Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Siapa Kamu


__ADS_3

Happy reading..


🦆


🦆


"Nae..," pekik Rahardian dari dalam mobilnya. Lantas berlari ke arah Nayla yang tubuhnya limbung hendak terjatuh di lantai teras rumahnya.


Spontan Rahardian keluar dari mobilnya, berlari kencang untuk menyelamatkan Nayla, gadis yang telah memporak-porandakan hatinya.


Sesampainya di teras rumah Ayah Hadi, Rahardian segera menggendong tubuh ramping Nayla yang sudah terbaring di lantai.


"Ada apa dengan Nayla?" tanya Ibu Nayla yang buru-buru mengejar Nayla setelah mendengar cerita siapa sebenarnya Nayla Suherman.


"Nayla pingsan, Ibu," jawab Rahardian mengangkat tubuh Nayla dari lantai menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Ayah Suherman.


"Sebentar, Ibu juga mau ikut ke Rumah Sakit," tanpa persiapan Ibu Nayla bergegas masuk ke dalam rumah hanya untuk mengambil tas, lalu mengunci pintu rumah dan berjalan ke arah mobil Rahardian yang terparkir.


Rahardian membawa Nayla ke Rumah Sakit terdekat agar segera mendapatkan pertolongan. Untungnya jalanan tidak terlalu macet, sehingga Rahardian bisa mengendarai mobilnya sedikit ngebut agar segera sampai di Rumah Sakit.


Sesampainya di UGD. Nayla segera ditangani oleh perawat dan dokter jaga. Setelah Rahardian membaringkan tubuh lemah Nayla di atas brankar yang telah tersedia di ruangan itu.


Berjalan mondar-mandir itulah yang dilakukan Rahardian, saat ini dengan raut wajah yang penuh dengan rasa kekhawatiran. Takut terjadi yang tidak diinginkan pada diri Nayla. Sebentar-sebentar Rahardian menengok Nayla dari balik tirai putih yang dibuat untuk penyekat ruangan.


Sedangkan Ibu Nayla segera menghubungi nomor ponsel menantunya itu. Dengan jari jemari yang gemetaran Ibu Nayla memencet nomor Mahen. Ada rasa ragu dan takut yang mendera terlihat jelas di mata Ibu Nayla. Tapi sambungan telepon itu sudah terjawab oleh seseorang di sebrang sana.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mahen," sapa Ibu Nayla dengan salam sebagai pembuka ucapan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, iya Ibu," jawab Mahen dengan nada yang terdengar normal.


"Mahen maafkan Ibu," suara Ibu berubah melemah dan bergetar, membuat kaget Mahen.


"Ada apa dengan Ibu? Ibu sakit? Ibu ada di mana sekarang?" bertubi-tubi pertanyaan Mahen, namun satu pun tidak Ibu balas, hanya terdengar isakan tangis Ibu Nayla yang memenuhi indera pendengaran Mahen.


"Nayla.." Ibu menghela nafas panjang lalu menghembuskan kasar. "Maafkan Ibu, Mahen," hanya kata itu yang terucap dari bibir Ibu Nayla.

__ADS_1


"Kenapa Nayla, Ibu?" semakin tidak sabar Mahen harus menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Ibu mertuanya itu.


"Nayla pingsan," akhirnya kata itu terucap juga dari bibir Ibu mertuanya. "Sekarang ada di Rumah Sakit Airlangga," Ibu Nayla memberitahukan pada Mahen di mana Nayla mendapatkan perawatan.


"Ibu tenang ya, saya segera datang ke Rumah Sakit, sekarang juga," Mahen berusaha menenangkan hati Ibu mertuanya. Lalu menyudahi pembicaraannya dengan Ibu mertua. Kemudian bergegas memanggil assiten pribadinya yang menjadi orang kepercayaannya.


Wanita dengan memakai jas putih bertanya pada Rahardian. "Anda suami pasien?"


Rahardian menengok kiri kanan, bingung dengan pertanyaan dokter wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu.


"Kenapa?" tanya dokter itu lagi.


"Ehh, tidak apa-apa, Dok," Rahardian menggosok tengkuknya salah tingkah. Ia bingung harus menjawab apa.


"Saya, Ibunya Nayla. Pasien yang dirawat itu," wanita paruh baya menghampiri Rahardian dan Dokter wanita itu.


