Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Pregnant


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


Beberapa jam yang lalu.


Setelah kepergian Mahen ke kantor, Nayla masuk ke dalam kamar nya kembali. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil sesuatu yang ditinggalkan tadi.


Pagi-pagi ia telah menampung air seni nya dalam satu wadah dan mengeluarkan testpack miliknya yang dibeli di apotik terdekat. Setelah melakukan prosedur yang tertulis pada bungkus yang di genggamannya.


Nayla merobek pembungkusnya perlahan dengan sedikit kegugupan.


Setelah menunggu beberapa detik testpack melakukan pengujian, ia berdiri dengan gemetaran melihat benda itu di atas wastafel.


"Apakah aku hamil? Dari kapan hari aku merasakan keanehan pada tubuhku?" Nayla bermonolog pada dirinya sendiri. Ia menanti dengan sabar sambil memejamkan mata.


Mondar-mandir dengan mengigit bibir di dalam kamar mandi untuk menghilangkan efek panik atau kata lainnya harap-harap cemas untuk menunggu hasilnya.


Garis dua yang begitu terang terpampang di testpack penguji.


Pregnant!


Garis dua, sebuah kenyataan dirinya kini tengah hamil, berbadan dua. Janin itu telah menghuni rahimnya.


Nayla tak kuasa menahan air mata. Hingga penglihatannya kabur untuk melihat benda itu.

__ADS_1


"Aku hamil? Ya Alloh, benarkah ini?" Nayla meraba perutnya yang masih rata. "Kau telah hadir di sini, sayang. Terimakasih, Ya Alloh. Engkau telah mengabulkan doa yang aku panjatkan setiap malam. Terimakasih, Ya Alloh. Engkau telah memberikan jalan terbaik untukku membayar hutang janji pada Tuan Mahendra Wijaya," lirihnya sambil terus memeluk testpack itu.


****


Kedatangan Nayla di rumah orang tuanya kali ini, tidak hanya untuk sekedar mengunjugi Ibunya. Dia akan mengabarkan berita gembira yang tadi pagi di dapatnya.


Sebelum mengabarkan berita gembira itu kepada sang suami. Nayla ingin mengabarkan pada sang Ibu terlebih dahulu.


Nayla masih diam berdiri di depan pintu kamar Ibunya. Ia melihat punggung Ibunya dengan memeluk foto begitu erat dan berlinang air mata sambil terus berbicara sendiri seolah-olah Ibunya sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam foto itu.


Nayla melangkah perlahan tanpa ada suara yang mengganggu fokus Ibunya. Dua perempuan berbeda generasi yang berada di satu ruangan yang sama. Tapi Ibu Nayla tidak mengira jika putrinya saat ini sudah berdiri dibelakang nya dan mendengarkan semua keluh kesah yang disampaikan pada seseorang yang tidak akan pernah bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita yang menangis sesenggukan tersebut.


Nayla menunduk lesu. Sepertinya tenaga di dalam dirinya menguar entah ke mana rimbanya. Kakinya sudah tidak sanggup menompang tubuhnya berdiri. Tatapannya menjadi buram, tak mampu menatap wanita yang begitu disayangi yang tengah fokus tertuju pada sebuah foto keluarga.


"Ibu," lirih Nayla.


"Semua tidak benarkan, Ibu? Ibu bohong, kan? Kenapa Ibu nggak mau jujur dengan Nayla? Nayla adalah putri kandung Ayah dan Ibu, kan?" Nayla terus mendesak. Air matanya pun tumpah. Ia merasa ada hal penting yang sengaja disembunyikan oleh sang Ibu. Ia kecewa.


"Nayla, putri Ibu dan Ayah Hadi Suherman," kata wanita yang duduk di pinggir ranjang yang jelas sekali menimbulkan tanda tanya besar di kepala perempuan muda nan cantik itu.


"Ibu bohong! Katakan yang sejujurnya Ibu! Seperih apa pun kenyataannya, Nayla akan dengar semuanya," Nayla yang tak sabar segera mengejar jawaban dari sang Ibu.


