Pemuda Bermata Elang

Pemuda Bermata Elang
Belajar Tajwid


__ADS_3

Setelah Adzan magrib berkumandang Riza langsung bersiap berangkat ke mesjid, Tangan kanannya menenteng sajadah dan juga Al-Qur'an. Riza berangkat ke Mesjid sendirian karena sudah izin sama Ayahnya untuk berangkat lebih awal.


"Bund, aku pamit yah, aku mau ke Mesjid duluan" ucap Riza pamit pada bundanya sambil mencium punggung tangan Bundanya.


"Iya Za, hati-hati yah, nanti jangan lupa pulangnya jangan kemalaman, Bunda sudah kangen kumpul bareng. Nanti kita makan malam di rumah, Bunda masakin sambel goreng cumi kesukaanmu" ucap Khoirunnisa pada Riza.


"Siap Bund, nanti habis sholat isa insyaallah aku segera pulang" ungkap Riza sambil tersenyum.


Riza pun membalikan tubuhnya dari depan pintu, segera Dia berjalan menuju arah Mesjid. Mesjid nya tidak terlu jauh, Riza cukup berjalan melalui 2 belokan yang melewati beberapa rumah dikompleknya. Disepanjang jalan menuju mesjid dihiasi oleh pagar-pagar Tinggi rumah sekitar. Didepan rumah-rumah megah itu tertanam pohon bunga kamboja yang cantik dan bunganya berwarna warni, ada yang ungu, yang putih dan ada juga yang kuning. Semerbak harum aromanya. Ada juga pohon-pohon palem dan pohon pinus yang berjejer disepanjang jalan, menambah keindahan yang memanjakan setiap mata yang memandangnya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


"Assalamu'alikum" sapa Riza saat melihat Zulfi dan yang lainnya sudah ada di dalam Mesjid


"Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakutuh" serentak Zulfi dan teman-temannya menjawab salam dari Riza.


Keadaan Mesjid belum terlalu ramai, jama'ah yang datang baru sedikit. Riza mengajak Zulfi dan yang lainnya untuk mengambil posisi di shaf terdepan.


"Zulfi, Imran dan yang lain ayo sini, kita sholat di shaf paling depan, biar pahalanya lebih banyak" ungkap Riza memberikan semangat agar anak-anak mau sholat di shaf depan. Tidak lama kemudian jama'ah pun berdatangan satu persatu dan akhirnya memenuhi beberapa shaf.


Sebelum Imam takbir, Riza sempat menoleh ke belakang, Dia melihat Ayah dan Rois ada dishaf kedua. Lalu Riza kembali berdiri tegak menunggu Imam takbir.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Setelah selsai sholat dan dzikir jama'ah pulang termasuk Ayah dan Rois, tinggalah Riza dan anak-anak yang mau belajar ngaji. Seperti hari-hari sebelumnya anak-anak sudah faham mereka tidak menunggu perintah dari Riza untuk mengatur posisi duduk. Mereka dengan surti duduk melingkar, sementara Riza masih sholat sunah ba'diyah magrib.


Selsai sholat sunah, Riza mendatangi anak-anak yang sudah duduk rapi. Riza duduk di dekat Imran.


"Alhamdulillah malam ini kita masih bisa bertemu, ayo sini siapa yang mau duluan ngaji" ungkap Riza sambil mengedarkan pandangannya kesemua anak-anak yang berkumpul dihadapannya.


"Aku aja Ka" ungkap Imran sambil maju kehadapan Riza membawa Al-qur'annya.


Satu persatu semua mendapatkan giliran untuk ngaji, selain mereka menyetorkan bacaannya pada Riza, Riza juga mengajarkan mereka tentang ilmu tajwid, supaya apa yang di baca anak-anak bisa sesuai dengan kaidah tajwid. Meskipun mereka masih belajar tapi dengan mempelajari ilmu tajwid justru malah bagus untuk melancarkan bacaannya.


Karena ilmu tajwid yang di dapatkan bisa langsung dipraktekan saat membaca Al-qur'an.


Riza memulainya dengan membahas yang paling mendasar yaitu tentang hukum mad.


Mad menurut bahasa arab ุงู„ู…ุท ูˆุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ, yang berarti memperpanjang dan menambah sedangkan menurut istilah mad ุงุทุงู„ุฉ ุงู„ุตูˆุช ุจุญุฑู adalah ู…ู† ุญุฑู ุงู„ู…ุฏ, memperpanjang suara dengan salah satu huruf dari huruf mad yang asli.


