Pemuda Bermata Elang

Pemuda Bermata Elang
Dasi Biru


__ADS_3

Di Kamar yang menjadi bagian privasinya, Wanita itu setia menunggu duduk di shofa, sambil minum teh hangat buatan Bi Wati, wanita paruh baya yang setia melayani keluarganya sejak Dia masih kecil.


Miau..miau..miau..ponselnya berbunyi, wanita itu langsung meraihnya dan membukanya treng..bunyi layar ponselnya terbuaka saat Dia mengusap layar ponsel dengan ibu jarjnya. Dia langsung mengecek chat masuk di whatsahapp nya, dan dia tersenyum membaca isi chat di hadapannya.


Dia langsung membalasnya dengan cepat


"Masa sich kamu sudah tahu, coba tebak siapa aku, jangan-jangan kamu hanya pura-pura tahu saja supaya aku berhenti menghubungimu, iya kan?" Balasnya mencoba meyakinkan Riza yang masih belum menyebut namanya.


"Aku tahu Za, kamu pasti tidak akan melupakan perkara dasi biru kesayanganmu itu, karena itu membuatmu malu saat ketahuan teman-teman komunitas kita kalau kamu tidak bisa berenang. Dan karena itu pula kamu sempat ngambek berhari-hari padaku" gumamnya pelan sambil menatap kaca jendela yang terbuka hingga matanya tertuju kesebuah pekarangan rumah yang teduh.


"Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan mu Za, aku ingin mengenang masa lalu yang konyol kala bersamamu ha..ha..ha.."gumamnya sambil tertawa


Wanita itu bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah jendela. Dia berdiri di depan jendela dan menikmati udara di luar yang terasa teduh setelah seharian matahari menyinarinya. Matahari kini mulai beranjak pergi menuju peraduannya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Riza bersiap untuk pulang, namun dia membalas chat yang masuk di ponselnya terlebih dahulu. Riza tersenyum, tangan nya mulai lihai mengetikan kata di ponselnya


"Bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu Kinan, kamu kan yang iseng menyodorkan kembang api itu hingga membakar bawah dasi biru kesayanganku itu. Karena aku kaget, aku lepas kontrol dan lari begitu saja menuju kolam di belakang panti asuhan senyum itu. Aku lupa kalau aku tidak bisa berenang, akhirnya aku berteriak minta tolong, untunglah teman-teman komunitas kita segera menolongku. Disitulah aku merasa malu yang sebenar-benarnya, karena kejadian itu teman-teman jadi tahu kalau aku tidak bisa berenang. Mereka suka meledekku dengan sebutan GGC alias ganteng-ganteng cemen. Mainlah ke rumah biar kita bisa nostalgia bha..ha..ha.." balas Riza panjang lebar mengenang masalalunya.


Setelah Riza membalas chat nya, Riza tersenyum kembali


"Jadi kamu Kinan yang punya no misterius itu bha..ha..ha..aku pikir siapa, aku jadi rindu saat-saat kita bersama, kamu sebagai teman sekaligus keluarga yang selalu mensuport ku untuk melakukan hal-hal yang positif. Sudah lama kita tidak bertemu, sekalinya nongol eh pake no baru, dasar gigi kelinci" gumam Riza bicara sendiri.


Riza merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang. Sempat terpikir tentang Lili yang beberapa hari ini begitu perhatian pada Riza. Riza merinding mengingatnya, Riza takut kalau dia jatuh hati pada Lili, terlebih Lili sekarang adalah sekertarisnya dan pasti akan sering bertemu dengannya.


Wajar jika Lili banyak yang suka karena Lili berwajah cantik, mata bulat dan bulu mata yang lentik menggambarkan wanita aceh yang menawan. Selain itu penampilan Lili yang modis, meskipun rambutnya dibalut jilbab tapi justru karena itu Lili semakin terlihat anggun.

