Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
PCSP 50


__ADS_3

Selamat membaca...


🍒


🍒


🍒


"Sudah malam, besok kerja," Nayla menutupi bibirnya yang menguap.


"Tidur aja dulu, aku belum ngantuk," cengir Mahen sembari mengerlingkan sebelah matanya ke arah Nayla yang sudah tinggal lima watt.


"Om mau apa?" tanya Nayla menarik selimut hingga menutupi dadanya.


Nayla belum memejamkan kedua matanya dengan sempurna. Tiba-tiba tangan Mahen menarik tengkuk Nayla, dengan cepat menyatukan bibir mereka. "Aku mau ini."


Netranya terbelalak sempurna. Nayla membeku, di saat rasa kaget yang belum memudar. Bibir Mahen sudah menguasai bibirnya intens. Tatapan yang mengintimidasi membuat otot-otot tubuh Nayla seketika lemas. Indera penglihatannya yang semula terbuka lebar, kini mulai perlahan terpejam menikmati luma tan- luma tan dari bibir berwarna pink tua milik sang suami.


Mahen menatap intens dan tersenyum. Dia merapikan anak rambut Nayla yang nakal menutupi wajah cantiknya.


Apa perlakuan simpel dari Mahen itu bisa dikatakan sebagai tanda cinta. Dari pelukan yang teramat nyaman. Hingga perlakuan-perlakuan sikap yang membuat Nayla bukan lagi hanya sebagai istri siri atau sekedar di atas kertas. Rasa kagum itu bukan lagi seperti simbiosis mutualisme yang pernah tertuang di kontrak perjanjian beberapa saat lalu, sebelum keduanya terikat dalam janji suci yang terucap dari bibir seorang Mahendra Wijaya.


Kehadiran keduanya membawa perubahan besar pada pribadi masing-masing. Dunia Mahen tidak lagi terpuruk dengan pernikahannya yang semu bersama Giska Hutomo. Sedangkan buat Nayla, mengenal arti cinta sesungguhnya yang didapat dari pria yang ada di hadapannya, kini. Mahendra Wijaya, suami sahnya. Meskipun pernikahan mereka belum terdapat di negara. Akan tetapi tetap sah di hadapan Alloh Subhanallahu Wa'taalla. Sah secara agama.


Mahen mengangkat dagu Nayla, hingga tatapan keduanya terpaut.


"Aku milikmu sepenuhnya, Nayla Suherman. Dan kamu tercipta hanya untuk aku miliki. Aku mencintai kamu, istri kecilku. Gadis kecil yang ajaib," bisik Mahen di telinga Nayla. Tangan kokoknya menyusuri wajah cantik Nayla. "Tidak ada seorang pun yang dapat merebutmu dari sisiku."


Kata-kata azimat yang disuarakan oleh pria tampan itu, begitu menyejukkan dan menenangkan jiwa Nayla yang galau dan gelisah. Kata-kata yang mengandung ketegasan dan juga pengikatan hak milik.

__ADS_1


"Sayang," desis Mahen dengan wajah yang tak berjarak. Membuat wajah Nayla berhias semburat merah. "Aku menginginkanmu malam ini." Mahen bisa melihat wajah cantik istri kecilnya yang tersipu malu.


Dengan senyum manis yang mempesona hati suaminya. Nayla mengangguk pelan dan mengulurkan sebelah tangan untuk mengusap rahang tegas milik Mahen yang mengetat. "Aku milikmu malam ini, Mas.. Aku ikhlas kau menikmati tubuhku. Walaupun hatimu bukan untukku," lirih Nayla.


Mata Mahen semakin berkilat penuh naf su. Kembali bibirnya menempel dan menikmati bibir Nayla menggebu. Satu tangannya pun tak dibiarkan menganggur. Kini dia mulai menyusupkan ke dalam tank top putih yang dikenakan Nayla untuk mencari benda kenyal lembut, mainan baru yang sangat disukainya.


Dan beberapa detik selanjutnya, entah siapa yang memulai tapi sekarang ini, tubuh pasangan pengantin baru itu sudah sama-sama polos tanpa kain yang menempel.


Kelembutan kulit putih milik Nayla yang menghipnotis Mahen membawanya menjelajahi setiap inchi tubuhnya dengan aroma khas yang menyeruak membuat sang suami semakin menggila dan bergairah. Petualangan Mahen berhenti pada puncak benda kenyal yang telah mengacung indah. Puncak Semeru yang mengundang hasrat seorang Mahen semakin bersemangat untuk mendaki dengan diiringi suara ******* yang memanggil namanya.


