabiskannya..Lebih baik ibu tidak usah mencampuri urusan ku.."
Ajeng pun seketika menatap tajam kearah Damian.Ia begitu tidak terima dengan semua ucapan Damian,yang malah lebih memihak Widia.
"Clara bawa ibu pulang..jangan datang untuk sementara waktu." ucap Damian menyuruh Clara membawa Ajeng ibunya untuk pergi.
"Iya kak,ayo bu kita pulang saja." jawab Clara mengangguk menuruti perintah Damian.
"Ingat Damian,jangan menghabiskan waktu mu hanya untuk wanita yang cuma akan jadi beban hidupmu..tidak ada gunanya kau mempertahankan wanita yang tidak tahu akan masih hidup atau tidak." ucap Ajeng memberi peringatan pada Damian dan langsung pergi.
Clara pun dengan cepat mengikuti Ajeng dari belakang.Sedangkan Damian hanya menarik nafas panjangnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.Ia pun sesaat memijit dahinya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia pun mulai merasa lelah menghadapi sikap ibunya.Sejak kejadian yang menimpa Widia.Dia tidak mengira jika sang ibu bisa berpikir sejauh itu tentang Widia.Yang sebenarnya sudah banyak berbuat baik pada Ajeng.