Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
PCSP 52


__ADS_3

Selamat membaca..


🍒


🍒


🍒


"Ada Bos Mahen di luar, mencari kamu," Helena memberitahukan pada Giska, kedatangan Mahen di apartemennya.


"Ada apa lagi, dia ke sini?" tanya Giska pada Helena sang manager.


"Tanya sendiri pada orangnya," balas Helena dengan malas.


Helena masih bersedekap di depan pintu kamar Giska. "Cepetan, jangan sampai dia menunggu lama. Bisa digorok lehermu," Helena mengingatkan Giska.


"Hufft," gerutu Giska dengan menyikap selimutnya dan segera beranjak keluar dari kamarnya menemui Mahen.


Wajah Giska yang terlihat pucat tanpa memakai make up. Setelah kejadian lalu, di mana Mahen sang suami di atas kertas itu, menangkap basah perselingkuhannya dengan Pramudya sang produser. Ia memilih tak lagi datang ke lokasi syuting untuk melakukan rutinitasnya sehari-hari menjadi seorang artis.


Ya, Giska telah melakukan kesalahan besar pada Mahendra Wijaya dengan menghianati kepercayaan suaminya selama ini. Tapi, dari semua rentetan kejadian itu, tidak semata-mata kesalahan dilakukan oleh Giska. Karena apa? Karena dia hanyalah alat untuk membalas dendam papanya. Herry Hutomo adalah Papa angkat dari Giska Hutomo. Nama Hutomo disematkan di belakang namanya, dia diadopsi oleh keluarga Hutomo dari sebuah panti asuhan Tali Kasih Ibu.


Menentang papa angkatnya sama saja dengan ia bunuh diri. Tapi, kenyataannya cinta Giska hanya untuk Pramudya Adiswara. Orang yang telah mengambil kesuciannya di malam itu. Cinta nya pun tak bertepuk sebelah tangan, karena Pramudya juga sangat mencintai Giska. Namun, sayang sekali. Cinta mereka tak mendapatkan restu dari Papanya Giska.


Giska bersedia menikah dengan Mahen hanya semata untuk membalas budi pada keluarga Hutomo, yang telah merawatnya sejenak kecil.


Dan kini, dia harus menerima kenyataan. Bahwa pernikahannya dengan Mahendra Wijaya telah di ujung tanduk. Walaupun hakim belum resmi mengetuk palu di meja hijau. Harapan untuk kembali rujuk dengan suami sahnya, itu sangatlah mustahil. Meski keabsahan pernikahan mereka di muka umum masih terlihat sebagai pasangan suami istri.


Beban mental dan moril sangat berat dipikul oleh Giska. Dia harus bisa menghadapi dan menanggung semua resiko yang terjadi nantinya. Di depan publik mau pun di hadapan keluarga besar Hutomo. Dilempar keluar dari rumah mewah keluarga Hutomo saja, masih untung. Tidak langsung dihabisi nyawanya.


Giska sendiri pun tidak pernah tahu dari motif dendam keluarga Hutomo pada keluarga Wijaya.

__ADS_1


Tatapan yang menghunus langsung mengarah ke netra Giska dari seorang pria tampan yang duduk di sofa. Suasana mencekam sangat terasa saat ini.


"Segera adakan jumpa pers, untuk mengklarifikasi semuanya! Bersihkan nama Nayla Suherman dari berita negatif yang disebarkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab! Atau aku akan membuka ke publik perselingkuhan kamu dengan Pramudya!" ancaman Mahen tidak main-main kali ini. Tidak ada sedikit pun senyuman yang menghiasi wajah tampannya.


Hati wanita yang duduk bersebrangan dengan Mahen mencelos sempurna.


Marah pun tiada guna bagi Giska. Mungkin ada benarnya kata-kata yang terucap dari bibir pria yang menikahinya tiga tahun yang lalu. Bahwa dia bukanlah istri yang cocok untuknya.


Walaupun pernikahannya dengan Mahen saat ini, bisa dianggap sebagai pernikahan toxic. Tapi, setidaknya dia tak melakukan penghianatan di belakang suaminya. Namun, yang terjadi adalah dia malah bermain api dengan sang produser. Jalinan cintanya yang sudah berjalan lama, sebelum Giska menjadi istri Mahen, itu tetap berjalan hingga kini.


Nasi telah menjadi bubur. Kata kiasan yang selalu menggema ketika suatu permasalahan telah hancur berserakan. Untuk diperbaiki lagi pun tiada guna.


