
Selamat membaca..
💖
💖
💖
"Datang-datang tidak mengucapkan salam. Langsung ngegas"
"Terserah aku! Ini kantor milik suamiku! Mau aku nyelonong! Mau aku kalem, itu semua terserah aku!" oceh Giska seraya memasang wajah jutek sok jadi nyonya besar dari seorang pewaris tunggal Wijaya.
"Iya benar juga, ya. Ini kantor milik suami nyonya Giska. Mana ada hak saya mengingatkan, bahkan mengatur sikap anda. Tapi, saya rasa. Wanita cerdas dan terhormat itu tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Seharusnya menjadi istri dari seorang Mahendra Wijaya itu, bukannya wanita yang memiliki sikap kalem, anggun dan elegan? Apalagi memiliki scandal dengan seseorang di luaran," balasan kata Gala yang merubah ekspresi serta warna muka Giska menjadi jawaban yang sangat menyenangkan bagi assisten pribadi Mahen.
"Apa maksud dari ucapanmu? Seorang jongos tak pantas menghakimi nyonya Mahendra!" hardik Giska mengedarkan pandangannya ke segela arah dan memastikan di ruangan itu hanya ada dia dan Gala.
'Dikira aku tidak tahu kelakuan busukmu itu, nyonya Giska. Eh, salah. Setelah ini hanya menjadi mantan yang terlempar ke rawa-rawa Borneo,' batin Gala merasa geli mendengar ucapan Giska. 'Lebih baik jadi jongos dengan kelakuan terhormat.'
Kernyitan tampak jelas di kening Giska yang glowing. Ia terus mengawasi gerak-gerik pria muda yang menjadi kepercayaan suaminya.
"Sialan!" runtuk Gala Hilton. Dia sempat dibuat ketar ketir dengan berondongan pertanyaan dari wanita yang menatap tajam ke arahnya.
Bukan ide bagus jika dia harus membuat drama di depan istri tuannya dengan berpura-pura tidak tahu menahu tentang pernikahan siri tuannya. Bisa dipastikan dia akan jadi bahan tertawaan oleh wanita yang terbiasa memerankan sebuah lakon dan meraih banyak penghargaan.
Di saat kepalanya merasakan cenat cenut dan mulai dipenuhi berjibun pertanyaan serta sedikit ancaman dari Giska, nada dering benda pipih berwarna biru metalik yang tergelak di atas meja kerjanya, mengejutkan mereka berdua tiba-tiba, di saat ketegangan on fire.
Kesal! Bingung! Marah!
Rasa nano nano yang terbesit di hati dan pikiran Gala, tidak mungkin dituangkan pada si penelpon. Bisa-bisa dia didepak dari Perusahaan Wijaya Group ini.
__ADS_1
Gangguan yang tiba-tiba datang itu adalah dari orang yang amat ia kenal dan memiliki kuasa tertinggi di perusahaan itu. Ya, dia adalah Mahendra Wijaya.
Tampak jelas nama sang tuannya yang terpampang di layar ponselnya, saat ini. Mahendra menghubungi Gala di saat yang tidak tepat. Dibilang perusak suasana, dia takut diamuk.
Tapi, jika dia menjawab telpon dari tuannya, bisa-bisa wanita yang sedang menatap tajam ke arahnya, langsung mengambil alih ponsel kesayangannya.
"Woi, berisik! Cepat angkat dulu itu telepon! Bikin darah semakin mendidih aja!" titah Giska pada Gala.
Kepala Gala rasanya mau pecah. Mau jujur juga salah! Bohong, apalagi! Semakin puyeng.
"Ternyata cinta sang konglomerat itu terlalu rumit. Terlihat manis di depan mata. Pait di ujung-ujungnya," gerutu Gala dalam batinnya. "Belum lagi kalau terlibat scandal cinta deposit," sudut bibir Gala melengkung mengeja kembali kata deposit yakni kata lain simpanan.
Layar ponsel Gala menyala kembali. Suara deringnya memekat gendang telinga wanita yang berdiri melotot ke arah Gala, sembari melirik layar ponsel milik sang assisten andalan suaminya.