__ADS_1


Riza kelaur dari ruangannya dan secara otomatis dia berpapasan dengan Lili. Lili masih duduk di meja kerjanya, saat melihat bos nya keluar dari ruangannya, Lili langsung berdiri dan menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat


"Sore pak" ucap Lili singkat


Riza tersenyum


"Sore juga Li, Saya pulang duluan ya Li, Assalamu'alaikum" balas Riza sambil keluar dari ruangan itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Lili


Lilipun kembali duduk, dan merapikan meja kerjanya bersiap untuk pulang juga.


Ruangan kerja Riza dan Lili itu memang menyatu seolah mereka bekerja ada dalam ruangan yang sama. Padahal mereka bekerja diruangan yang berbeda. Riza bekerja di ruangan utama sementara Lili bekerja di ruangan yang tepat didepan ruangan Riza. Jadi otomatis ketika Riza mau pulang, Riza harus melewati ruangan Lili terlebih dahulu sebelum arah menuju pintu keluar atau pintu utama. Kalau diibaratkan ruangan kerja mereka itu seperti satu rumah yang terdiri dari dua ruangan, dan terdiri dari dua pintu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Riza pulang beriringan dengan ayahnya, karena ayahnya juga kebetulan pulang lebih awal. Riza di belakang mobil ayahnya.


Mereka masuk dengan mengucap salam


"Assalamu'alaikum" ucap keduanya


"Wa'alikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap seseorang dibalik pintu, cklek..pintu pun dibukanya.


"Eh kamu, Raisya, Bunda mana?" Tanya Rizal pada anak bungsunya yang baru saja membukakan pintu untuk nya


Raisya menyalami ayahnya dan tersenyum

__ADS_1


"Bunda lagi masak yah, ayah kan tahu bunda meskioun sibuk di butik tapi masih suka menyempatkan masak untuk kita" jawab Raisya dengan nada pelan sebagai tanda hormat pada ayahnya.


Rizal dan Riza masuk rumah, Duduk sebentar di shofa untuk merengangkan otot-otot mereka.


"Raisya tolong ambilkan teh manis yah buat ayah sama kakakmu ini" pinta Rizal pada anaknya


"siap yah, aku akan segera datang" jawab Raisya sambil berlalu menuju dapur


Tidak lama kemudian Raisya sudah datang membawakan 2 cangkir teh manis di nampan yang ada ditangannya. Raisya meletakan teh nya di atas meja.


"Taraaa..cepet kan yah" ungkap Raisya


"Iya, kok bisa secepat itu?" Ungkap ayahnya


"Ah, ayah kaya gak tahu Raisya saja, paling juga teh nya sudah disediain bunda di dapur, iya kan sya bunda yang buat?" Selidik Riza mencandai adiknya


"He..he..ah kakak suka bener deh" ungkap Riasya sambil cengengesan.


Srlup..srlup..srlup..keduanya menyeruput teh nya bersamaan. Setelah tehnya habis, Riza melirik ke arah jam dinding yang terletak tepat di dinding di hadapannya, Riza melihat sudah pukul 17.15. Riza pamit pada ayahnya


"Yah, aku ke kamar dulu yah, aku mau mandi dan bersiap-siap karena nanti magrib aku mau ngajar anak-anak nagaji" ungkap Riza pada ayahnya


"oh iya Raisya kalau kamu mau ikut boleh, sekalian kamu belajar buat nanti pas kamu pengabdian " ajak Riza pada adiknya


"iya Raisya, kalau kamu mau ikut, gak apa-apa ikut saja" ungkap ayahnya mengizinkan.


"He..he..gak ah yah, jangan malam ini, malam besok saja yah, malam ini Raisya banyak PR" ungkap Raisya menolak ajakan Riza

__ADS_1


ayahnya hanya membalas dengan menganggkat kedua bahunya sambil tersenyum, sementara Riza membalasnya dengan membelalakan kedua matanya menandakan tidak percaya kalau adiknya mau memgerjakan PR. Riza berlalu menuju kamarnya. Seperti biasa Riza menyimpan tas laptopnya di atas meja dan Riza langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


(🌻🌻😊Terimakasih sudah membaca karyaku, like dan comennya aku tunggu ya, krisan membangunnya juga boleh😊🌻🌻)


__ADS_2