"Ini hanya mimpi kan, Mahen?" tanya Giska dengan pandangan sendu dan kuyu.


"Nyata, Giska!"


"Apa kita tidak bisa untuk memperbaikinya lagi, Mahen?" sorot mata Giska dipenuhi kekecewaan mendalam.


Jawabannya bisa iya atau bahkan tidak!


"Pernikahan ini tidak bisa diperbaiki atau dipertahankan lagi, Giska!"


"Tapi, Papa, Mahen!" akhirnya pecah juga tangis yang sejak tadi dibendung oleh Giska.


"Aku yang akan berbicara pada om Herry. Kamu jangan pernah takut untuk menghadapi semua ini, karena sekarang kamu sudah punya Pramudya. Dia akan bertanggung jawab atas dirimu di masa depan. Dia adalah Ayah biologis dari janin yang kamu kandung, saat ini," ujar Mahen sedikit melunak suaranya.


"Maafkan aku, Mahen. Di sini aku lah orang yang patut disalahkan. Kenapa dari awal menikah denganmu, aku tidak berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Istri yang setia pada suaminya. Walaupun pernikahan kita ini adalah perjodohan dari kedua orang tua kita. Tidak seharusnya aku berkhianat darimu," ujar Giska seraya menghapus air mata yang membasahi pipi. "Kamu malu kan memiliki istri seperti aku, Mahen. Bahkan bisa-bisa kamu jijik melihat aku."


"Bicaramu semakin ngelantur, Giska! Cukup sampai di sini saja, kita tak perlu memperpanjang lagi masalah ini!" Mahen menghela nafas dalam.


"Gala," panggil Mahen.

__ADS_1


"Iya, Bos," Gala sudah berdiri di samping Mahen dengan membawa sebuah map.


"Mana surat itu?"


"Ini, Bos," Gala menyerahkan map berwarna merah ke arah Mahen.


"Berikan map itu pada Giska! Suruh dia untuk menanda tangani berkas perceraian itu, segera!" titah Mahen pada sang asisten pribadinya. Yang sangat jelas terdengar oleh Giska yang duduk di sofa panjang.


Giska membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari seorang Mahendra Wijaya.


"Nggak mungkin, Mahen!" teriak Giska. "Aku tak ingin bercerai dari kamu, Mahen!" Giska berdiri dari posisi duduknya, hendak berlari ke dalam kamar. Tapi tindakannya telah terbaca oleh Mahen.


Mahen mencekal tangan Giska. Dia menahan agar Giska tidak pergi dari tempat itu. Tapi, Giska dengan sekuat tenaga berontak berusaha melepaskan cengkeraman tangan kokoh Mahen.


"Aku mohon Mahen, lepaskan aku!" teriakan Giska bercampur tangisan yang menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarkan.


Hati Mahen seketika trenyuh melihat keadaan Giska, sekarang ini. Bukan maksud Mahen untuk menyakiti wanita yang pernah dinikahi nya itu.


Mahen merasa iba pada Giska. Untuk meringankan beban berat Giska. Mahen langsung memeluk erat Giska dan menyembunyikan kepalanya pada dada bidang miliknya.


"Maafkan aku, Giska. Dari awal aku sudah meragukanmu. Dan tidak ada sedikit pun cinta di hatiku untukmu."


"Lepaskan aku, Mahen," Giska memukul dada bidang Mahen, berulang kali.


Mahen membiarkan hal tersebut terjadi hingga kelegaan Giska.


Dalam benak Giska tak pernah menyangka, laki-laki yang menikahinya itu, bukan orang yang pendendam. Ia memiliki hati yang selembut salju dan seluas samudera. Bagaimana mungkin Mahen masih berkenan memaafkan perbuatannya yang sangat menjijikkan itu. Dia menganggap dirinya adalah wanita kotor yang tak patut di maafkan. Namun, kenyataannya. Mahen tidak sejahat yang dia bayangkan selama ini.


"Maafkan aku. Maafkan keluarga Hutomo, Mahen," isaknya.


"Jadilah Ibu yang baik dan bijaksana dari keturunan Pramudya. Dia laki-laki yang bertanggung jawab atas dirimu. Jangan sia-sia dia, Giska. Mulailah berdamai dengan keadaan, hingga kita menemukan kebahagiaan di dalam nya dengan cinta yang penuh ketulusan, bukan kepura-puraan."

__ADS_1


💖💖💖💖💖


__ADS_2