Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Pergi


__ADS_3

Selamat membaca..


🍒


🍒


🍒


POV Nayla


Malam semakin larut, hujan deras menguyur kota tempat tinggal ku. Air bening itu terus meluncur bebas membasahi kedua pipi, pikiranku tidak tenang. Setelah beberapa menit yang lalu mendapatkan kabar, bahwa kondisi Ayah, drop kembali.


Rasa panik saat aku mendengar suara ibu yang menelponku dengan berteriak histeris, menyuruhku segera datang ke rumah sakit, di mana Ayah sedang menjalani perawatan.


Aku tidak memperdulikan lagi diriku atau pria yang berstatus suamiku. Saat ini yang aku pedulikan hanyalah Ayah. Keselamatan Ayah lah yang lebih penting, dalam pikiranku. Masalah lainnya aku enyakan terlebih dulu.


Pria tampan yang berada di depanku. Membulatkan bola matanya dengan sempurna, saat menyadari kondisi kritis Ayah Hadi. Alih-alih marah padaku atau merajuk, tidak nampak di wajahnya yang mulus. Dia memilih untuk segera mengantarkan ku ke rumah sakit. Walaupun dia harus bersusah payah untuk meredam gejolak hasrat yang telah menduduki di pucuk kepala si Jalu. Dia lebih mendahulukan urusanku. Nyawa Hadi itu yang lebih penting. Karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput.


****


Rumah sakit xxxx


Aku dan Mahen terus melangkah dengan rasa panik yang luar biasa menuju ICU. Tanpa harus ke ruang informasi pun, aku sudah hafal betul di mana Ayah Hadi di rawat saat ini.


Tangan Mahen terus menggenggam tangan kananku mulai dari turun mobil hingga melewati meja informasi.


Malam ini masih terlihat hiruk pikuk, beragam macam pasien yang datang dan pergi. Rupanya UGD Rumah sakit ini masih ramai. Ada beberapa perawat dan dokter jaga melangkahkan kakinya dengan gesit menyambut kedatangan pasien yang sangat membutuhkan pertolongan. Ada pasien korban kecelakaan. Pasien melahirkan, pasien percobaan bunuh diri dan bermacam-macam pasien yang harus segera di tolong.


Ketika kita berdua melewati meja informasi, ada beberapa petugas yang duduk di belakang meja informasi terkejut dengan kedatangan kita. Desas-desus dan bisik-bisik yang negatif mulai berhamburan menguar begitu saja tanpa harus dikomando.


****


Di saat aku dan Mahen telah sampai di depan ruangan tertutup itu. Terlihat sosok rapuh yang menopang kepala dengan kedua tangannya. Duduk sendiri di atas kursi yang ada di depan ruang ICU.


Walaupun perasaan kacau dan khawatir yang tengah menyelimuti diriku. Aku berusaha tegar dan kuat di hadapan wanita parau bayah yang telah membesarkan aku dengan kasih sayang yang memanjakan aku.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ibu," salamku pada Ibu, sembari langsung mendaratkan tubuhku tepat disebelah Ibu.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," Ibu membalas salamku.


Kemudian terdiam kembali, tidak banyak bicara. Sedangkan Mas Mahen berdiri di sisi kananku dengan mengusap-ngusap punggung, untuk memberikan ketenangan dan kekuatan. Walaupun di hatinya juga merasakan kecemasan.


"Sabar ya, Bu. Ayah pasti kuat di dalam sana," lirihku sambil menggenggam kedua tangan Ibu yang berada di pangkuannya. Untuk memberikan energi positif agar Ibu tetap tegar dan kuat.


Tiba-tiba terdengar suara yang keluar dari bibir Ibu. "Bagaimana dengan Ibu, jika Ayah pergi terlebih dahulu? Ibu pasti tak akan sanggup untuk menjalani hidup sendiri tanpa Ayah," Ibu terisak sesenggukan.


Seketika kata-kata Ibu barusan menampar mukaku. Sebegitu cinta dan setianya Ibu pada Ayah, hingga rasa kehilangan yang belum terjadi sudah terbesit dalam hatinya. Pernikahan yang dijalani Ayah dan Ibu selama ini selalu berjalan baik-baik saja. Walau terkadang ada sedikit ombak dan kerikil yang menghalang. Mereka berdua selalu bisa mengatasi dengan caranya. Saling percaya dan setia, selalu berkomunikasi di setiap harinya.


Suasana hening tiba-tiba berubah panas dan kepanikan terjadi kembali.


