Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Pakai Daster


__ADS_3

Selamat membaca...


💖


💖


💖


"Jalan, Sur!" titah Mama Siska pada Surya, supir pribadi yang bertugas mengantar dan menjaga Mama Siska ke mana pun perginya.


Nyonya besar keluarga Wijaya itu, duduk di bangku penumpang belakang supir. Sambil terus mencoba menghubungi seseorang, tapi hingga berkali-kali nada tersambung ke nomor yang di tuju. Namun tidak ada satu pun panggilan terjawab dari sebrang.


Surya melajukan mobil berwarna merah maroon itu keluar dari halaman luas mansion utama keluarga Wijaya. Perlahan berbaur menjadi satu dengan kendaraan lain di jalan raya.


"Kita mau ke mana, Nyonya Siska?" Surya membuka suara bertanya pada nyonya besarnya.


Mama Siska mendongak sebentar ke arah Surya tanpa berkata-kata. Lalu, sibuk kembali dengan benda pipihnya di tangan.


Pria yang tidak bisa dibilang masih muda itu pun bertanya kembali pada nyonya besarnya. Merasa pertanyaan nya belum mendapatkan jawaban yang pasti.


"Nyonya Siska, kita jadi ke mana ini?" tanya Surya kembali sembari melihat ke arah spion tengah.


Wanita cantik yang berusia hampir setengah abad itu, berdecak karena ulah supir kepercayaannya, dengan pandangan masih fokus ke arah layar ponselnya.


"Bertanya sekali lagi, aku kasih hadiah payung kamu, Sur!" semprot Mama Siska kesal. Hati yang dongkol gara-gara putra semata wayang nya tidak segera mengangkat panggilannya. Diikuti sang assisten pribadi nya juga sama-sama mengabaikan panggilan urgent nya.


"Buat apa payung, nyonya Siska?" pertanyaan absurd Surya memeruncing emosi Nyonya Siska.


"Buat tameng jigongmu!" semprot Mama Siska memanas.


'Ada-ada saja nyonya besar ini. Dikira mau demo kali bawa tameng segala, pakai payung lagi,' Surya hanya berani menyuarakan suaranya yang cempreng dalam hati. Boro-boro mengencangkan volume nya, yang ada terkena semburan lumpur lapindo lagi.


Surya tetap melajukan kereta besinya di atas aspal hitam yang mulai terasa panas oleh teriknya matahari siang hari. Ia masih ingin menutut jawaban dari beberapa kali pertanyaan yang diajukan pada majikannya itu. Untuk sementara waktu, biarkan saja dia menjadi si kepo dengan rasa keinginan yang tinggi. Rasa yang melesak jauh dalam pikirannya dan tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan jawabannya, karena ada misi tersendiri dari tuan mudanya.


Sedangkan sang nyonya besar masih tetap bungkam dengan jari-jari lentiknya sibuk mengoperasikan benda pipih yang jadi fokusnya, saat ini.


"Nyon---," bibir Surya terhenti berbicara, dengan posisi terbuka separuh.


Mama Siska menghela nafas panjang. Lalu memukul lengan Surya dengan kencang.

__ADS_1


Plakk..


"Punya mulut itu jangan seperti emak-emak komplek napa, Sur! Nyerocos terus sebelum mendapatkan apa yang dimau!" Mama Siska menyemprot Surya lagi.


"Maafkan, kelancangan saya, nyonya besar," ucap Surya meminta maaf pada Mama Siska. "Lalu, kita jadi ke mana ini, nyonya besar?" Surya kekeh pada pendirian.


"Ke pasar!" singkat Mama Siska.


"Ke pasar? Mau belanja apa nyonya besar?" Surya semakin kepo.


"Beli daster!" pekik Mama Siska.


"Untuk siapa nyonya? Tumben ke pasar, belinya?"


"Buat kamu Surya palahmu minta diketok magic!" sungut Mama Siska, murka.


"Ampun, Nyonya besar," ucap Surya dengan memegangi kepalanya yang terkena jitakkan panas Nyonya besarnya.


"Enak? Mau lagi? Nih masih ada bogem buat orang yang kepo!" hardik Mama Siska.


Ada apa dengan sang majikan hari ini?


Surya semakin curiga. Tapi dia tetap berusaha senormal mungkin, agar tidak terkena amokan sang nyonya besarnya lagi.