Hurup mad ada 3 yaitu Alip, waw dan ya


Mad dibagi kedalam beberapa bagian diantaranya:

__ADS_1


1.Mad Thabi'i



Mad Wajib mutthasil


Mad Jaiz munfasil


Mad Lazim kilmi


Mad Lazim mukhofaf


Mad 'aridl lisukun


Mad Sirah qosiroh


Mad Silah thowilah


Mad Iwadl


Mad layyin


Mad badal


Mad Lazim Harfi


Mad Tamkien


Mad Farq



Karena waktu yang tidak akan memungkinkan maka Riza hanya menerangkan 2 macam mad saja yaitu:



Mad T habiโ€™i ( ู…ูŽุฏู’ ุทูŽุจููŠุนููŠ )



Mad T habiโ€™i adalah alif ( ุง ) yang terletak setelah fathah atau yaโ€™ sukun ( ูŠ ) dengan kasrah ( โ€•ู ) dan wau ( ูˆ ) maka dhammah nya ( โ€•ู ) dengan memaknai artinya panjang. Panjang bacaannya dua harokat atau dua ketukan


Contohnya:

__ADS_1


ูƒุชูŽุง ุจูŒ โ€“ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู โ€“ ุณู…ููŠู’ุนูŒ



Mad โ€˜Aridl Lissukun adalah waqaf atau sebagai tempat pemberhentian pada saat membaca nya. Panjang bacaannya dari dua harokat sampai 6 harokat atau ketukan.



Mad 'Aridl Lissukun biasanya terletak di setiap waqof.


Riza mengakihiri pembahasan mad dengan memberikan contoh terlebih dahulu. Anak-anak pun mulai faham, mereka berjanji akan mulai menggunakan tajwid saat mereka membaca Al-qur'an, supaya membacanya lebih pas dan tidak sembarangan memanjangkan huruf yang tidak seharusnya dipanjangkan.


"Ok, adek-adek, untuk malam ini cukup sekian dari kakal, semoga ilmu yang diberikan bermanfaat, jangan lupa untuk mengamalkannya saat membaca Alqur'an yah" ungkap Riza


"Baik Ka, Insyaallah" jawab anak-anak serentak.


Setelah Riza menutup pengajiannya Riza pun mengajak anak-anak untuk mengatur shafnya


"Ayo kita atur kembali shafnya, sebentar lagi adzan isa akan dikumandangkan" ucap Riza


Anak-anak pun bubar untuk menyimpan Al-qur'an mereka di Rak yang tersimpan di pojok Mesjid. Setelah menyimpan Al-qur'an mereka kembali ke depan untuk mengambil shaf pertama.


Belum ada orang yang datang ke mesjid padahal waktu Isa sudah masuk, akhirnya anak-anak minta Riza untuk Adzan, Riza pun tidak keberatan. Riza mengumandangkan adzan dengan suara yang lembut dan merdu, membuat betah orang yang mendengarnya.


Jama'ah mulai berdatangan ke Mesjid, Riza pun sudah selsai mengumandangkan Adzan. Riza berdiri di shaf sebelah kanan bagian depan dekat dengan Zulfi dan teman-temannya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Selsai sholat Isa, Anak-anak dan jama'ah lainnya satu persatu pulang, demikian juga dengan Riza, Dia pulang bersama Ayah dan Rois.


"Rois, kapan jadinya kamu mau ngajarin anak-anak ngaji?" tanya Riza pada adiknya sambil berjalan disampingnya


"Hmm..aku malu Ka, merasa belum pantas ngajarin anak orang he..he" ujar Rois terus terang


"Malu?, aduh kamu ini kaya anak SD aja, masih malu-malu, ayolah, namanya juga belajar, hmm atau kalau gitu, gimana kalau untuk awalan kamu ngajarnya bareng Kakak dulu, nah setelah kamu merasa dekat dengan anak-anak, baru kamu ngajarnya sendiri" ucap Riza memberikan masukan pada adiknya.


"Boleh juga Ka, idenya Kakak memang cemerlang deh" ungkap Rois sambil menyikut Riza


"Anak siapa dulu dong, iya kan yah" ucap Riza sambil tersenyum melirik ayahnya yang sedari tadi menyimak mereka berbincang.


"Iya dong, anak ayah semuanya cerdas" ucap Rizal sambil merangkul pundak Riza.


"iddih ayah kita ternyata narsis juga ya Kak he..he.." ungkap Rois sambil tersenyum dan melirik ayahnya disebelah Riza.

__ADS_1


(๐ŸŒป๐ŸŒป๐Ÿ˜Š Terimakasih sudah setia membaca. like & comen mu aku tunggu, krisan membangunnya jangan sungkan ya. Salam Literasi untukmu Readers sukses selalu untuk kita semua๐Ÿ˜Š๐ŸŒป๐ŸŒป)


__ADS_2