Dewa penyelamat dari rasa kegugupan dan kegalauan Rahardian di depan Dokter cantik itu. "Untung saja, Ibunya Nayla segera datang. Kalau tidak bisa malu aku di depan Dokter cantik itu," gumam Rahardian.


"Bagaimana kepada putri saya, Dokter," tanya Ibu Nayla dengan rasa khawatir yang tak kunjung hilang. Wanita paruh baya itu terus meremas jari jemarinya untuk meluapkan rasa gelisah yang dirasakannya, sejak tadi.


"Alhamdulillah, pasien tidak ada penyakit yang parah atau berbahaya. Pasien hanya cukup beristirahat total saja untuk sementara waktu. Tubuhnya kelelahan, mengakibatkan tensinya menjadi rendah. Dan saya sarankan agar pasien segera diperiksakan ke dokter Obgin untuk penanganan lebih lanjut," Dokter cantik itu berkata dengan lembut dan santun.


"Dokter Obgin? Apa si Nayla sedang mengandung, sekarang ini! Tapi siapa suami Nayla? Aku belum pernah mendengar kabar bahwa Nayla sudah menikah? Apa yang dikatakan teman-teman waktu itu, bukan hanya sekedar berita hoax? Jadi itu faktanya!" Rahardian sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan tersadar ketika lengannya disenggol Ibu Nayla.


"Nak Rahardian, tolong urus keperluan Nayla dulu ya. Ibu mau menghubungi suami Nayla dulu," Ibu Nayla meninggalkan Rahardian masih dalam kebingungannya.


'Ohh, dia bukan suaminya, ternyata. Ganteng juga sih' si Dokter cantik itu senyum-senyum sendiri mendengar bahwa Rahardian bukanlah suami dari si pasien.


-


-


-


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mahen kamu sudah sampai mana? Nayla harus segera dirujuk!" suara Ibu Nayla tiba-tiba terputus dari sambungan teleponnya dengan sang menantu.

__ADS_1


"Dirujuk? Emang kenapa dengan istri kecilku?" Mahen bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Kemudian dia berteriak. "Gaspollll... Gala! Ini urgent!"


Gala yang duduk di belakang kemudi, hanya bisa menganga melihat tingkah aneh sang Bos.


Menempuh waktu tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Gala sampai juga di pelataran Rumah Sakit Airlangga.


-


-


-


Tak.. Tok.. Tak.. Tok..


Suara langkah dari sepatu pantofel bermerek dengan harga mahal itu menggema di koridor Rumah Sakit yang merawat Nayla.


Setelah mendapatkan informasi kamar inap Nayla. Tanpa menunggu lama, Mahen langsung meluncur ke kamar yang dituju.


Walaupun tubuh terasa lelah dan letih tidak mempengaruhi niat awal Mahen datang ke Rumah Sakit itu. Dia hanya ingin segera menemui istri kecilnya dengan rasa khawatir yang membuncah. Akibat informasi yang diberikan oleh Ibu mertuanya tidak begitu jelas dengan keadaan istrinya.


"Lambat kali, jalanmu Gala!" bentak Mahen tanpa menoleh ke belakang.


Gala yang berlari mengikuti Bosnya dengan terus berbicara dengan kliennya lewat sambungan selulernya itu. Gala harus mem-pending dulu semua agenda Mahen hari ini, demi istri kecil kesayangan Mahendra Wijaya.


Sedangkan di brankar pasien masih tertutup rapat kedua mata wanita cantik yang terlihat pucat.


"Sayang.." pekik Mahen mendorong pintu coklat tua yang berbahan kayu itu, setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.


Pemandangan yang tak pernah ada di otak Mahen, tapi hari ini dia melihat dengan jelas. "Siapa kamu!" pekik Mahen dengan tatapan tajamnya siap menghunus sang lawan.


Seseorang yang duduk di kursi di samping bankar pasien, di mana Nayla sedang terbaring lemah dengan kedua matanya terpejam. Sedangkan seseorang itu menelungkup kan kepalanya di pinggiran bed dengan satu tangan menggenggam erat tangan Nayla.


"Astaga, perang dunia ke berapa ini?" gumam Gala dalam hati melihat ekspresi wajah sang Bos yang tak terbaca.

__ADS_1


"Hai, bangun kamu!" suara bariton Mahen memecah keheningan di ruangan serba putih itu.


💖💖💖💖


__ADS_2