
Riza mengangkat cangkir kopi yang ada dimejanya lalu Memperhatikannya seperti sedang meneliti sesuatu. Saat Riza sedang memperhatikan cangkir kopi itu, Riza menatap ke luar ruangan, tepat di meja depan pintu ruang kerjanya nampak seorang gadis berjilbab putih tulang sedang tersenyum kearahnya. Mata mereka saling memandang meskipun jarak mereka tidak begitu dekat dan terhalang oleh pintu tapi senyum itu tampak jelas bagi Riza.
Riza bergidig ngeri
"Apa mungkin Lulu yang chat aku itu, kan dia yang suka menyediakan kopi di pagi hari tanpa aku minta. Hmmm..tapi darimana dia tahu kalau aku suka bintang?" Riza mencoba menerka-nerka apa yang dialamainya.
Riza memalingkan mukanya dari Lulu dan mengalihkannya ke laptop di depannya. Cangkir kopinya Dia kembalikan ke tempat asalnya, meskipun dalam hatinya masih tetap bertanya-tanya dan sedikit menaruh curiga pada Lulu yang tiba-tiba di pilih ayahnya jadi sekertaris pribadinya.
🍃🍃🍃
Sementara di ruangan lain Lili menatap bos nya penuh makna, Dia tersenyum saat mata mereka berpapasan secara tidak sengaja. Hatinya berbunga-bunga dan serasa ingin berteriak menyatakan kalau bapak Riza itu sangat ganteng dan membuat kelepek-klepek.
Tugas baru sebagai sekertaris Riza membuatnya terlalu bersemangat, sehingga tugas Pak Asum pun diambilnya. Membuatkan kopi setiap pagi dan menghidangkannya dimeja kerja Riza. Parahnya kopi itu terhidang sebelum di minta, hal itu membuat Riza jadi bertanya-tanya siapa dan kenapa itu dilakukan.
Sedangkan Pak Asum sendiri tidak tahu menahu tentang kebiasaan baru Lili membuatkan kopi untuk Riza. Perbuatannya itu benar-benar menjadi rahasia dirinya. Anehnya Lili berharap kalau Riza tahu bahwa dirinyalah yang selalu menyediakan kopi untuknya.
Lili Tercenung
"Andai saja Pak Riza tahu, kalau akulah yang membuatkan kopi kesukaannya setiap pagi, tentu dia akan senang dan datang padaku untuk berterimakasih" Lili berandai-andai sambil tersenyum-senyum sendiri.
Lili adalah karyawan magang yang naik level atau naik jabatan karena memang dilihat dari loyalitasnya dalam bekerja. Lili selalu melakukan yang terbaik untuk kesusksesan kantor pak Rizal. Sehingga Pak Rizla memilihnya untuk menjadi Sekertaris anaknya.
Kemampuannya yang menjadikan dia bisa naik tingkat, selain Lili ahli dalam bidang informasion technology (IT), Dia juga punya kelebihan lain yaitu bisa bahasa Ingggris. Satu lagi nilai plusnya yaitu Dia berjilbab. Itulah sebagian alasan kenapa Rizal memilihnya menjadi sekertaris untuk Riza.
🍃🍃🍃
Riza kembali menerima chat dari no misterius itu
"Assamu'alaikum Bintang"
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, maaf kamu sebenarnya siapa?" Tanya Riza penasaran
__ADS_1
"Wah, tidak seru dong kalau aku kasih tahu siapa aku sekarang" balasan chat yang semakin membuat Riza penasaran
Riza mengernyitkan keningnya, mulai malas meladeni, meskipun sejujurnya semakin penasaran. Kali ini Riza memilih tidak membalasnya, Riza membiarkannya. Riza memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, ada banyak informasi yang harus Dia sebar lewat aplikasi rangakainnya.
Cweet..cweet..cweet, suara burung malah kembali bercicit menggetarkan hp dalam laci meja kerjanya. Karena berisik akhirnya Riza mengambilnya dan mematikannya tanpa membaca isi chat yang masuk.