"Tidak Nayla. Ibu menangis karena mengingat Ayah. Ibu merindukan Ayah Hadi. Sudah lama Ibu tidak mengunjungi makam Ayah kamu. Bagaimana kalau kita ke sana sama-sama, di saat kamu memiliki waktu luang. Kamu bersedia kan mengantar Ibu ke makam Ayah kamu?" Ibu Nayla mencoba tersenyum. Senyuman yang terbit untuk menenangkan sang putri yang terus mendesaknya dengan serangkaian pertanyaan yang belum sanggup di jawabnya saat ini.


Mendengar penyangkalan itu, Nayla mencoba mencari kejujuran di mata sang Ibu. Benarkah yang dikatakan Ibunya, barusan. Ataukah semua yang didengarnya tadi, itu salah besar? Atau sebuah kebenaran tentang dirinya masih enggan dikatakan oleh sang Ibu.


Jauh di dalam relung hati wanita paruh baya itu, terasa sakit yang luar biasa. Bagaikan pisau tajam menghujam tepat jantungnya. Sebuah kebenaran tentang siapa diri Nayla, benar-benar menyakitkan sampai-sampai ia tak sanggup berhadapan dengan putrinya yang menuntut jawaban dari nya. Ia menahan sesak yang teramat sangat di hatinya. Sakit!.

__ADS_1


"Kenapa harus berbohong, Ibu? Nayla sudah mendengarkan semuanya. Dan ingatan Nayla sembilan tahun yang lalu tak mungkin hilang begitu saja," Nayla membalas ucapan sang Ibu.


Skakmat. Wanita paruh baya itu bungkam seribu bahasa. Ingin membantah semua ucapan Nayla pun, rasanya tak ada keberanian.


'Maafkan Ibu, Nayla. Tapi kenyataannya, kamu adalah bukan putri kandung Ayah dan Ibu. Kami mengadopsi kamu di usia kamu dua tahun dari Panti Asuhan Ikhlas Hati. Maafkan Ayah dan Ibumu ini, sampai-sampai kamu rela menikah muda dengan menjadi istri dari Mahendra Wijaya. Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi Ayah Hadi. Kamu sudah melakukan segala cara demi Ayahmu, hingga kau mengambil keputusan sepihak tanpa meminta pendapat pada Ibu yang tak bisa apa-apa ini. Maafkan Ibu...'


Itu semua hanya terucap di batinnya saja.


Perempuan muda itu mendekat lalu bersimpuh pada wanita paruh baya yang sangat dicintai nya itu.


"Ibu, Nayla mohon katakan sejujurnya siapa sebenarnya kedua orang tua kandung Nayla?" ucapnya dengan deraian air mata yang sudah tak terbendung lagi.


'Ya Alloh, hambamu ini tak sanggup untuk berkata-kata.'


"Ibu," lirih Nayla.


"Setiap malam di sujud kami memohon pada Alloh Subhanallahu Wa'tala untuk dikirimkan lentera cahaya pengisi keceriaan istana kecil kami. Hingga beberapa tahun doa kami akhirnya dikabulkan oleh-Nya yaitu dikirimkan seseorang malaikat kecil nan cantik itu adalah kamu. Kami mengadopsi kamu dari Panti Asuhan Ikhlas Hati untuk menjadi putri kami yang telah lama kami rindukan," Wanita itu menjeda ucapannya dan menghela nafas panjang. Rasanya tak sanggup lagi untuk melanjutkan kalimatnya yang tertunda.


Ibu Nayla beranjak dari posisi duduknya, berjalan ke arah lemari kayu yang berdiri kokoh yang ada dalam ruangan itu dan segera membukanya untuk mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang telah lama disimpannya.


"Hanya ini yang melekat pada tubuhmu waktu itu," wanita itu menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berinisial NM dan satu setel pakaian anak berusia dua tahun pada Nayla.


Nayla menerimanya dengan mata yang sembab. Hingga detik berikut nya pandangan Nayla tiba-tiba kabur dan tak sadarkan diri. Hingga membuat Ibunya terkejut.


"Nayla!" teriak Ibu.


💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2