
Selamat membaca...
🍒
🍒
🍒
...Bagaimana rasanya jika diselingkuhin? Kuat bertahan? Tetap bersikap baik? Jika tak mampu lagi tuk bertahan? Harus rela dan ikhlas dilepaskan? Sadar nggak? Secara tidak langsung berselingkuh dari pasangan halal itu sudah membunuh hubungan yang berkaitan! Hubungan yang terputus bukan cuma dengan pasangan suami istri saja, melainkan dua keluarga besar yang terjalin silaturahmi! Yang lebih parahnya lagi. Memutuskan hubungan darah daging antara orang tua dengan keturunannya! Iblis tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan hati dan pikiran anak manusia. Itu sesumbarnya!...
...🍒🍒🍒...
Suasana hunian kamar benar-benar sepi. Ruangan yang seharusnya menjadi tempat peraduan sepasang suami istri yang terjalin dalam ikatan janji suci itu, kini semakin terasa dingin dan hambar. Penghuninya disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
Setelah membersihkan dirinya. Mahen mencoba meredam kekacauan hatinya dengan duduk di balkon kamarnya. Secangkir kopi yang masih mengepul telah duduk manis di meja menemani kesendirian Mahen.
Hari yang sepi menjadi sempurna dengan hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya, disertai guntur dan kilatan petir yang menyambar di malam yang sunyi. Tak ada kabar dari Giska. Tetap berpikiran positif thinking, itu lah yang diterapkan oleh Mahen, agar hal-hal negatif tidak menggerogoti kesehatannya.
Mahen memejamkan matanya perlahan, merasakan hembusan angin yang menerobos kulitnya. Membayangkan sesuatu yang akan terjadi ke depannya. Pasti ada hati yang terluka dan kecewa, itulah kehidupan. Kita harus bisa melewatinya dengan baik atau bahkan terpuruk.
Isi dalam cangkir baru terminum setengahnya. Jarum jam juga sudah menunjukkan pukul 01.00 wib, pagi. Mahen mendengar suara mesin mobil yang baru memasuki di halaman luas hunian mewahnya. Terlihat pak Slamet baru saja menutup pintu gerbang yang terbuat dari besi bercat hitam bercampur gold.
Dengan santai wanita itu melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam rumah tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. Ia tak mengira suaminya ada di rumah, karena dia tidak melihat mobil yang biasa dipakai Mahen terparkir di garasi.
Pakaian yang melekat di tubuhnya pun terlihat sangat sexy. Giska berjalan masuk ke kamar dengan membawa seabrek tentengan belanjaan di tangan kiri dan kanannya. Hoby shopping bersama teman-temannya sosialita nya.
Giska yang tak mengira suaminya telah datang terlebih dulu dan tak menaruh curiga sedikit pun. Langsung masuk ke dalam kamar sambil bersenandung bahagia. Namun alangkah terkejutnya, tiba-tiba sosok tubuh tegap itu berdiri tepat di depannya. Setelah ia berhasil membuka pintu kamar.
Mahen!
Kedua netra Giska membulat sempurna, melihat pria tampan yang amat ia kenali, tengah berdiri dengan wajah yang sulit diartikan.
"Baby? Kamu sudah pulang? Kenapa nggak telepon aku?" senjata Giska mulai dikeluarkan. Ia bergelayut manja di lengan kokoh milik sang suami.
Mahen terdiam. Kali ini hatinya terasa kesal dengan kelakuan istrinya. Pikirannya terfokus pada istri siri nya yang pagi tadi resmi menjadi sepasang suami istri.
"Baby.. Kenapa diam begitu? Kamu tidak suka kalau aku pulang? Aku juga belikan kamu kaos couple dengan aku, kan keren---," belum selesai kalimat yang diucapkan Giska, namun Mahen telah memotongnya cepat.
"Duduk situ! Aku mau bicara penting sama kamu, Giska!" seru Mahen memerintahkan Giska duduk pada sofa yang ada di dalam hunian kamarnya.
