
Sesampainya di rumah, Rois di bopong oleh Riza dan langsung di baringkan di atas kasur di kamarnya. Sementara Raisya langsung berteriak memanggi bundanya dan berhambur kepelukannya. Melihat itu Khoirunnisa langsung membuka kedua tangannya dan membalas pelukan Raisya.
"Alhamdulillah kamu sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja, bunda khawatir sama kalian sayang" ucap Khoirunnisa sebelum menyadari keberadaan Rois
"Ica, mana kakakmu Rois?" Tanya Khoirunnisa dengan muka cemas
"Kak Rois tadi kecapean kali mah, badannya lemes dan sekarang sudah di bawa ka Riza ke kamarnya, supaya bisa istirahat" ungkap Raisya sambil menuntun budanya untuk melihat kondisi Rois.
Khoirunnisa dan Raisya pun masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Rois. Di dalam kamar masih ada Riza yang sedang mencoba untuk mengompres Rois karena badan Rois tetiba menjadi panas.
"Za, kenapa Rois?" Tanya khoirunnisa sambil mendekat ke arah Rois dan menggenggam tangan Rois dengan erat.
"Sabar Bund, insyaallah Rois baik-baik saja" ungkap Rizal yang menyusul dari pintu kamar.
"Raisya sekarang lebih baik Raisya mandi dulu, habia mandi makan dan setelah itu kamu istirahat ya sayang, pasti kamu kecapean kan?" Ungkap Khoirunnisa sambil mengusap kepala putri tercintanya
"Baik bund, aku ke kamar dulunyah bund" ucap Raisya sambil berjalan menuju kamarnya.
"Ayah dan Riza juga lebih baik istirahat dulu, biar bunda yang jagain Rois" pinta Khoirunnisa pada suami dan anaknya.
"Tapi bunda gak apa-apa kan bund, bunda sehat kan?" Tanya Riza menghawatirkan bundanya, mengingat bundanya juga dari tadi pagi belum istirahat dan sempat pingsan.
"Gak usah khawatir Za, pergilah sana kamu istirahat, biar ayah di sini temanin bunda untuk jagain Rois" ungkap Rizal pada Riza.
"Baik kalau gitu yah, aku permisi dulu"
__ADS_1
Riza pun berlalu menuju kamarnya, Riza membuka sepatunya dan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya sekalian mengganti bajunya dengan baju santai. Setelah dari kamar mandi Riza duduk di Shofa.
Riza menghempaskan tubuh kekarnya ke sandaran shofa, kakinya di naikan ke shofa dan Riza kini tiduran terlentang di atas shoffa. Matanya menatap ke langit-langit kamarnya, kedua tangannya dilipatkan ke bawah kepalanya digunakan sebagai penyangga buat menahan kepalanya.
"Sebenarnya siapa yang mencoba menculik Adik-adikku yah, hmm..dan apa motifnya, apa ada hubungannya dengan kelauragaku, atau hanya penculik biasa yang mencoba ingin memeras uang saja?" Guman Riza pelan
Riza mencoba menerka-nerka tentang kasus penculikan yang terjadi secara tiba-tiba. Yang membuat Riza merasa heran dan terasa janggal karena sejak kedua adiknya di culik dari pagi hingga siang tadi bahkan sampai mereka di jemput dan sore kembali ke rumah, tak ada tanda-tanda orang yang menghubungi Keluarganya.
Pada umumnya jika ada kasus penculikan maka akan ada pula orang yang menghubungi pihak keluarga yang diculik, entah berisi ancaman atau pemerasan. Tapi kali ini tidak ada sama sekali. Riza bukan berharap ada yang menerornya untuk minta tebusan atau mengancamnya hanya saja justru dengan seperti itu justru Riza semakin khawatir penculikan itu akan terulang kembali.
Sudah pukul 17.00, saat Riza melirik jam di dinding kamarnya, Riza merasa badannya lemas dan untuk hari ini Riza terpaksa izin tidak mengajar ngaji anak-anak di Mesjid komplek, meskipun berat bagi Riza jika harus membiarkan mereka tidak belajar.
