
Happy reading..
Mahen berjalan menghampiri sang Ibu mertua yang menatapnya sendu. "Aku akan jadi Ayah, Bu," ucap Mahen dengan suara bergetar sambil memeluk sang Ibu mertua.
"Selamat, Nak Mahen. Jaga selalu Nayla dan calon bayi kalian," ujar Ibu Nayla dengan penuh kebahagiaan di netra wanita yang sudah tak muda lagi itu.
Rahadian bergeming. Dia begitu terkejut dengan kabar bahagia yang barusan didengarnya. Gadis pujaannya, benar-benar telah menikah dengan pria yang sedang memeluk penuh kebahagiaan Ibu, dari sahabatnya itu.
Rahardian meremas rambutnya frustasi, sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk mendapatkan seorang Nayla Suherman. Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan. Hatinya telah patah.
Setelah membagi kebahagiaan dengan sang Ibu mertua, Mahen melepas pelukannya pada wanita paruh baya itu. Lantas dia menoleh ke arah sang tangan kanan yang selalu setia mendampinginya.
"Aku akan jadi Ayah," pekiknya.
Mahen berpelukan dengan Gala. Nampak jelas di wajah kedua pria tampan itu, kebahagiaan yang telah dinantikan. Sudut bibir keduanya melengkung, menerbitkan senyum cerah.
"Selamat, Bos. Kau akan jadi Ayah. Hasil tidak akan mengkhianati usaha," ujar Gala, yang ditimpali Mahen. "Usaha tidak akan mengkhianati hasil," keduanya terkekeh bahagia.
Ibu Nayla berkaca-kaca melihat kebahagiaan yang dirasakan sang menantu. "Ayah.. Kau pasti juga bahagia di sana, melihat putri kita akan menjadi seorang Ibu. Semoga pernikahannya selalu sakinah mawadah warahmah. Aamiin," doa Ibu untuk sang putri tercinta.
-
-
-
Cahaya matahari mulai meninggi. Mahen masih setia menunggui istri kecilnya, sedikit pun dia enggan untuk pergi meninggalkan Nayla, barang sejenak. Meskipun hanya untuk mengganti pakaian kotornya dengan yang bersih. Mengisi perutnya pun ia menyuruh Gala untuk membelikan makanan di restoran siap saji yang dekat dengan Rumah Sakit.
Tapi hingga kini, makanan tersebut masih tak tersentuh oleh Mahen. Hatinya sangat berbunga-bunga, saat ini. Akhirnya Nayla bisa hamil, memberikan dirinya keturunan yang dinantikan oleh Mama dan Papanya selama ini.
Beberapa saat berlalu, setelah membersihkan dirinya. Mahen keluar dari kamar mandi, lalu menghampiri istri kecilnya yang masih terpejam.
Mahen mengusap wajah Nayla, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup kening istrinya.
Nayla menggerakkan kelopak matanya, merasakan sebuah tangan membelai lembut pipinya yang mulus.
__ADS_1
"Sudah bangun? Bagaimana perasaanmu, sayang?" Mahen duduk ke tepian ranjang Nayla.
"Hmm.. Masih sedikit pusing," jawab Nayla lirih. Ia merasakan kelopak matanya masih terasa lengket untuk dibuka.
"Sayang, maafkan aku," ucap Mahen dengan wajah yang sangat terlihat bersalah.
Wanita yang masih terbaring lemah di ranjang pesakitan itu, hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami, sembari menyesuaikan cahaya yang masuk di matanya.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan, suamiku," Nayla menyentuh pipi Mahen membuat pola abstrak dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak peka dengan kondisimu."
Mahen mengatakan yang sebenarnya, karena dia juga belum mempunyai sebuah pengalaman untuk mengetahui wanita yang sedang hamil.
Nayla mengernyitkan dahi, mendengar ucapan Mahen. "Ada apa?"
Tangan kokoh Mahen turun ke perut Nayla, yang semula berada di wajah Nayla. Lantas mengusap permukaan perut istrinya yang masih rata tertutup selimut.
Nayla melengkungkan kedua sudut bibirnya ke arah Mahen. "Ada apa dengan perutku?" tanya Nayla seolah belum mengetahui kalau dirinya sedang mengandung.
"Kamu tak kenapa-napa kan, Sayang?" tanya Nayla dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Akhirnya keinginan kita terwujud juga, Sayang," jawab Mahen dengan wajah berseri-seri.
