Pemuda Bermata Elang

Pemuda Bermata Elang
Meloloskan Diri


__ADS_3

Raisya bersorak dalam hatinya "Yes, ada kesempatan untuk kabur, tinggal menunggu waktu saja, lihat saja kamu gondrong, awas yah kalau aku sudah bebas dan pulang ke rumah hmm..aku aduin kamu ke polisi" ungkap Raisya dalam hatinya


Sementara si Acung dan si gareng, penjahat itu sedang berusaha mencari bantuan, si gondrong setia menunggui Raisya dan Rois dari luar. Mereka berusaha mencari bengkel untuk mengganti ban mobilnya. Namun sayang sekali karena tempat mereka berhenti adalah sebuah perkampungan yang sepi penduduk, penduduknya jarang-jarang. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya bisa berjarak sampai 1km dan itu pun jarang.


Si gareng dan si Acung kembali karena mereka sudah kelelahan mencari, akhirnya mereka memilih duduk di pinggir jalan.


"Sial, gak ada bengkel satu pun di sini, mau tidak mau kita harus menunggu mobil lewat untuk minta bantuan" ucap Si Acung dengan kesal


"Harus berapa lama kita nunggu bos, lagian tuan bos itu mau menyembunyikan anak-anak itu ke mana kenapa tempatnya kaya hutan begini?" Ungkap Si gondrong ke ceplosan


"Hush..jangan sembarangan kamu bokir" ungkap si Acung tegas dengan mata yang menatap tajam.


Sejurus kemudian mereka mengecek pintu mobil, setelah memastikan pintunya terkunci lalu mereka berpindah tempat, menjauh sedikit dari mobil. Mereka duduk di bawah pohon Rindang lalu mereka kembali meneruskan perbincangannya.


"Hei, awas yah kalian kalau sampai keceplosan menyebut nama tuan, tuan bilang tidak boleh ada yang tahu siapa namanya kecuali dia sendiri yang akan menyebutkannya" ungkap Si Acung pada kedua temannya


"Siap bos, jadi sekarang gimana nih, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Ungkap si gondrong

__ADS_1


"Ke mall, ya nunggu di sini lah PA, kita tetap di Sini, santai saja lah, toh bocah ingusan itu juga tidak mungkin bisa kabur di tempat seperti ini" ungkap si Acung dengan sedikit bentakan.


Setelah si Acung menghubungi temannya untuk membawa ban serep, kini mereka istirahat, mula-mula mereka masih terdengar berisik dan tawa yang menggelegar, entah apa yang mereka tertawakan, semakin lama suaranya semakin melemah dan akhirnya hilang. Mereka tertidur di bawah pohon.


Raisya dan Rois mengintip dari jendela mobil yang terbuka, mereka lupa untuk mengunci kaca dari luar, mereka membiarkan kaca mobilnya terbuka sehingga Rois dan Raisya bisa mengintip dengan lebih leuasa.


Rois mengawasi dari jendela, dan dari jarak yang tidak begitu jauh Rois menyaksikan kalau ketiga penjahat itu tertidur


Rois segera melepaskan ikatan yang sebenarnya sudah terlepas dari tangannya sejak tadi, lalu melepas lakban dari mulutnya


"Raisya, sepertinya mereka ketiduran, ayo kita cari akal supaya kita bisa keluar dari mobil ini" ungkap Rois pada adiknya


"Santai saja kak, kan mereka lagi tidur he..he.."jawab Raisya sambil melepaskan tali di kakinya yang sempat dia ikat kembali tadi.


"Ih kak Rois ngapain bingung sih, nih lihat jendelanya kan gak di kunci jadi kita bisa kabur lewat jendela, hmm..tapi kakak duluan yang keluar yah" ungkap Raisya sambil menunjuk kearah jendela


"Oh iya, kamu cerdas dek, tak masalah aku bisa turun dari sini lewat jendela, kamu tenang saja" ucap Rois

__ADS_1


Rois sudah kembali bersemangat, di banding tadi saat masuk ke mobil, Rois merasa baikan karena akhirnya dia punya kesempatan untuk kabur bersama adiknya.


Rois mulai mengeluarkan badannya dengan perlahan lewat jendela, gedebuuuug...Rois menjatuhkan diri dari jendela, Rois meringis kesakitan tapi dia menguatkan diri dan dia langsung bangkit, menengok ke arah para penjahat di belakangnya. Rois khawatir jatuhnya barusan membuat para penjahat itu terbangun, namun beruntung para penjahat itu masih mendengkur. Maka Raisya pun menyusul keluar di bantu dari luar oleh Rois.


Setelah keduanya keluar, mereka berjalan pelan-pelan menjauh dari mobil dan para penjahat itu. Setelah dirasa aman barulah mereka sedikit berlari ke arah yang ada penduduknya. Mereka menyusuri jalan setapak, jika mereka melewati jalan utama mereka khawatir para penjahat itu menyusulnya.


Rois dan Raisya masuk ke jalan setapak yang disepanjang pernalanannya di penuhi semak belukar. Namun setelah itu mereka melihat ada beberapa rumah, mereka tidak ingin meninggalkan jejak di rumah itu karen jaraknya masih dapat di jangkau oleh para penjahat. Raisya dan Rois memilih terus berjalan jauh menyusuri jalan setapak yang akhirnya membawa mereka ke sebuah perkampungan kecil.


Sebuah perkampungan yang lumayan rumahnya lebih banyak dari tempat yang sebelum-sebelumnya.


"Dek, kita kayanya sudah lumayan lama berjalan dan sudah cukup jauh dari penjahat itu, jadi gimana kalau kita menumpang istirahat sebentar di rumah salah satu warga di Sini, sekalian nanti kita minta tolong untuk menghubungi keluarga kita, kakak juga haus dek mau sekalian minta minum" ungkap Rois sambil nafasnya tersenggal-senggal karena capek.


"Ayolah kak, aku ikut saja, aku juga haus kak" jawab Raisya sambil ngos-ngosan juga.


Dengan semangat keduanya melangkahkan kakinya kembali untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah warga di depannya kira-kira 15 meter lagi.


(๐Ÿ˜Š๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒปTerimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua ๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2