
Pagi-pagi setelah Riza dan ayahnya pamit pada Khoirunnisa, merekapun berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Rois dan Raisya yang sudah lebih dulu berangkat ke sekolahnya Arroyan.
Di rumah, khoirunnisa beres-beres sebentar, lalu ke butik untuk mengecek keadaan, di Butik para karyawan sedang sibuk dengan pekerjaannya, ada yang sibuk depan komputer, ada yang sedang mengecek barang, ada yang sedang mengemas barang, ada yang sedang mencatat dan lain sebgainya.
"Dew, Ibu hari ini mau istirahat yah, kepala ibu tiba-tiba pusing, padahal tadi gak kenapa-napa. Jadi ibu titip butik sama kamu dulu yah, untuk makan karyawan nanti kamu pesan online atau beli di tempat terdekat saja yah, kebetulan hari ini Bi Inah tidak masuk kerja" ungkap Khoirunnisa pada Dewi orang kepercayaannya.
"Baik bu, soal butik biar saya saja yang handle, Ibu istirahat saja, semoga lekas sembuh" ungkap Dewi dengan menyunggingkan senyuman.
Setelah menitipkan butik pada Dewi, khoirunnisa lanngsung menuju ke rumahnya yang terletak di samping kanan butik. Sesampainya di rumah khoirunnisa merasa sangat kehausan. Khoirunnisa mengambil gelas dari dapur namun entah kenapa Khoirunnisa begitu gelisah, tangannya bergetar saat memegang gelas dna dengan pertahanan yang lemah akhirnya gelas dalam genggamannya terjatuh praaaank..gelas pun terjatuh dan pecahannya tercecer ke mana-mana.
"Astagfirullah, kenapa ini, perasaanku semenjak keluargaku pergi tadi pagi menjadi tidak enak seperti ini, padahal aku tidak bekeja begitu keras, aku hanya masak seperti biasa dan menyapu lantai.
Dengan tubuh yang masih bergetar, khoirunnisa tergopoh-gopoh meraih sapu yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia menyapu pecahan gelasnya, lalu setelah terkumpul dipungutinya pecahan-pecahan gelas itu dan di masukannya ke dalam kantong kresek, setelah semua pecahannya dipunguti, lalu khirunnisa membuangnya ke dalam tong sampah khusus barang-barang pecah.
Khoirunnisa memang membiasakan untuk memisahkan sampah berupa pecahan kaca atau piring dengan sampah lainnya, karena khoirunnisa sempat mendengar tukang kebersihan yang biasa mengurusi sampah, Dia terluka di bagian kaki nya karena menginjak pecahan beling di bak sampah yang sedang dibereskannya. Semenjak saat itu khoirunnisa sangat berhati-hati kalau mau membuang sampah berupa barang-barang pecah, dipisahkan dan nanti langsung di kasih dna dibilangin pada petugas kebersiahan yang suka ngambil ke rumah-rumah di komplek.
Selsai membereskan pecahan kacanya, khoirunnisa bergegas untuk mengambil gelas yang baru, dia duduk di kursi meja makan dan menuangkan air kedalam gelasnya. Setelah minum Khoirunnisa merasa lebih tenang namun kepalanya tetap pusing, akhirnya Dia memilih untuk istirahat di kamarnya.
🍃🍃🍃
Di perjalanan menunu Arroyan tiba-tiba mobil yang dikendarai Pak Amin di hadang oleh mobil hitam, Pak Amin pun kaget dan langsung di rem secara mendadak ckiiiiit..untung saja pak Amin segera mengeremnya, kalau tidak hancurlah itu mobil hitam di depannya.
"Inalillah..ada pak, kok tiba-tiba di rem mendadak" ungkap Raisya yang sedari tadi sedang memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Maaf non, itu tiba-tiba ada yang menghadang mobil kita non" ungkap pak Amin merasa berslah
"Siapa sih di dalam mobil itu, kurang kerjaan banget, gak tahu apa kita mau sekolah" ungkap Rois kesal.