๐๐๐
Setelah sholat magrib berjama'ah di rumah, Riza kembali melihat kondisi Rois, Riza melihatnya, wajah Rois begitu pucat, Riza merasa khawatir akhirnya dia membangunkan Rois pelan pelan dengan menepuk-nepuk lengan Rois. Riza bermaksud untuk membangunkan Rois supaya bisa melaksanakan sholat magrib meskipun dalam keadaan berbaring.
"Sesibuk apa pun dan dalam kondisi segenting apa pun kita harus tetap mendirikan sholat, karena sholat adalah tiang agama, maka dari itu jangan pernah kamu meninggalkan sholat dalam hidupmu, jagalah sholatmu baik-baik maka yakinlah Allah akan menjagamu"
Begitulah kira-kira pesan gurunya waktu masih sekolah. Selain nasihat itu Riza pun pernah membaca dalam sebuah buku, di dalamnya dituliskan bahwa sholat bisa di lakukan secara berbaring, sebagaimana hadits yang dibacanya dalam bukunya tersebut dan haditsnya berbunyi:
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Imran bin Hussain: โShalatlah dengan berdiri, jika tidak bisa maka dengan duduk jika tetap tidak bisa maka shalatlah dengan tidur dengan posisi miring.โ(HR Bukhari)
Siapa yang tidak dapat rukuk dan sujud maka dapat diganti dengan merunduk untuk keduanya, dan menjadikan merunduk untuk sujud lebih rendah dari pada merunduk untuk rukuk. Jika tidak bisa sujud saja maka rukuklah seperti biasa dan merunduklah untuk sujud.ย
Jika tidak dapat merundukkan punggung sampai pada lutut karena bungkuk misalnya sehingga tanpa rukuk pun dia seperti orang yang sedang rukuk, maka cara rukuknya adalah dengan menambah merunduk lagi, dan lebih merunduk lagi daripada rukuk pada saat dia bersujud dengan mendekatkan wajahnya ke tanah atau tempat sujud.
__ADS_1
Jika masih tidak bisa dengan cara duduk, maka sholatlah dengan cara berbaring dan jika masih tidak bisa maka sholatlah dengan isarat karena Allah Maha mengetahui.
"Astagfirullah" Riza tersadar dari lamunanya mengenang masa-masa dinasehatin oleh gurunya.
Riza kembali menepuk-nepuk tangan Rois dengan pelan untuk membangunkannya
"dek, dek bangun dek, ayo kakak bantu kamu untuk sholat" ucap Riza sambil terus menepuk-nepuk lengan Rois.
keadaan Rois tidak berubah, masih sama saja dia masih terkulai lemas dan badanya panas. Riza semakin khawatir dan kembali mencoba menepuk-nepuk lengan Rois dengan sedikit kencang, namun usaha Riza sia-sia, tubuh Rois tidak memberikan respon apa-apa
"Dek, kamu kenapa, ada apa dengan kamu, kenapa kamu seperti ini, bangun dek" ungkap Riza sambil tetap berusaha membangunkannya
Melihat keadaan Rois terkulai lemas seperti itu, akhirnya Riza keluar dari kamar Rois untuk menemui Bundanya.
"bund, bunda..panggil Riza, Rois bund, sepertinya Rois tidak sadarkan diri bund?" ungkap Riza pada Bundanya
"maksud kamu apa Za?" tanya Khoirunnisa sambil berjalan mnegikuti langkah Riza menuju kamar Rois
"Aku tadi sudah berusaha bangunin bund, tapi tak ada respon sedikitpun dari Rois" ungkap Riza sambil menunjuk ke arah Rois
"Za, tolong ambilkan kayu putih Za" ucapa khoirunnisa pada anaknya
Riza pun segera mengambilnya di kotak obat, setelah mendapatkannya, Riza langsung berlari menyerahkannya pada Bundanya. lalu Khoirunnisa pun mengambilnya dan mencoba dihirupkannya ke hidung Rois, namun usaha Khoirunnisa pun tidak berhasil membangunkan Rois, tubuh Rois benar-benar tidak memberikan respon.
sudah dulu ya Readers, besok lanjut lagi๐
__ADS_1
(๐๐ป๐ป๐ปTerimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua ๐ป๐ป๐ป๐)