
"Hmm..jadi gak nih jalan-jalannya?" Ungkap Riza mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong" Jawab semuanya serempak, kecuali Ceri, yang masih terlihat canggung ada di tengah-tengah mereka.
Rei pun memimpin perjalanannya, disusul ketiga temannya dan juga Indah beserta yang lainnya mengekor di belakang. Riza merangkul pundak Firas dengan tangan kanannya, di sebelah kanannya firas Ceri berusaha ikut mengimbangi jalan keduanya.
"Kak Ceri ko diam terus dari tadi, kakak kenapa? apa kakak sakit?" Tanya Firas sambil menengadah menatap muka kakaknya.
"Enggak kok dek, kakak gak sakit, cuma lagi khusu menikmati pemandangannya aja ini dek, kan sayang kalau dilewatkan begitu saja" Ungkap Ceri mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
"Oh begitu, oh iya kak aku mau ngejar kak Raisya ah, kayanya seru lari-lari dideretan pohon pinus itu" Ungkap Firas sembari menunjuk ke arah Raisya yang gabut, berlari-lari di deretan pohon pinus.
Firas pun berlari hingga terlepas dari pegangan tangannya Riza, kini tinggallah Riza dan Ceri berdua di barisan paling belakang. Tentu saja mereka berjalan berjarak tidak pake nempel-nempel kaya perangko yah, mereka jalan berjarak sekitar setengah meter lah, kan jalannya luas.
Riza terlihat kikuk setelah Firas berlari menyusul Raisya, begitu juga dengan Indah tak kalah kikuk dibandingkan Rei. Padahal waktu mereka Tk mereka teman dekat bahkan sampai usia Sekolah menengah pertama. Tapi kini Indah sudah berubah menjadi sosok perempuan dewasa, cantik dan juga anggun.
Begitu juga Riza, kini Riza telah menjadi seorang lelaki dewasa yang rupawan dan juga berwibawa, hanya satu yang tidak bisa membuat Indah melupkannya yaitu mata elangnya Riza, dari Tk sampai saat dia bertemu lagi kini yaitu mata elang itu tidak berubah bagi Indah.
"kam.." Ucap Riza terhenti karena Ceri juga mengucapkan hal yang sama.
"Kam..u""Ungkap Ceri berbarengan saat Riz aamau bicara juga.
Hmm..tiba-tiba keduanya berbarengan bicara dan lagi-lagi bukannya mencairkan suasana eh malah jadi tambah kikuk. Akhirnya keduanya terdiam kembali, sampai akhirnya Riza mengalah untuk mengawali.
"Hmm..Kamu mau bicara apa Cer?"Tanya Riza dengan terbata.
"Enggak kok, kamu aja duluan" Jawab Ceri gak kalah terbatanya dari Riza.
☘️☘️☘️
Untung gak jadi batu bata ya ha..ha..
__ADS_1
☘️☘️☘️
Riza berusaha menenangkan diri, dia menarik nafas dalam-dalam lalu dikeluarkannya lewat mulut perlahan. Riza melakukannya berkali-kali, dan saat dia merasa sudah tenang, dia mencoba untuk bertanya lebih dulu pada Ceri yang sedang berjalan beriringan dengannya.
"Cer, apa kabarmu, lama kita tidak ketemu?" Ungkap Riza masih merasa risih.
"Alhamdulillah baik Za, kamu sendiri apa kabar?" Jawab Ceri balik bertanya.
"Aku juga baik, hmm..Cer sampai kapan kamu mau tinggal di bandung?" Tanya Riza lagi.
"Aku gak tahu Za, soalnya perusahaan ayah yang di sini, aku yang bertanggung jawab" Ungkap Ceri datar.
"Oh gitu, pantesan ayah kamu sering aku lihat ke Mesjid, tapi aku gak tahu kalau ternyata firas itu adikmu, karena dia tidak pernah terlihat berangkat atau di jemput oleh ayahmu." Ungkap Riza.
"Iya Za ayah memang ke Bandung paling hanya seminggu dua kali. Dan Firas ya memang dia lebih mandiri dari aku ketika masih seusianya." Ungkap Ceri sembari senyum-senyum sendiri mengenang masa kecilnya.
"Kamu juga mandiri kok" Ungkap Riza sambil tersenyum juga.