"Keinginan kita, maksudnya?" Nayla memasang wajah tak faham dengan yang diucapkan oleh suaminya, barusan. Dia ingin mengerjai Mahen.
"Sepertinya kamu memang harus istirahat total. Tidak boleh capek, tidak boleh kekurangan cairan. Bahkan asupan gizi harus seimbang."
"Ada apa sebenarnya? Katakan dengan jelas? Apa aku terkena penyakit yang serius, hingga aku harus istirahat total?" tanya Nayla dengan mimik wajah yang begitu menyedihkan.
"Tidak.. Tidak begitu, maksud aku, Sayang," Mahen bingung sendiri, melihat kepanikan Nayla yang dikarenakan perkataannya barusan.
"Aku hanya ingin kamu beristirahat total karena kamu harus tetap sehat, agar Mahen junior tumbuh dengan kuat dan sehat di dalam sini," Mahen menjelaskan pada Nayla begitu lembut sambil mengusap pelan perut Nayla.
Nayla membulatkan bola mata lebar dengan bibir yang menganga.
__ADS_1
"Mahen junior? Ba-bayi?" tanya Nayla memastikan. Walaupun dia sudah melihat sendiri garis dua di test pack yang dia pakai kemarin.
"Ya, sayang. Kamu sedang hamil, saat ini. Ada buah hati kita di dalam kandungan kamu," Mahen kembali menghujani wajah istri kecilnya itu dengan banyak kecupan.
"Alhamdulillah, Ya Alloh. Engkau telah mengabulkan doa hamba, setiap malam," buliran kristal bening itu, luruh juga dari kelopak matanya. Tak percaya dengan yang dikatakan suaminya tentang kabar bahagia dalam pernikahannya.
Pernikahan kontrak dalam satu tahun, itu yang dipegang oleh Nayla. 'Akhirnya aku bisa memenuhi syarat kontrak itu sebelum satu tahun.'
Berbeda dengan Mahen, yang tidak memikirkan tentang kontrak pernikahannya itu. Dia begitu bahagia. Mahen menempelkan keningnya ke kening Nayla, lalu memeluk tubuh lemah Nayla penuh kebahagiaan.
"Sayang, lapar," lirih Nayla.
"Ya ampun, maaf sayang, sampai aku lupa tidak menawarkan sarapan buat istriku tercintanya," kekeh Mahen.
"Tidak apa-apa. Aku maklumi itu, tapi tidak dengan hari-hari yang akan datang," Nayla mengerucutkan bibirnya.
"Iya.. Iya, jangan cemberut gitu."
"Kenapa kalau cemberut? Takut aku jelek! Terus kamu tak cinta aku lagi!" bibir Nayla semakin mengerucut.
'Astaga, salah lagi,' Mahen memijat pelipisnya.
Gala yang hendak masuk ke dalam ruang inap Nayla, mengurungkan niatnya. Ia menutup kembali pintu berwarna coklat itu.
"Mulai harus menyiapkan mental kembali!" Gala menggerutu sendiri seraya mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di depan ruang inap Nayla.
"Bos Mahen, menikah dengan Nona Giska. Saya yang pusing. Bos Mahen, menikah lagi dengan Nona Nayla, saya juga yang pusing. Sampai giliran Bos Mahen bercerai dengan Nona Giska pun, saya juga yang pusing mengurus perceraiannya. Dan kini, Nona Nayla hamil muda. Yang pusing tujuh keliling pasti saya." Gala memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut. "Ternyata enak-enak susah, jadi assisten pribadi itu. Enak kalau lagi terima gaji dan bonus. Tapi banyak susahnya. Hahaha," Gala terkekeh sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Hingga di saat, dua wanita berjalan di hadapannya, saling melempar pandang. Seolah-olah menanyakan kewarasan seorang Gala Hilton. "Dia tidak gilakan?" tanya perawat satunya yang sedang membawa botol cairan impuls.
Langsung ditimpali dengan perawat satunya, yang membawa buku catatan kondisi pasien. "Tau ah, cepetan jalannya. Takut kalau dia ngamuk, kita yang kena lempar kursi."
Kedua perawat wanita itu berjalan agak cepat sambil cekikikan, mentertawakan seorang Gala Hilton, pria tampan yang sedang merutuki nasibnya.
💖💖💖💖
__ADS_1