Terdengar suara langkah sepatu yang saling bersahutan dari orang-orang yang berseragam putih, bergerak cepat mendekati ruang ICU. Ada pula yang keluar dari ruangan tersebut dan berjalan terburu-buru dengan ekspresi panik.


Nayla mendongakkan kepalanya.


Melihat ekspresi di wajah-wajah perawat yang lalu lalang di hadapan nya. Membuat bertanya-tanya pada hatinya. Rasa penasaran yang tinggi memehuni ruang hati nya, saat ini.


Nayla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan wanita yang duduk di sebelah nya, dengan kepanikan yang tak terukur.


Melihat situasi genting seperti itu. Mahen segera berdiri dari posisi duduknya. Dan langsung berjalan menghampiri laki-laki muda yang baru saja keluar dari ruang ICU.


Sementara di dalam ruangan ICU masih terjadi kepanikan dan ketegangan di wajah-wajah orang yang mengelilingi pasien yang terbaring di pembaringan pesakitan dengan mata tertutup rapat.


Seorang dokter tampan yang memakai jas putih, spesialis jantung, tertegun sejenak. Tangannya bergerak cepat dan bibirnya memberikan perintah pada perawat-perawat dan juga dokter jaga yang berada di dalam ruangan bercat putih itu.


"Cepat!" perintahnya.


Perawat laki-laki pendamping dokter tampan itu, dengan cepat dan sikap mempersiapkan alat-alat tindakan intubasi.


Tangannya gemetaran memasukkan selang mencari celah. Di saat salah satu dokter jaga yang lainnya melakukan tindak resusitasi kompresi dada dilakukan berulang kalo sesuai dengan prosedur yang tertera.


Sedangkan dokter tampan yang lebih kompeten itu, memberikan instruksi berbagai obat untuk memompa jantung disuntikkan untuk mempertahankan hidup si pasien agar dimasukkan dengan cepat.

__ADS_1


Waktu terus berputar cepat. Penanganan semaksimal mungkin dan doa yang terucap dalam hati seorang dokter tampan yang berdiri di samping brankar.


Netra perawat yang lain, menatap EKG. Jika jantung yang normal berkisar di antara 0,12 sampai 0,20 detik. Namun yang terlihat di EKG, pasien saat ini tidak normal.


"EKG, berapa?" tanya dokter tampan itu.


"Flat, Dok," jawab cepat dokter jaga yang lain.


Sudah dilakukan resusitasi hingga naik ke atas brankar pasien. Namun denyut nadinya tak kembali.


"Bagaimana midriasis nya?" tanyanya kembali dengan tetap berdiri tegak.


"Maksimal, Dok," ujar salah satu perawat dengan serentetan laporan tentang perkembangan pasien.


Mendadak suasana hening kembali. Tidak ada pergerakan dari semua orang yang ada dalam ruangan itu.


Dokter tampan itu mengusap wajahnya kasar. "Innalillahi wa innalillahi rojiun," ucapnya tiba-tiba. Dengan langkah kakinya melambat mundur dari samping brankar pasien


Meninggalkan kerumunan orang yang berseragam putih yang mengelilingi pasien


Ceklek.


Pintu ruangan itu, akhirnya terbuka dengan laki-laki berseragam yang keluar dari ruangan yang mendebarkan jantung orang-orang yang menunggunya di kursi tunggu depan ruangan tersebut.


Mahen bercakap-cakap dengan dokter tampan itu, menanyakan keadaan Ayah mertuanya yang sedang memperjuangkan hidup di dalam ruangan bernuansa putih.


Sedetik kemudian, suara lantang gadis belia yang memukul lengan dokter itu dengan kasar. "Dasar pembunuh!" ucapnya mencekat telinga orang-orang yang mendengarnya. "Kembalikan Ayahku! Pembunuh!" teriaknya lagi.


Ibu Nayla terdiam. Hanya buliran-buliran bening yang meluncur bebas menghiasi wajah lusunya.


Dokter tampan yang berdiri mematung menatap gadis belia yang terus memukulinya membabi buta menggemparkan suasana hening malam di rumah sakit itu. Suara yang berteriak histeris bercampur butiran kristal yang mengalir di pipinya.


"Sabar, sayang," Mahen memeluk erat tubuh istri kecilnya yang menyerang terus Dokter yang berdiri di antara mereka.


"Pembunuh! Dia pembunuh Ayahku!"

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍒


__ADS_2