Tok..tok..tok suara pintu terketuk dari luar, Riza pun menoleh ke arahnya
"iya, silahkan masuk" ucap Riza sisngkat
Pintu pun terbuka, nampaklah sosok Lili melangkah menuju arah Riza
"Maaf pak, saya mau memberikan berkas-berkas ini pada bapak, maaf kalau saya mengganggu bapak" lirih Lili sambil menunduk
Riza mengangkat kepalanya sebentar
"Oh ya, hmm siapa namamu?" Ucap Riza, pura-pura lupa nama wanita didepannya
"Saya Lili pak, sekertaris baru bapak" jawab Lili masih dalam keadaan menunduk
Lili sontak mengangkat kepalanya sejenak
"bo..bo..boleh pak, boleh banget" ungkap Lili dengan gugup mengatakannya sambil kembali menundukan kepalanya.
"Hmm..bukan maksud saya lancang Li, maksud saya supaya saya mudah untuk menghubungi kamu, jika ada perlu soal urusan kantor" Riza pun menjawab cepat dengan alasan yang paling masuk akal supaya Lili tidak salah faham.
"Iya pak, saya faham, baik pak apa masih ada yang bisa saya bantu?" ucap Lili sambil berusaha menyembunyikan rasa malunya, tapi pipi nya yang berubah menjadi merah merona tidak bisa diajak kompromi.
Riza tersenyum pucat melihat wanita didepannya "Tidak, silahkan kamu boleh kembali ke ruanganmu" ucap Riza singkat.
Lili pun kembali keruangannya dengan perasaan yang tidak biasanya, dia merasa ada kupu-kupu yang sedang berterbangan disekelilingnya. Lili merasa bahagia karena Riza meminta no hp nya. Meskipun alasan Riza meminta no hp nya untuk urusan kerja. Alasan Riza memang terkesan klasik tapi bagi Lili itu adalah sebuah keberuntungan.
__ADS_1
Berbeda dengan Riza, Riza malah merasa konyol dengan ide tiba-tiba semacam itu.
"Aduh payahnya aku, ngapain coba pake minta no hp Lili segala, kalau Lili salah faham kan jadi ribet urusannya, Ya Allah tolong aku, aku tidak mau berurusan dengan wanita dulu, aku belum siap, mereka itu ribet" Riza mengadu penuh makna tersembunyi.
Riza mengambil hp nya dan membuka chat di whatshapnya, lalu mencocokkan no Lili dengan nomor yang menchat nya
"Coba, aku cocokkan nomornya, hmm..sama ternyata, oh jadi Lili yang selama ini meneror ku lewat chat di whatshapp, tapi buat apa?" ucap Riza pelan berbisik dalam ruangan
Riza kembali melihatnya dengan seksama dan mencocokkan kembali
"Eh, tunggu-tunggu, aku salah, ternyata nomornya tidak sama, tapi hampir sama, hanya beda satu nomor saja ditengahnya. Ko bisa ya ada nomor hp yang sangat serupa semacam ini, apa mereka saudaraan kali ya?" ungkap Riza mencoba menyelidik kedua nomor hp dihadapannya.
Rasa penasaran Riza ternyata membuktikan kalau nomor hp yang disangkanya sama itu bukanlah orang yang menerornya beberapa hari terakhir. Riza merasa bersalah karena telah mencurigai Lili yang tidak tahu menahu soal chating di hp nya.
Riza kembali menyalakan hp nya Treet..layar hp yang disuntuh ibu jarinya pun menyala, langsung aplikasi Whatshapp di tekannya dan Riza mencari-cari chating misterius itu. Setelah terlihat, Riza langsung membaca chat terakhir darinya, Riza baru sadar ada chat yang belum terbaca.
"Za, aku adalah bulan yang setia menemani Bintang tatkala malam datang
Aku adalah cahaya malam yang selalu berbagi dengan binar cahayamu wahai Bintang
Aku adalah luka yang sempat kau tutupi dengan ketulusanmu
Aku adalah angin yang mengiringi kepergian tangismu
Aku adalah aliran air yang datang untuk menjernihkan masalalumu
Aku adalah seutas tali yang menguatkan asa menuju cita
Aku adalah segenggam pasir yang membangun ribuan candi
Aku adalah tinta kering yang mampu mengukir aksara dalam jiwa"
__ADS_1
Riza membacanya penuh antusias namun apa yang dibacanya membingungkan, membuatnya mengerutkan kening.
(😊🌻🌻 Terimakasih sudah membaca, like & comen mu sangat berarti, krisan membangunnya akau tunggu 🌻🌻😊)