Dalam benak Gala saat ini tengah berteriak kencang, meminta kebebasannya. Hampir saja ia buka suara lantang. "Syukurin dech kamu! Sebentar lagi kamu dibuang ke comberan!"
Keberuntungan masih di pihak pria muda yang memiliki wajah tampan, idaman para cewek-cewek tulen. Bukan yang bertulang presto.
Gala menunjukkan sikap tenang di hadapan Giska, dengan mengembangkan senyum mengejek.
"Sini ponsel kamu! Aku mau lihat, siapa yang sedang menghubungi kamu!" lantang Giska ingin merebut benda pipih yang langsung di genggam Gala.
"Oh tidak bisa," tolak Gala mentah-mentah.
"Jangan belagu! Kamu hanya seorang buruh! Keset tetap keset, tak akan berubah jadi majikan!" hardik Giska berkacak pinggang.
"Sangat benar sekali, Nyonya Giska, yang anda ucapkan. Dan itu mencerminkan diri anda sendiri!" balasan menohok dari seorang Gala Hilton yang membuat Giska semakin meradang.
"Itu pasti Mahen yang sedang menelpon kamu!" bentak Giska lagi.
__ADS_1
"Kepo! Jadi orang itu jangan sok tahu! Dan jangan ingin tahu urusan orang lain! Biar nggak positif liver!" ujar Gala santai.
Dari tadi Giska berusaha sabar menunggu jawaban Gala tentang di mana suaminya. Namun, gara-gara si penelpon nggak jelas itu versi Giska sudah menambah rasa jengkelnya, semakin di ubun-ubun.
"Nih baca dan pelototi nama siapa yang tertera di layar ponsel saya, siapa yang sedang menghubungi!" ucap Gala dengan memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Giska, tapi tetap ponsel biru metalik itu dalam kekuasaannya.
ARKASA ADIPATI
Giska mengeja huruf yang tertera di layar ponsel Gala Hilton.
Mengesalkan!
Giska memalingkan wajahnya dengan cepat. Ternyata si penelpon bukan orang yang diharapkan. Satu detik kemudian, Giska sudah tidak lagi berada di ruangan Gala dengan terus mengomel saking kesalnya.
"Main petak umpet sama Giska? Mana bisa kamu Mahendra Wijaya! Kamu tidak akan bisa di miliki orang lain! Jika aku juga tak bisa memilikimu!" oceh Giska.
Sepeninggal wanita jutek yang meresahkan dari ruangannya, Gala terdiam. Pria muda yang mengabdikan tenaganya pada perusahaan Wijaya Group itu, menautkan jari-jarinya yang panjang untuk menompang dagunya di atas meja.
Lelah dan penat dalam beberapa menit yang lalu, beradu akting dengan sang aktris kenamaan. Kini, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Baru saja Gala memejamkan kedua netra nya. Suara berisik dari ponselnya, ingin segera disentuh.
Gala segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menempelkan benda pipih biru metalik itu ke daun telinganya.
"Segera ke ruangan ku, sekarang!" titah seseorang dari ponselnya dan langsung diakhiri tanpa ada percakapan lanjutan.
"Astaga, Ya Tuhan. Ada apa dengan hari ini? Laki bini semua pada sensi. Padahal ini hari penuh dengan warna pink. Seharusnya hari penuh dengan kebahagiaan bagi yang memiliki pasangan. Tapi tidak dengan para jomblo yang harus menghalu dulu sebelum memejamkan mata," Gala terkekeh sendiri, di kala rungunya mendengar curhatan hatinya. "Kerja.. Kerja.. Dan kerja! Bagaimana bisa memiliki boneka hidup? Waktu dan hariku habis untuk menyenangkan orang lain. Terus aku kapan bahagianya? Semoga toko bunga hari ini pada tutup semua! Pabrik coklatnya tidak lagi produksi! Restoran pada demo chef-nya! Hujan yang deras, itu pilihan yang terbaik buat para jomblo tidak keluar rumah. Karena hari yang dikutuk oleh para jomblo adalah hari sabtu. Mengsad!"
💖💖💖💖💖
__ADS_1