
Selamat membaca..
🍒
🍒
🍒
Tak memiliki saudara kandung tidak membuat kesepian Nayla karena bagi dia memiliki kedua orang tua seperti Ayah Hadi dan Ibu Yunita yang sangat menyayanginya. Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba terenggut.
Ayah Hadi mengalami sebuah kecelakaan lalu-lintas dan meninggalkan Nayla bersama Ibunya.
Apakah Nayla rela dan ikhlas melepaskan kepergian Ayahnya? Tentu tidak jawabannya. Namun, semua ketentuan itu sudah tertulis rapih di dalam buku takdir Ayah Hadi Suherman.
Sekuat apapun Nayla menghentikan kepergian Ayahnya, tapi tetap dia tak berkuasa. Ia harus mengikhlaskan kepergian sosok Ayah yang sangat dia cintai. Ayah Hadi tidak sanggup berjuang melawan penyakitnya. Meninggalkan putri satu-satunya dan istri yang sangat dicintai.
Ditinggalkan Ayah memang tidak pernah mudah untuk siapa pun, apalagi untuk Nayla yang tidak memiliki satu pun saudara kandung. Ayah adalah sosok teladan bagi putrinya, walaupun surga bukan ada di telapak kaki Ayah. Ayah yang akan selalu rela dengan sekuat tenaga untuk membahagiakan keluarganya, membuat tersenyum setiap harinya serta melindungi dari segala bahaya yang mengancam keluarga nya. Ayah juga merupakan cinta pertama bagi putri dalam istananya.
Ayah Hadi adalah pria yang spesial, hadiah dari Tuhan yang dikirimkan untuk Nayla. Cahaya penuntun bagi keluarga kecilnya. Kini sosok itu telah pergi untuk selama-lamanya.
***
Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Teriknya matahari bersinar cerah mengiringi acara pemakaman Ayah Hadi, hari ini. Setelah tanah menutupi makam Ayah berbentuk gundukan tanah dan bunga telah ditabur di atasnya. Doa-doa telah dipanjatkan.
"Sayang, ayo pulang," lirih Mahen terdengar di rungu Nayla.
__ADS_1
"Nggak," jawaban singkat terucap dari bibir gadis yang masih terpukul oleh kepergian laki-laki yang sangat dicintainya.
"Istirahat dulu, sayang. Dari semalam kamu belum memejamkan mata. Besok kita bisa kembali ke sini, menengok Ayah Hadi," serentetan kata yang dilontarkan untuk istri kecilnya. Namun Nayla tetap kekeh tak ingin bergeser sedikit pun dari tempat itu.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku mau tetap di sini, menemani Ayah Hadi," ucapnya dengan suara terisak.
Tatapan Mahen meredup, seakan ucapan Nayla mencolos hati terdalamnya. Begitukah rasanya jika ditinggalkan pergi oleh orang terkasih? Seakan dunia ini runtuh tanpa ada benteng pertahanan lagi untuk menyanggah.
Sedangkan wanita paruh baya yang pingsan di atas tanah gersang yang memerah, telah di bawa pulang oleh tetangga terdekat Nayla.
Kerapuhan hati seorang istri sangat terlihat jelas ketika separuh nafasnya telah pergi untuk selama-lamanya. Sejauh jarak memisahkan pasangan suami istri, jika masih bisa berkomunikasi, hatinya tetap akan merasakan damai dan kebahagiaan. Kedatangannya pun masih bisa selalu ditunggu. Namun, jika sepasang suami istri telah dipisahkan oleh ajal takdir Alloh Yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Maka kedatangannya tak mungkin bisa diharapkan lagi. Hanya sebuah doa yang terpanjatkan di setiap sujud seorang istri sholehah teruntuk suami sholeh di Surganya Alloh. Dan berharap dapat berkumpul kembali, dikemudian hari.
Nayla mengganti posisinya. Kini ia duduk di samping gundukan tanah merah makam Ayahnya. Matanya menatap sedih, butiran kristal yang telah menganak sungai pun jatuh di pipi mulusnya. Pandangannya terfokus pada nisan yang terpasang di atas gundukan tanah.
