
Saat Raisya mencoba mau keluar dari pintu eh tiba-tiba si gondrong dan kedua temannya sudah mau kembali ke mobil, jaraknya sudah begitu dekat dan tidak memungkinkan untuk Raisya melarikan diri. Raisya tidak kehabisan akal, dia langsung menempelkan lagi lakban di mulutnya dan ikatan di tangannya dicoba di pasang lagi seolah tali yang sudah putus itu terikat kembali kaki dan di tangannya.
"Ayo kak kita pasang lagi lakban ini dan talinya pasang lagi sekenanya" ucap Raisya sembari membantu memasang tali di kaki dan tangan kakaknya.
Raisya berpikir ikatan di tangan Rois harus lebih terlihat rapi, karena posisi Rois bersebelahan dengan si gondrong. Sebelum penjahat itu datang Raisya dan Rois kembali berpura-pura tidur.
Sejurus kemudian para penjahat itu datang dan masuk ke dalam mobil.
"Hei bocah bangun-bangun, nih kalian minum dulu, kalian pasti haus kan" ucap si gondrong sambil menepuk pipi Rois dan Raisya supaya keduanya terbangun.
Raisya membuka matanya
" hmmm..hmmm...hmmm" suara Raisya dalam bekapan lakban
"Oh, sory gue lupa kalau loe pada gue bekap pakai lakban, jadi kalian gak bisa minum. Kalau kalian mau minum, aku akan bukakan lakban di mulut kalian itu, asal kalian berjanji jangan berteriak dan jangan macam-macam" ucap si gondrong yang jahatnya setengah-setengah he..he..
Raisya dan Rois mengangguk beberapa kali, dan akhirnya si gondrong membuka lakban di mulut Rois dan Raisya.
"Alhamdulillaj, akhirnya aku bisa bernafas" ucap Raisya
"Om gondrong, sebenarny kami mau di bawa kemana? Dan apa yang kalian inginkan?" Ucap Rois pada si gondrong
"Sudahlah diam kalian, sekali lagi kalian bertanya akan aku bungkam lagi mulut kalian dan kalau perlu gue akan bungkamkan kalian selamanya" ucap si gondrong dengan bengis.
Mobil melaju dengan kecepan tinggi, Raisya dan Rois hanya diam sementara ketiga penjahat itu tertawa terbahak entah apa yang mereka tertawakan.
πππ
Setelah menelepon Bu Khoirunnisa, Pak Amin langsung putar arah menuju arah rumah majikannya.
Sejurus kemudian Pak Amin sudah sampai di depan rumah
Khoirunnisa masih pingsan di ruang keluarga tepat di sebelah meja telepon. Saat Pak Amin mengetuk pintu rumahnya, tentu saja tidak ada yabg membuka. Lalu Pak Amin ke Butik di sebelah rumah Khoirunnisa
"Assalamu'alaikum..permisi.." ungkap Pak Amin
Lalu Dewi keluar menghadap pak Amin
"Wa'alikumsalam Pak Amin, ada apa pak, ada yang bisa kami bantu?" Jawab Dewi
Pak Amin:"Maaf neng, apa Ibu Nisa ada di rumah?"
Dewi:"Ada kok Pak, tadi kata Ibu kurang enak badan jadi Ibu mau istirahat katanya, emang kenapa ya pak?"
Pak Amin:"Tadi bapak sudah salam dan mengetuk rumah Ibu, tapi tidak ada yang membuka, ayo atuh neng anterin bapak lihat kondisi Ibu Nisa. Takutnya Ibu kenapa-kenapa karena tadi saya sempat telepon ibu untuk memberitahukan bahwa non Raisya sama den Rois di culik"
__ADS_1
Dewi:"Inalillahi..ayo pak saya antar, takutnya terjadi apa-apa sama Ibu"
Pak Amin dan Dewi menuju Rumah Khoirunnisa, setibanya mereka di depan pintu, Dewi mencoba untuk mengetuk pintu sambil mengucap salam
"Assalamu'alaikum Bu, Bu Nisa..." Ungkap Dewi mengulang sampai tiga kali, setelah tiga kali tidak ada jawaban dari dalam rumah, akhirnya Dewi mencoba membuka pintunya
Cklek ..pintu rumah terbuka
"Alhamdulillah Pak tidak di kunci, ayo kita masuk saja, kita cek ke dalam, insyaallah ibu tidak akan marah, karena kita tidak berniat lancang kita hanya mau memeriksa keadaan Ibu Nisa di dalam" ungkap Dewi mengajak pak Amin
Pak Amin pun mengikuti jejak langkah Dewi dari belakang, mereka sedikit berjalan ke depan menuju ruang keluarga. Pak Amin dan Dewi mengendarkan pandangan ke setiap sisi untuk mencari keberadaan bu Nisa
"Bu, Bu Nisa, Apa Ibu ada di dalam?" Ungkap Dewi memanggil-mangil Khoirunnisa
Tibanya di dekat shofa, Dewi kaget, karena melihat Khoirunnisa terbaring di lantai di bawah meja yang ada teleponnya.
"Pak..Pak Amin ini Ibu Nisa sepertinya pingsan, ayo pak bantu Dewi untuk memindahkan Bu Nisa ke atas Shofa sini saja pak, kalau ke dalam kamar saya tidak berani" ungkap Dewi pada Pak Amin
Pak Amin pun segera berjalan menuju Dewi yang jaraknya sekitar empat langkah darinya.
