
Riza sedikit tidak terima dengan ocehan adiknya, dia mencoba membela diri dengan berkilah bahwa Riza hanya menerima tawaran Firas untuk berkenalan dengan kakaknya.
Mendengar pembelaan Riza, Rei pun membalas dengan kembali bercanda.
"Iya kak, aku juga bercanda kali, lagian yah kalau pun kak Riza mau nembak kakak Firas juga gak apa-apa" Lagi-lagi Rei mencandai kakaknya.
"Haddeh, matilah nanti anak orang kalau kakak tembak bha..bha..bha.." jawab Riza tak mau kalah
Riza dan penghuni pondok itu termasuk ketiga teman Rei tertawa menikmati suasana sore karena ulah candaan Riza dan Rei. Riza dan Rei memang sama-sama suka bercanda, hanya saja kalau Riza lebih pandai memilih waktu untuk bercanda.
Kesehariannya Riza lebih terkesan berwibawa, cool, ya Riza seorang laki-laki yang kalem tidak banyak tingkah. Tidak diragukan lagi telah banyak wanita yang terpikat oleh Riza, namun Riza tidak demikian.
Riza bukan tipe laki-laki penebar pesona, tapi Riza banyak diidamkan oleh kaum hawa. Meskipun Riza adalah seorang lelaki yang berwibawa namun tetap saja dia pun ternyata suka bercanda seperti yang dilakukannya saat berkumpul dengan teman-teman dekatnya dan juga keluarganya seperti saat ini.
Sambil menyeruput teh hangat Riza mengalihkan candaanya dengan melontarkan pertanyaan pada adiknya.
"Rei, kamu kan tuan rumah nih, hmm btw nanti kita mau makan malam apa atau di mana gitu ynag lebih berkesan?" Tanya Reiza pada Rei.
Rei mengangguk- nganggukan kepalanya, mencoba memikirkan jawaban pertanyaan dari kakaknya. Tidak lama setelah itu Rei mengtakan idenya.
"Aha..aku tahu kak, di Grafika Cikole ini kan dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk ruamah makan. Nanti kita coba makan malam di salah satu rumah makan yang disediakan di sini, hmmm..kalau gak salah nama retorannya itu saung kuring kak." Ungkap Rei dengan antusias
__ADS_1
"Wah keren, keren boleh juga tuh idemu dek, nanti kita coba yah makan malam di sana" ungkap Riza tak kalah antusias sama Rei.
Abror dan Hafidz juga ikut berpartifasi, menyumbangkan idenya,
"Hmm..boleh lah sesekali kita makan-makanan khas sunda di tempat yang cukup elit ini he..he..asal jangan sering-sering aja sih. Kalau keseringan kita bisa bobol bro he..he.." ungkap Hafidz sambil cengengesan tulus dari hatinya yang terdalam.
Bagi mahasiswa rantau seperti Hafidz, Arzaq dan juga Abror, makan di restoran itu sudah termasuk elit, karena selama ini boro-boro mereka mikirin buat liburan ke puncak untuk makan sehari-hari saja masih suka pengiritan.
Padahal jika mereka mau tentu mereka bisa minta uang tambahan pada keluarganya, tapi keputusan mereka untuk merantau itu adalah pilihan mereka. Jadi mereka berpikir bahwa mereka harus bertanggung jawab untuk bisa bertahan di tanah rantau. Sebisa mungkin tidak menambah beban pada keluarganya dengan tidak meminta tambahan uang bulanan.
Riza mengerti dengan apa yang diungkapkan oleh Hafidz, Riza tersenyum dan berusaha membuat teman-teman Rei bahagia.
"Oh iya, untuk liburan ini semuanya aku yang traktir, aku lagi dapat tender lumayan besar jadi anggaplah ini sebagai ucapan rasa syukurku atas kenikmatan yang selalu Allah berikan padaku dan juga keluargaku." Ungkap Riza sambil menepuk-nepuk bahu Hafidz dengan pelan.
"Seriuslah, bahkan kalau kalian mau mencoba semua wahana yang ada di sini pun boleh banget, ya mumpung kita lagi ada di sini, iya gak" ungkap Riza meyakinkan.
" Bener banget kak, kakakku ini memang the best lah pokoknya. Gak sia-sia aku ngajak kaka ke puncak" ungkap Rei sambil cengengesan memperlihatkan kebahagiaannya.
☘️☘️☘️
Di pondok yang lain setelah mereka selsai mandi Raisya, Indah dan juga kedua temannya tengah bersiap-siap untuk mengajak jalan-jalan pada penghuni pondok kakaknya.
__ADS_1
Raisya mengenakan gamis coklat, jilbab hitam dan di lengkapi dengan jaket yang cukup tebal tidak lupa syal yang dia sematkan di lehernya. Semakin sore cuaca di puncak Grafika Cikole semakin dingin.
Pantas saja jika Raisya diingatkan oleh Rei, untuk membawa jaket dan syal.
"hmm..untunglah aku nurut sama Kak rei untuk membawa jaket dan syal ini, di sini ternyata benar-benar sangat dingin" gumam Raisya sambil membemarkan posisi syalnya.
"iya Sya di puncak memang cuacanya sangat dingin, makanya Kak Indah juga bawa jaket, meskipun Kakak asli orang Bandung tapi tetap saja di sini berbeda, levih dingin.Kalau saja kakak gak bawa haket, hadduh tamatlah sudah, alamat kakak bisa membeku di sini" ungkap Indah membenarkan apa yang Raisya ucapkan.
"iya ya Kak, kalau kita gak pakai jaket bisa-bisa Raisya juga beku, ih ngeri" ungkap Raisya.
Setelah semua sudah siap Raisya pun mengajak Indah dan temannya untuk ke pondok tempat menginap kakaknya.
"Kak semua sudah siap kan, hmm gimana kalau sekarang kita ke pondok kak Riza, aku mau ngajak jalan-jalan kelilinh di sekitar pondok ah" ungkap Raisya dengan semangat.
"sudah nih, yuk sekarang saja takut nanti keburu sore banget, kalau sudah sore banget, nanti pemandangannya sudah tidak terlihat lagi, karen tertutup kabut.
Mereka oun bergegas menuju pondok Riza yang terletak tidak jauh dari pondok mereka. hanya terhalang oleh beberapa pohon pinus, jaraknya mungkin hanya sekitar dua meter.
Sudah dulu ya, maaf kemarin gak up, lagi sibuk soalnya, hmm..maaf juga belum bisa mampir ke cerita kalian kemarin dan terimakasih bagi teman-teman yang sudah setia like dan comen di ceritaku.
jangan sungkan bagi kalian untuk kasih like dan comen diceritaku yah hehe.. karena kalau kalian datang mampir, aku juga pasti balik mampir ke ceritanya kalian.
__ADS_1
salam semangat selalu dariku💪💪💪
(😊🌻🌻🌻Terimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua 🌻🌻🌻😊)