"Ah kamu bisa aja Za, aku mandiri kan dulu karena selalu ada kamu yang menemaniku kemana-mana he..he.." Ungkap Ceri sambil cengengesan sendiri.
"Oh iya, Cer apa kamu masih takut sama rambutan?" Tanya Riza dengan nada serius.
Sementara Ceri yang mendengarnya tanpa sadar malah tertawa sedikit agak keras, sehingga Rei dan yang lainnya sempat menoleh ke belakang karena mendengarnya.
"wkwkwkwk..ah Za jangan ingetin itu aku jadi malu" Ungkap Ceri dengan nada santai seperti saat dia bicara sama Riza diwaktu mereka masih kecil, mereka bicara tanpa malu-malu dan tanpa sungkan, mereka apa adanya.
Mendengar tawa Ceri Riza pun tersenyum mengembang, merasa bahagia bahwa kenyataannya Ceri masih sama seperti Ceri yang dulu dia kenal, masih suka bercanda dan yang terpenting menghilangkan kekakuan yang ada pada mereka.
"Suttt, jangan terlalu keras, tuh lihat mereka jadi menengok ke arah kita, kan gak enak" Ungkap Riza sembari mengisaratkannya dengan telunjuk diatas bibirnya.
Akhirnya keduanya pun tertawa pelan mengingat masa-masa kecil mereka, suasananya lebih terasa hangat dibanding saat pertama bertemu Ceri tadi di depan pondok penginapannya. Tadi benar-benar kaku bagai balok es.
__ADS_1
"iya Za maaf keceplosan, abisnya aku tuh kalau ingat jaman-jaman kita masih kecil kok jadi merasa lucu" Ungkap Ceri berterus terang.
"kalau soal itu, aku juga sama lah Cer, gimana enggak kamu dulu suka ngiler..ups..maaf Cer" Ungkap Riza dan sempat terhenti karena keceplosan.
"Aduh ngomong apa sih aku ini, ngapain harus bahas iler segala sih, kan mengganggu suasana jadinya" Gumam Riza dalam hatinya.
"Gak apa-apa kali Za, kan dulu aku masih imut wajar dong kalau masih suka ngiler, lagian dulu juga ilerku dikit kok cuma netes diujung bibir gegara makan makanan pedas darimu kan, hayo ngaku siapa yang ngasih?" Ungkap Ceri malah semakin semangat membahas masa kecilnya.
"Ampun deh, iya itu dulu aku yang ngerjain kamu, gegara kamu sih anak perempuan tapi vak doyan pedes kan gak asik, dimana-mana tuh yah kalau namanya perempuan itu suka pedes" Ungkap Riza ngarang bebas.
"gak semua juga kali Za, emang kamu kata siapa coba kalau perempuan itu harus suka pedes?" Ungkap Ceri sambil tersenyum.
"hmm..aku lihat sendiri di warung bakso, kalau perempuan beli bakso pasti dikasih cabenya lebih dari dua sendok bha..ha.." Ungkap Riza mencoba mempeetahankan logikanya.
"Dih kamu Za, ya itu yang doyan pedes aja, buktinya aku enggak kan?" Ungkap Ceri tidak mau kalah.
☘️☘️☘️
Hai..Hai ketemu lagi nih sama babang Riza, moga-moga aja ada yang ngangenin babang Riza he..he..
padahal yang doyan cabe mah aku sodarah-sodarah, kalau aku jajan bakso pasti airnya didominasi sama cabe. Pesannya sih bakso di bening tapi ujung-ujung pake pedes juga. makanya gak jarang orang bilang aneh..di bening kok pake cabe katanya..ya suka-suka aku ya .kan aku yang jajan, ngapain ikut repot..
curhat gak penting😂
Selalu saya aku ucapkan Makasih yah buat kalian yang masih setia membaca pemuda bermata elang. Maaf yah belum sempet mampir balik..besok insyaallah deh aku mampir lagi di karya kalian author-author keceh yang ngalahin keceh badai membana.
Salam semangat selalu dariku untuk kalian dan salam literasi juga buat kalian, i love u for all eaaaa..😂👏👍💪
☘️☘️☘️
(😊🌻🌻🌻Terimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua 🌻🌻🌻😊)
__ADS_1