"Kenapa Ayah begitu cepat tinggalin Nayla dan Ibu? Nayla belum bisa bahagiain Ayah. Nayla masih membutuhkan Ayah yang selalu ada di samping Nayla. Ayah yang selalu memeluk Nayla memberikan ketenangan dan kenyamanan, ketika Nayla terjatuh dan terpuruk. Ayah yang selalu memberikan kekuatan dengan motivasi-motivasi bijak Ayah. Yang selalu memberikan mood positif di pagi hari. Nayla tidak mau kehilangan Ayah. Lupakah Ayah yang telah berjanji pada Nayla untuk selalu menjaga dan melindungi Nayla. Rasanya baru kemarin Ayah mengajari Nayla berjalan, selangkah demi selangkah. Mengajari Nayla naik sepeda roda tiga. Belajar mengaji di setiap selesai sholat magrib sambil menunggu datangnya waktu sholat isya. Tapi semua itu hanya tinggal goresan dalam ingatan Nayla dan tak akan pernah terhapus oleh apapun."
"Sayang tak baik jika kamu berlebihan bersedih seperti ini. Kasihan Ayah Hadi di sana," selembut mungkin Mahen merayu istri kecilnya. Sembari membersihkan tanah yang menempel pada kain hitam yang membungkus rambut Nayla.
"Dengar aku! Jika kamu sayang Ayah Hadi berarti kamu juga harus sayang padaku! Karena akulah sekarang yang akan menjadi penerus Ayah Hadi untuk menjaga dan membahagiakan kamu dan juga Ibu Yunita!" ujar laki-laki tampan bertubuh atletis itu di indera pendengaran Nayla. Dengan menangkupkan kedua tangan kokohnya ke kedua pipi Nayla. Sedikit memaksa pada gadis belia itu untuk mengalihkan pandangannya dari gundukan tanah merah yang telah mengubur jasad Ayah Hadi.
Mahen berusaha untuk menarik Nayla berdiri dengan selembut mungkin. Direngkuhnya tubuh ramping Nayla yang terlihat ringkih ke dalam pelukan. Tak dapat menolak, Nayla terpaksa mengikuti pergerakan suaminya. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik lelaki tampan itu. Sedetikpun kemudian air mata Nayla menetes membasahi kemeja hitam lengan panjang bagian depan milik Mahen.
"Kuat! Harus kuat! Karena kamu gadisku yang ajaib!" kata Mahen sambil mengusap-ngusap lembut punggung Nayla. "Kamu tak kan sendiri menanggung rasa kehilangan sosok idola kita. Aku akan selalu ada untuk kamu!" janji Mahen pada Nayla di hadapan makam Ayah Hadi.
Sedangkan dari jauh para sahabat Nayla melihat adegan barusan menjadi pertanyaan besar di otak mereka. Ada hubungan apa Nayla dengan laki-laki yang pernah hampir menabrak Nayla dengan mobil mewahnya.
__ADS_1
"Siapa sih dia? Berani-beraninya memeluk tubuh Nayla ku!" pekik Rahadian, yang mengagetkan ke empat sahabatnya yang berdiri tidak jauh darinya.
Desi mengangkat bahunya sebagai jawaban tidak tahu, siapa pria yang sedang memeluk tubuh mungil sahabatnya itu.
"Apalagi aku! Pasti jadi nomer satu orang yang mengacung dengan jawaban tidak tahu juga!" sahut Wildan.
"Bau-bau nya ini, akan ada hati yang patah jadi dua," seloroh Reza, cowok muda yang juga menyimpan rasa untuk Nayla.
"Kamu yang patah hati!" hardik Rahadian sambil menunjuk ke arah Reza.
"Enak aja. Tentu kamu lah yang patah hati!" sahut Wildan sambil terkekeh.
"Sudah-sudah, kalian kok malah beradu argumen sendiri-sendiri!" suara Lina menengahi perdebatan anggota Clubs Marmut yang tanpa ada Nayla di antara mereka.
"Tapi, aku pernah melihat wajah pria tampan yang sedang bersama Nayla itu," Lina mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuk.
"Jangan sok tahu kamu!" ejek Reza.
"Tahulah! Tapi aku tidak tau namanya. Cuma dulu sempat dengar Nayla menyebutkan dengan nama Om Galak!" Lina mengingat sepintas nama itu.
"Oohh, orang yang mau nabrak Nayla tempo hari itu," sahut Rahadian ber o ria.
"Wah keren ini, ada saingan beratnya Rahadian," Wildan dan Desi berbarengan menggoda sahabatnya yang sudah kebakaran jenggot.
"Maju terus pantang mundur, Ian! Sebelum janur kuning dilengkungkan sama om tampan itu!" seloroh Reza, menggompor-ngompori suasana yang sudah panas lebih semakin hot.
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