"Astagfirullah Ibu.." ungkap Pak Amin singkat
Segera Pak Amin memindahkan Khoirunnisa dengan di bantu oleh Dewi. Setelah Khoirunnisa dibaringkan di shofa. Dewi dan Pak Amin kebingungan, mereka berdiri mematung di depan Khoirunnisa.
"Ya Ampun pak Amin, jadi pak Rizal belum dikasih tahu?" Dewi tersentak kaget
"Belum neng, karena saya khawatir mengganggu pekerjaan bapak, neng kan tahu sendiri bapak paling tidak suka kalau dibubungi saat sedang di kantor" ungkap Pak Amin
"Tapi pak..ini soal anaknya dan sekarang Ibu Nisa juga pingsan, nanti kalau terjadi apa-apa sama non Raisya dan den Rois bagaimana?, Ayo pak hubungi sekarang sebelum terlambat, biar saya mencoba mengurus ibu Nisa" ungkap Dewi
"Baik neng" kata Pak Amin sembari mengambil ponselnya.
Dewi mencoba mengompres Ibu Nisa, dan memberikan minyak kayu putih di bagian kepalanya sekaligus di simpan di bawah hidung Bu Nisa, supaya Ibu Nisa segera siuman.
Sementara Pak Amin berhasil menghubungi Rizal, namun sayang Pak Rizal lagi meeting jadi Rizal tidak bisa pulang segera, sebagai gantinya Pak rizal menyuruh Riza anaknya untuk pulang terlebih dulu.
βοΈβοΈβοΈ
Raisya diam saja tidak mengoceh seperti sebelumnya, dia khawatir kalau dia mengoceh bisa-bisa dia di lakban lagi mulutnya. Dalam diamnya tentu saja otaknya tetap berjalan, memikirkan bagaimana caranya supaya bisa melarikan diri dari para penjahat yang sangar itu.
Perjalanan mereka sudah cukup jauh, kini mereka sudah berada di kawasan yang sepi, tapi sepertinya belum sampai, karena mobilnya belum berhenti.
"Ya Alallah, selamatkanlah kami dari orang-orang jahat ini, lindungi kami ya Allah, berikanlah jalan keluar suapaya kami bisa kabur dari mereka" dalam hati Raisya berdo'a dengan khusu
Di sebuah jalan yang di sekitarnya sepi penduduk tiba-tiba mobil berhenti, si Acung, penjahat yang menyetir mobil keluar dan membanting pintu keras-keras, dia mengecek mobilnya, mengecek ke bawah dan setelah mengecek mobilnya si Acung berteriak
__ADS_1
"Sial, bannya kempes" ungkapnya ketus sambil memukul mobil dengan hantaman yang keras
Si plontos ikut keluar menghampiri si Acung
"Apa cung, ban nya kempes?" Tanya si plontos sambil memperhatikan mobilnya
Di susul sama si gondrong
"Wah bos, gimana kalau sudah kaya gini, mana di sini gak ada bengkel lagi" ungkap si gondrong pada si Acung
"coba loe cek di belakang, ada ban serep gak?" Perintah Si Acung pada si gondrong anak buahnya
"Siap bos" kata si gondrong sambil membuka pintu mobil dan mengecek ke jok belakang
Si gondrong kemabali menghampiri Si Acung
"Aduh maaf bos kayanya kita lupa bawa ban serep" ungkap si gondrong berhati-hati
"Sial.." hanya itu yang di ucapkan si Acung
βοΈβοΈβοΈ
Riza sudah sampai di rumahnya. Riza langsung memeluk Bundanya yang baru saja siuman
"Maaf Bund aku baru datang, dan ayah sedang meeting, insyaallah sebentar lagi menyusul untuk pulang" ungakap Riza mencoba menghibur Bundanya supaya tidak sedih karena Ayahnya belum bisa pulang.
Pak Amin dan Dewi masih di rumah Khoirunnisa untuk menemani
"Za gimana ini, apa kita perlu lapor polisi?" Ungkap Khoirunnisa sambil menangis
"Hmm..belum bisa kayanya Bund, percuma kalau kita lapor juga tidak akan di proses kalau belum satu hari 24 jam" ungkap Riza meras sedih
"Terus gimana kalau terjadi apa-apa sama kedua adikmu Za?" Rengek Khoirunnisa sambil terus menangis
"Insyaalalh Bund semua akan baik-baik saja, Insyaallah Allah akan menjaga Raisya dan Rois" ucap Riza sambil memeluk Bundanya.
"Pak Riza, apa bapak dan Ibu mau dibuatkan kopi atau teh?" Ungkap Dewi
"Hmm..boleh bu Dewi minta tolong buatkan teh manis saja, sekalian buat Bu Dewi dan Pak Amin juga, terimakasih sudah menjaga bunda" ungkap Riza sopan pada Dewi
"Baik pak" ungkap Dewi dan berlalu ke dapur.
maaf ya Reader kayanya beberapa hari ini masih tentang penculikan deh, soalnya lagi nemu ide nya disituππππ besok sudah berakhir ko tentang penculikan, besok akan saya kupas tuntas.
(ππ»π»π»Terimakasih sudah setia membaca karyaku, like dan comenmu aku tunggu yah. Jangan sungkan berikan Krisan membangunnya. Salam Literasi untukmu Reader dan sukses selalu untuk kita semua π»π»π»π)
__ADS_1