Surya mengerucutkan bibirnya. 'Orang ganteng begini disuruh pakai daster. Gimana nih nyonya besar, bisa hilang wibawa dan ketampanan seorang Surya Saputra Adjie Notonegoro," omelan random dalam batin Surya yang terbaca oleh nyonya besar nya.


"Bukan Notonegoro, Sur! Tapi noto boto putih buat dinding rumahmu!" sahut Mama Siska menahan tawa gelinya melihat ekspresi bibir Surya yang lancip, ingin sekali menguncirnya pakai karet dua seperti beli rujak dibungkus kertas minyak ditandai karet masing-masing di penjual rujak langganan di kampung.


"Sur, kamu tahu alamat ini, nggak?" akhirnya Mama Siska mengulurkan ponsel canggihnya ke arah Surya yang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan sepi, sesaat.


"Rumah siapa, nyonya Siska?" tanya Surya dengan raut wajah yang sangat penasaran.


"Ditanyain, malah balik bertanya! Kayak anak paud kamu, Sur. Lama-lama nggak tambah pinter, tambah meresahkan! Aku lukir saja kamu dengan Daru! Biar kamu jadi supir Bapak, biar diketok magic tiap hari itu kelapa batok!" sungut Mama Siska.


"Jangan nyonya besar, maafkan saya. Beneran ya, jangan dilukir saya dengan Daru," mohon Surya.


"Maka nya kerja yang fokus!" Mama Siska menghembuskan napas kasar.


"Jadi in---,"

__ADS_1


"Ikuti map yang ada di layar ponselku itu!" titah Mama Siska.


"Baik, nyonya besar," jawab patuh Surya.


****


Tok.. Tok.. Tok..


Gala cengar cengir di depan pintu coklat yang bertulisan CEO, sembari terus mengetuk daun pintunya. Hari ini ia ingin iseng pada tuan mudanya, padahal sang bos sudah mengetahui bahwa dia yang ditunggu nya di dalam ruangan tertutup itu.


Gala yakin, saat ini raut wajah tuannya berwarna merah membara. Karena beberapa saat lalu bermain petak umpet dengan istri pertamanya.


Pemuda tampan itu melengkungkan sudut bibirnya, ketika mendengar suara dari dalam ruangan yang memintanya masuk ke dalam ruangan yang berpenghuni dia seorang.


Gala membuka sedikit daun pintu berwarna coklat tua itu, lantas menyembulkan kepalanya saja ke dalam ruangan sambil celingak celinguk.


"Cepat masuk!" titahnya hanya dengan melirik saja.


"Hehehe.." Gala mengayunkan langkahnya gontai ke arah meja besar dalam ruangan itu.


Setelah sampai di depan meja besar itu, Gala tidak langsung mendaratkan pantatnya di kursi depan meja.


"Duduklah! Seperti tamu agung aja harus disambut!" kini fokus Mahen beralih pada sosok tubuh yang sedang berdiri tegak di hadapan nya.


"Iya, bos. Kirain kursinya khusus buat tamu agung aja, bos," iseng Gala yang mendapatkan tatapan tajam Mahen.


Gala membalas tatapan sang bos dengan tersenyum tipis. "Kirain, jongos seperti saya tidak boleh duduk di kursi itu, bos."


"Mulutmu.. Mulutmu! Lancip sekali! Minta ditendang!" kata Mahen seraya melempar bulpen ke arah Gala.


"Wusssh.. Untung saya bisa menghindar bos," Gala geleng-geleng kepala.


Di saat keduanya sedang serius membahas sesuatu yang sangat rahasia. Tiba-tiba keheningan ruangan itu terpecahkan oleh suara dering ponsel yang tergelak di atas meja kerja Mahen.


Wajah tegas pria tampan berwibawa itu segera menggeser tombol hijau dengan jari telunjuknya yang kokoh, untuk membungkam agar tidak terus menjerit.


Namun, belum sempat dia berkata-kata. Sudah terdengar suara khas wanita yang sangat dikenal dalam hidupnya.


"Mahendra Wijaya, segera pulang sekarang! Atau kamu tidak akan bertemu dengan Nayla Suherman, lagi!"

__ADS_1


Seketika tubuh kekar pria itu menegang mendengar kabar yang baru saja ia dengar.


💖💖💖💖💖


__ADS_2