Sejurus kemudian keluar dua orang berbaju serba hitam dengan perawakan tinggi besar mirip binaragawan cuma mukanya sangar. Yang satu berambut gondrong dan yang satunya lagi berkepala plontos alias botak, hmm..kayanya sih rambutnya keabisan sama teman yang satunya lagi si gondrong.
Lalu keduanya mengedor pintu mobil dengan keras, boro-boro ngucap salam lembut saja enggak.
"Hei ayo ke luar" ucap si gondrong dengan bringas
Sementara pak Amin, terlihat begitu ketakutan, wajahnya pias seolah darah dalam tubuhnya sudah terhenti mengalir. Sedang Raisya dan Rois merasa geram, meskipun sejujurnya mereka juga takut tapi mereka tidak ada pilihan lain kecuali harus menghadapinya.
"Siapa kalian, enak saja minta kita keluar sembarangan, kita tuh mau sekolah, kita buru-buru tahu" Teriak Raisa dari mobil dengan voleme super keras.
Krek..krek..pintu mobil yang dikunci dipaksanya dibuka dan akhirnya terbuka juga.
Sejurus kemudian Si gondrong menarik tangan Raisya yang mungil, Raisya meronta berusaha menjauh, bebrusaha menggigit namun si gondrong terlalu kuat untuk di lawan Raisya. Akhirnya Raisya ditariknya dan diseret masuk ke dalam mobil hitam yang menghadang itu.
Pak Amin berusaha menolong namun satu hantaman keras di kepalanya membuat pak Amin tak sadarkan diri. Lalu si plontos menarik Rois, Rois pun berusaha untuk melawan namun sama saja dengan Raisya, kekuatan Rois tidak cukup untuk melawan si plontos yang berbadan besar itu.
Rois di seret masuk kedalam mobil menyusul Raisaya yang sudah didikat di dalam mobil. Lalu si gondrong pun mengikat Rois dan dia duduk disamping Rois, bermaksud menjaga Raisya dan Rois supaya tidak kabur. Sementara si plontos dia duduk di jok depan menemani kawannya yang sama-sama sangar.
"Hei om gondrong mau di bawa kemana kami, kenapa kami diikat, kami mau sekolah, kalau kita telat atau bolos, kami bisa di hukum" ungkap Raisya pura-pura santai, padahal perasaannya tak karuan, degup jantungnya pun seperti mau lompat ke luar.
__ADS_1
Meskipun dilembutin si gondrong tetap kasar, matanya bringas menatap Raisaya
"Diam, kau bocah ingusan, brisik, ikut saja dengan kami" ungkapnya dengan ketus
"Ih siapa bilang aku ingusan dan masih bocah, aku tuh sudah gede bentar lagi mau masuk SMA tahu" ungkap Riaisya mencoba mencairkan susana yang sangat mencekam.
"Diam kau bocah, brisik" terik si gondrong
"Ish..om jangan marah-marah, nanti cepat tua lho" ungkap Raisya mulai merasa tak berdaya
"Ha..ha..sudah lah bokir jangan kau ladeni terus bocah itu, nih lakban saja mulutnya biar diam" ungkap si plontos sambil memberikan lakban hitam pada si gondrong.
Sementara Rois tak berkutik, Rois memang tidak setegar Raisya, hati Rois terlalu lembut, Rois benar-benar sudah pucat pasi wajahnya, dia ketakutan.
sebelum Raisya dilakban mulutnya dia sempat berteriak minta tolong
"Toloooooong..Tolooooooong..Toloooooong" teriak Raisya dengan suara di voleme tertingginya. namun sia-sia suaranya tak ada yang mendengar karena lalu lalang mobil terlalu ramai.
si gondrong pun mulai memotong lakban hitam di tanggannya dan menempelkannya di mulut Rois terlebih dulu. melihat itu Raisya tidak tega
"Hei..kamu om gondrong sudah aku baikin masih saja kasar pada kami, jangan kau sentuh kakakku itu" ucap Raisya dengan mata melotot ke arah si gondrong".
(🌻🌻😊 Terimakasih sudah setia membaca. like & comen mu aku tunggu, krisan membangunnya jangan sungkan ya. Salam Literasi untukmu Readers sukses selalu untuk kita semua😊🌻🌻)
__ADS_1