
Hari sudah berganti baju, kini dia berjubah hitam, berhiaskan lampu-lampu di setiap teras rumah. Gema adzan magrib sudah terlewat, sebagian jama'ah Mesjid sudah kembali menuju rumah-ruamah mereka.
"Yah, ayah..sepertinya kita harus membawa Rois rumah sakit sekarang juga yah"
Khoirunnisa berteriak memamggil suaminya dan mengabaikan Riza yang sedari tadi di sampingnya. Riza mematung, memikirkan tingkah Bundanya, Riza segera tersadar dan mengusap-ngusap pundak bundanya dengan pelan
"Bund, sabar..insyaallah Rois akan baik-baik saja" ungkap Riza berusaha untuk menenangkan Bundanya yang mulai kembali menangis.
Sebenarnya Riza pun khawatir dengan kondisi Rois sekarang, dilihatnya Rois yang terbujur kaku, mukanya pucat pasi, ada rasa ketakutan yang tiba-tiba menjalar dipikiran Riza. Namun Riza segera menepisnya, dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak tentang adiknya. Riza tidak ingin terlihat bersedih di hadapan bundanya. Riza harus berusaha tegar meskipun apa yang ada dipikirannya membuatnya hampir ingin menjerit.
Sejurus kemudian Rizal datang
"Ada apa bund, kenapa bunda berteriak seperti itu?" Tanya Rizal pada istrinya yang sedang menangis tertahan
"Rois yah, Rois tidak bangun-bangun, bunda khawatir, bagaimana kalau kita bawa saja Rois ke rumah sakit sekarang juga yah" ungkap Khoirunnisa sambil terisak
"Iya bund, ayo kita bawa, Za kamu di rumah saja jagain adik kamu Raisya, semoga Raisya tetap sehat" ungkap Rizal pada anak sulungnya
"Baik yah, hati-hati di jalan, semoga semuanya baik-baik saja, semoga Rois segera sadar dan bisa sehat kembali" jawab Riza
Sejurus kemudian Rizal dan khoirunnisa membawa Rois ke Rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Khoirunnisa terus mengusap-ngusap kepala Rois. Sementara Rizal berusaha untuk fokus menyetir.
☘️☘️☘️
Di Rumah sakit, di ruang UGD Rois sudah mulai di tangani dokter, namun Rois belum juga siuman. Rizal mengurus surat-suarat yang harus dia isi terkait rawat inap, setelah selsai lalu Rois dipindahkan oleh perawat ke ruangan VIP. Rizal dan Khoirunnisa mengikuti perawat dari belakang.
Sesampainya di kamar pasien, Rois di pindahkan ke kasur yang sudah di sediakan di kamar itu. Lalu perawat pun keluar
__ADS_1
"Pak, buk saya permisi dulu, sebentar lagi dokter akan ke sini untuk memeriksa kembali anak ibu, insyaallah anak ibu akan baik-baik saja jadi ibu harap bersabar" ungkap perawat sebelum dia keluar, seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Khoirunnisa.
"Baik suster, terimakasih" jawab Rizal dengan singkat
Belum sepuluh menit suster itu pergi, benar saja tibalah seorang dokter laki-laki masuk untuk memeriksa kembali Rois. Dokter muda itu tersenyum pada Rizal dan Khoirunnisa
"permisi Bu, Pak, saya mau memeriksa anak ibu dan bapak" ungkap dokter itu dengan ramah
"iya dok, tolong bantu anak saya supaya segera bisa siuman dari pingsannya" ucap Khoirunnisa dengan lirih
Dokter muda kira-kira usianya 29 tahun, Dia menempelkan stetoskop yang ada di tangannya pada bagian dada Rois, dokter mengeceknya beberapa kali, kemudian membuka mata Rois lalu memeriksa detak ditangan Rois.
Sesaat setelah Dokter itu selsai memeriksa Rois, dia berbalik badan ke hadapan khoirunnisa
"Ibu tenang saja, anak ibu tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan siuman. em..ibu tunggu saja yah dan kalau anak Ibu siuman tolong ibu segera hubungi dokter atau perawat di sini ya bu atau ibu bisa memencet tombol di atas ranjang pasien, nanti pasti perawat akan datang ke sini" ungkap dokter sembari menunjukan tombol mana yang harus dipencet saat membutuhkan perawat atau dokter.