"Aahh.. Sayang," ekspresi tubuh Nayla yang tidak bisa dibohongi, seolah-olah memperlihatkan pada pria yang mengungkungnya, saat ini. Benar-benar diselimuti oleh rasa yang tak bisa terbendung lagi. Terbang ke awang-awang bersama pasangan halalnya, yang melambungkan namanya ketika kenikmatan terasa tanpa bisa dijeda.


Petualangan keduanya yang sangat panjang dan melelahkan, hanya mereka yang bisa merasakannya.


Hanya terdengar lenguhan panjang dari bibir perempuan cantik yang terkungkung di bawah tubuh berotot milik Mahen. Ia tak kuasa menahan kenikmatan yang tercipta beberapa menit yang lalu hingga berganti jam. Dan berakhir di puncaknya. Sementara itu, diri Mahen yang belum mencapai puncak Mahameru, ia terus mengejar nikmatnya pendakian.


Hembusan nafas panjang kelegaan dari indra penciumannya. Tanda sebagai puncak keberhasilan dia bercocok tanam malam ini. Sambil terus menciumi tubuh istri kecilnya, Mahen memperbaiki posisi istrinya yang berbaring di atas ranjang besar nan mewah itu, agar merasakan nyaman dalam tidurnya. Sebagai penutup aktifitasnya dalam berolahraga malam, Mahen mengecup kening istri kecilnya dengan lembut dan penuh cinta suci.


"Terimakasih, sayang. Sudah melayaniku dengan keikhlasan hati dan senyum manismu, selalu mengiringi dalam setiap gerakmu. I love you, Nayla Suherman, pemilik hatiku!" ucap lembut Mahen dengan senyum yang tersinggung di bibirnya dengan rasa senang dan bahagia.


Nayla hanya bisa mengangguk pelan. Tubuhnya sudah tak memiliki tenaga lagi. Dan dalam hitungan detik saja, ia sudah terlelap dalam tidur indahnya.


Mahen memeluk mesra tubuh ramping istrinya, seolah-olah tak ingin melepaskannya.


****


Keesokan paginya. Matahari tengah mengintip dari celah jendela kamar yang sedikit tersingkap karena tak tertutup dengan sempurna.


Nayla mulai mengerjap, lalu mengucek pelan indra penglihatannya, agar mau terbuka lebar. Ia merasa sedikit sesak. Tubuh rampingnya seperti menahan beban yang lumayan berat!

__ADS_1


Nayla yang tertidur miring itu, berusaha menetralkan segala pikirannya agar kembali normal dan sadar.


Kepalanya terasa berada bukan di atas bantal, melainkan sesuatu yang mengeluarkan kehangatan.


Perempuan itu menoleh ke belakang dan terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Astaga! Kenapa bisa begitu? Apa semalam aku tertidur berbantal dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis itu? Senyaman itukah tidurku dan dia?"


Posisi tidur yang benar-benar nyaman dirasakan oleh kedua anak manusia yang berbeda jenis kelamin itu. Bibir Mahen menempel di puncak kepala Nayla.


Tapi saat ini kenapa Nayla merasakan geli di bagian puncak semerunya. Seakan ada jari seseorang yang tengah memelintir dan menariknya.


Tubuh mereka hanya berbalut selimut, tanpa sehelai benang apapun sebagai pembatas tubuh Nayla dan Mahen.


Aneh? Jari-jari siapa?


Perempuan itu menoleh ke belakang lagi, ia bisa melihat dengan jelas. Jika sepasang mata milik suaminya tengah terpejam. Kelopak mata yang tertutup rapat itu ditumbuhi bulu-bulu panjang dan tampak lentik. Tapi, sungguh. Kejanggalan yang dirasakan Nayla. Dengan mata terpejam, namun jari-jarinya berkelana liar memainkan puncak gunung semeru miliknya.


"Oom!! Aku potong jarimu!!" pekik Nayla.


Dasar Mahen, selalu mengambil keuntungan dalam keadaan apapun. Meskipun teriakan istrinya, memecahkan gendang telinganya sekali pun. Kedua matanya tetap saja tertutup rapat. Tapi jangan salah! Akal sehatnya teramat baik fungsinya. Ia menahan kekehannya agar tidak diketahui tipu muslihatnya oleh istri kecilnya.


"Bangun atau aku gantung si Jalu!" seru Nayla, membuka selimut.


Alangkah terkejutnya Nayla. Melihat si Jalu yang nampak menggantung dengan volume full power.. Yang tak bisa diungkapkan dengan apa pun!


"Kau menggodaku, sayang," suara serak khas bangun tidur itu terdengar di rungu Nayla.


"Kaburrrrr!!!" Nayla beranjak dari ranjang king size itu.


💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2