__ADS_1
"Sekarang? Malam ini juga!" tanya Giska dengan wajah sendunya.
"Iya, sekarang! Ini sudah pagi. Bukan lagi malam! Lihat jarum jam itu. Sudah berada di angka berapa?" hardik Mahen tanpa senyuman di bibirnya.
"Baby..," Giska menyerang Mahen dengan rayuannya. Ia hendak mendaratkan bibir sexy nya di bibir Mahen yang terlihat mengairahkan di mata Giska.
Berbanding terbalik dengan keadaan Mahen, saat ini. Dia tengah mengabaikan wanita cantik yang sedang menyerangnya itu. Tangan kekarnya refleks menepis wajah Giska. Lalu ia memalingkan wajahnya dari hadapan istrinya.
"Baby, aku capek lho! Kenapa kamu yang marah!" pekik Giska merajuk.
"Aku sedang tidak bercanda, Giska! Pembicaraan ini penting!" tegas Mahen berdiri di depan Giska.
"Sepenting apa?"
"Sangat penting untuk keutuhan rumah tangga kita! Ini tentang keluarga kecil kita! Ada aku, kamu dan keturunan kita!" Mahen memperjelas ucapannya. Yang mendapatkan pelototan Giska.
"Kenapa kamu bahas itu lagi! Aku sudah bilang tahun depan, baru aku siap! Kenapa kamu tidak mengerti aku! Aku sekarang sibuk syuting film, Baby!" protes Giska.
"Selalu dan selalu itu alasan kamu! Capek syuting! Capek hura-hura!"
"Mahendra Wijaya!"
"Siapa suruh kamu kerja! Banyak artis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan penguasa ternama di negeri ini. Untuk dijadikan suaminya! Tapi kamu terbalik!"
Mahen sudah di titik terjenuhnya. Ia malas kalau berdebat dengan Giska. Wanita yang tetap memegang teguh prinsip egonya. Wanita yang susah diajak berkompromi. Berdiskusi tentang rumah tangganya.
Di saat suasana tegang dan semakin panas. Terdengar notif masuk benda pipih milik Mahen yang tergeletak di atas nakas.
Mahen meraih ponselnya dan membuka aplikasi hijau miliknya. Satu pesan terkirim dari sang assisten pribadinya.
Gala Hilton mengirimkan satu video yang langsung membuat ekspresi wajah Mahen menjadi murka. 'Ah, sial! Kenapa harus dia! Bagaimana aku harus berkata jujur pada Nayla!' gumam Mahen sembari beranjak dari posisinya dan segera keluar dari kamarnya.
"Urusan kita belum selesai! Kamu harus mempertanggung jawabkan kelakuan kamu!" ucap Mahen dan berlalu dari hadapan Giska.
"Mahen...!" teriak Giska tak terima dirinya ditinggal begitu saja oleh Mahen.
Hunian kamar yang kedap suara tidak akan pernah mengganggu penghuni rumah yang lainnya.
Mahen masuk ke dalam kamar kembali untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan.
__ADS_1
"Mahen! Mau kemana kamu?" tanya Giska penasaran.
"Bukan urusan kamu!" suara bariton Mahen menggelegar dalam kamar yang berisikan dua anak manusia yang sedang berdebat dengan argumentasi masing-masing.
Semakin panas suasana dan juga pikiran serta hati, pasangan suami istri yang dipenuhi emosi dan ego masing-masing.
"Jika kamu tidak menginginkan keturunan dariku! Jangan salahkan jika aku memilih wanita lain untuk menampung benih keturunanku!" ancam Mahen yang sudah tidak bisa ditolerir lagi oleh Giska.
"Mahen! Jangan gila dengan keputusanmu itu!" sela Giska.
"Aku masih waras, Giska! Yang gila itu kamu!" balik Mahen.
"Ja lang mana yang kamu pilih?"