☘️☘️☘️
Cklek..pintu kamar Raisya di buka oleh Riza, pelan dibukanya karena khawatir yang di dalam terbangun. Riza menengok adiknya dari celah pintu yang dibukanya, nampak olehnya Raisya tertidur. Melihat adiknya tertidur, Riza kembali menutup pintu kamar Raisya dengan pelan juga.
Riza berniat malam ini untuk tidur di ruang keluarga di lantai dua, supaya jika Raisya tiba-tiba terbangun Riza bisa menemaninya. Riza membaringkan tubuhnya di atas shofa dan menarik selimut yang sudah di bawanya dari kamar.
Riza sengaja tidak mematikan lampu karena dia tidak bisa tidur memikirkan adiknya Rois. Riza takut kondisi Rois sekarang ada kaitannya dengan kejadian dimasa lalunya. Riza ingat benar kejadian itu, saat Rois masih usia 13 tahun, Rois baru masuk kelas satu menengah pertama.
"Ya Allah lindungi adikku Rois, semoga dia baik-baik saja, semoga kejadian yang dialaminya tidak membuatnya berubah menjadi lemah. Aamiin" lirih Riza berdo'a dan memgamininya.
"Astagfirullah, aku kan belum sholat Isya, begitu juga dengan Raisya" ucap Riza sambil terperanjat dari shofa yang ditidurinya.
__ADS_1
Karena kelelahan sehingga Riza lupa kalau dia belum sholat Isya, waktu menunjukan pukul 20.15. Riza melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu, selsai wudhu Riza langsung saja ke kamar Raisya untuk membangunkannya. Meskipun Riza tidak tega untuk membangunkan adiknya tapi akhirnya tetap dibangunkannya, karena Riza lebih tidak tega lagi jika adiknya bersosa karena tidak sholat isa.
"Dek..dek..bangun dulu dek, sholat isa dulu" ungkap Riza sembari menepuk-nepuk pelan pipinya Raisya.
Tidak butuh waktu yang lama Raisya sudah menggeliat, menganggkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Raisya mulai mengucek-ngucek kedua matanya
"emmmm ada apa kak, kok aku dibangunin" tanya Raisya sambil mendongakan kepalanya ke arah kakaknya yang sudah berdiri
"maafin kakak dek, maaf kalau sudah mengganggu istirahatmu, kakak mau ngajak kamu sholat isa dulu dek, baru nanti kalau sudah sholat kamu boleh tidur lagi" jawab Riza sambil menatap adiknya
"aku lemes kak" ungkap Raisya manja
Riza menanggapinya dengan serius
"jadi kamu gak kuat dek, hmm..ya sudah kaka nanti bawain air buat wudhu ke sini" ungkap Riza sambil berbalik hendak ke kamar mandi untuk mengambil air.
Namun Raisya menarik tangan kakaknya
"aku masih lemes ka..tapii boong he..he.." ungkap Raisya bangkit dari tidurnya sambil cengengesan
"tapi aku mau di gendong kak, kalau di gendong aku baru mau wudhu" ungkap Raisya manja sambil mengangkat kedua tangannya meminta di gendong oleh Riza
"Ishhh..kamu yah dek, mentang-mentang baru di culik teru sekarang mau manja gitu sama kakak" ungkap Riza sambil memencet hidung mancung Raisya
Riza tidak menolak permintaan adiknya, karena sia tahu kejadian hari ini pasti membuat adiknya itu lelah, Riza pun menggendong adiknya ke kamar mandi untuk berwudhu. Selagi Raisya Berwudhu ditungguinya hingga selsai dan kembali menggendong adiknya ke luar kamar mandi. Mereka pun sholat isa berjama'ah di kamar Raisya.
(😊🌻🌻🌻Terimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua 🌻🌻🌻😊)
__ADS_1