"Jaga mulutmu! Mahendra Wijaya tidak akan memilih ja lang untuk menampung benih di rahim nya! Otak warasku masih bisa memilih wanita yang baik! Keturunanku akan terlahir dari ikatan pernikahan yang sah! Wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku adalah wanita yang akan menjaga akhlaq dan kehormatannya sebagai seorang istri!" camkan ucapanku.
"Aku wanita terhormat, Mahen! Dan aku selalu menjaga kehormatanku sebagai istri Mahendra Wijaya!" sahut Giska tidak terima akan ucapan Mahen.
"Terhormat katamu! Terhormat yang bagaimana Nona Giska? Terhormat dengan merendahkan harkat dan martabat nya sendiri sebagai wanita yang telah beristri! Instrospeksi dirimu, Nona Giska!"
"Apa maksud kamu, Mahen!" Giska tetap kekeh.
"Hahahaha.. Orang sudah tau dirinya salah, masih saja mempertahankan ego! Kamu kira aku tidak tau kelakuan kamu di belakangku! Atau itu semua hanya gimmik semata? Hubungan antara sang produser dengan artisnya itu, hanya untuk menaikkan rating film yang sedang kamu bintangi! Skandal sang produser dengan artis kebanggaannya! Bukan rahasia umum lagi, Giska! Tapi sungguh otak kamu sudah terbalik, Giska! Hanya sebuah karier yang kamuflase. Kamu tega menghancurkan pernikahan ini! Kepercayaanku kamu sia-sia begitu saja! Dan semuanya akan berakhir dengan sekali kedipan mata!" ujar Mahen dengan hati yang terbakar amarah. Sudah cukup dia mengalah dengan semuanya.
"Mahen! Aku bisa jelaskan semuanya!" Giska masih mempertahankan pembelaannya.
"Jelaskan saja di meja hijau! Kelakuanmu itu akan terjawab di mata hukum!" Mahen keluar kamar dan tak menoleh lagi ke belakang.
"Mahen!" teriakan kencang Giska tidak bisa menghentikan langkah Mahendra Wijaya.
Mahen tidak menggubris sedikit pun teriakan Giska. Ia menginjak pedal gas mobilnya kuat. Melajukan mobil sportnya ke hunian rumah barunya.
****
Nayla seketika membeku, saat melihat pria tampan yang tadi pagi telah resmi menjadi suaminya, berada di depannya dengan satu tangan terulur. Senyuman Mahen bak magic yang menjadikan raganya bak putri tidur. Semakin dalam Nayla tenggelam ke dalam manik biru pria tampan itu, semakin tak karuan pula getaran jantungnya.
'Oh, no! Stop Nayla! Jangan terperosok semakin dalam di pusaran cinta yang semu milik seorang Mahendra Wijaya! Kamu hanyalah istri siri yang tak berhak mendapatkan cintanya! Dia butuh rahimmu sebagai pengganti rahim istrinya untuk menampung benih yang ditanam, agar dia dapat memiliki keturunan! Ingat Nayla. Hanya satu tahun kamu dijadikan istri sirinya! Jangan berharap lebih!' Nayla berperang dengan batinnya.
Saat rasa dingin berembus dari pendingin ruangan, di saat itu pula kesadaran Nayla akan realita kembali. Matanya mengerjap beberapa kali, dan tanpa diduga, Nayla melepaskan tangannya dari genggaman Mahen.
__ADS_1
Mahen kembali berdiri di pinggir ranjang. Pandangannya langsung tertuju pada gadis belia yang kini resmi menjadi istrinya. Senyumnya mengembang ketika netranya terfokus pada Nayla yang tampak mengemaskan dengan balutan kaos putih yang kebesaran di tubuhnya. Gadis itu memakai kaos putih milik Mahen yang berganti fungsi sebagai mini dress, jika melekat di tubuh rampingnya.
🍒🍒🍒🍒🍒