Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
PCSP 53


__ADS_3

Selamat membaca..


🍒


🍒


🍒


Sebulan berlalu, Mahen dan Nayla bisa bernafas lega tanpa ada gangguan lagi dari netizen yang julid dan suka membully.


Hari ini Mahen memberikan sebuah kejutan pada Nayla, karena dia sudah lama tidak mengunjungi tempat itu. Semenjak masalah waktu itu.


"Mas, kita mau ke mana sih?" tanya Nayla dengan memandangi jalan yang dilaluinya.


Mahen hanya tersenyum, tanpa ingin memberitahukan, kemana tujuannya. "Kalau aku beritahu sekarang, bukan kejutan lagi itu namanya," kekeh Mahen seraya mengacak rambut Nayla.


"Iihh, tangannya itu nggak usah jail, napa," sewot Nayla. "Jadi acak-acakan rambutku," bibir Nae seketika monyong.


"Begitu lebih keren," jawaban Mahen langsung mendapatkan respon plototan mata istri kecilnya.


"Apa? Apa, Nae tak dengar?" Nayla menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya, lalu mendaratkan di pinggang suaminya. "Orang jail itu perlu dikasih hadiah ini," ucap Nayla di telinga Mahen.


"Auww.. Ampun.. Ampun..," tangan kiri Mahen langsung menggenggam lembut jemari Nayla yang mencubit pinggangnya.


Sembari menciumi tangan kanan Nayla, pria tampan yang tak pernah bosan dipandang mata itu, tetap fokus pada jalan di depannya yang dilalui roda empat nya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Mahen dan Nayla turun bebarengan. Lalu berjalan bergandengan tangan menuju makam Ayah Hadi.


Nayla tersenyum senang, ternyata sang suami juga selalu mengingat Ayahnya.


Mahen tidak melepaskan genggaman tangannya pada Nayla. Kini mereka berdiri di depan batu nisan yang bertuliskan Alm. Bpk. Hadi Suherman.


Nayla meletakkan seikat bunga di atas makam Ayahnya, yang sudah dipersiapkan oleh Mahen, tanpa sepengetahuannya. Lalu keduanya memanjatkan doa. Menyiramkan air di batu nisan Ayah Hadi dari sebotol air mineral. Mahen semakin mempererat genggaman tangannya pada Nayla, seakan-akan tidak ingin terpisahkan dari istri kecilnya itu.

__ADS_1


Hati siapa yang tidak senang dan bahagia diperlakukan orang yang mencintai dan dicintai setulus hati. Mahen mengecup berkali-kali punggung tangan wanita yang sangat dicintainya. Terlihat di wajah cantik Nayla, tersungging senyuman yang manis menyambut perlakuan suaminya itu di depan makam sang Ayah. Nayla menoleh sekilas pada pria yang telah mengisi hatinya beberapa bulan ini, kemudian kembali menatap ke batu nisan di hadapannya.


"Ayah yang tenang di sana, ya. Nayla sudah ada pengganti Ayah yang menjaga Nayla di sini. Mahendra Wijaya, suami Nae yang akan menjaga Nae sampai menua bersama," ucapnya pada Ayah Hadi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jika dibilang Nayla sudah mengikhlaskan kepergian Ayah Hadi, tentu jawabannya dengan berat hati, tapi semua takdir dan ketentuan nya. Kita tidak akan bisa menolak atau pun menghindari. Kita hanya bisa mendoakan agar dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya. Diterima amal ibadah nya.


Mahen merasa kebahagiaannya semakin bertambah, ketika sang istri kecilnya dengan bangga mengatakan hal itu pada Ayah Hadi. Mahen mengecup pelipis Nayla begitu dalam dan membacakan doa untuk istri kecilnya. Sebelum akhirnya menatap ke arah pusara mendiang Ayah Hadi Suherman.


"Ayah bisa mempercayakan semuanya pada Mahen. Saya akan selalu berusaha menjaga dan membahagiakan Nayla, hingga ajal menjemput dan mempertemukan kembali di SurgaNya Alloh. Aamiin," ucap Mahen pada makam Ayah Hadi, sedikit membungkuk kan badan untuk memberikan hormat pada sang Ayah mertua.


"Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robballallamin," sahut Nayla tersenyum lebar. Lalu Nayla menyandarkan kepala di lengan kekar Mahen. Dan sebagai penghormatan sebelum mereka meninggalkan makam Ayah Hadi, keduanya berdiri cukup lama tanpa suara, hanya terdengar suara dedaunan yang berjatuhan dan ranting bergesekan tertiup angin yang sejuk.


***


Di dalam sebuah kamar yang terlihat sunyi tanpa ada suara yang berisik.


Mahen berjalan menuju ranjang yang ada di dalam kamar hunian mereka di mansion utama milik keluarga Wijaya.


Nayla yang fokus dengan layar sentuhnya, tidak menyadari kehadiran suaminya di dalam kamar itu.


'Apa yang membuatnya fokus menatap layar ponselnya itu? Apa yang dicari Nayla pada aplikasi ternama itu, yang selalu bisa saja menjawab pertanyaan dari sang pemakai aplikasi,' kekepoan Mahen sedang on saat ini.


Nayla tertegun sesaat mendapati sang suami sudah berada di sampingnya sambil mengintip ke layar ponselnya yang sedang on di salah satu aplikasi.


"Heem," jawab singkat Nayla.


Sekilas sebelum mengagetkan Nayla, pria itu sempat membaca tulisan yang tertera di layar ponsel istri kecilnya itu. CARA MENYENANGKAN SUAMI DI ATAS RANJANG.


"Kenapa harus susah-susah bertanya kepada mbah Kosim? Boros kuota! Mending langsung praktek dengan orang ini!" Mahen menunjuk dirinya sendiri sambil mengucapkan kata-kata yang langsung mendapatkan respon kerutan dalam di dahi Nayla.


"Wait? Apa maksudnya?" tanya Nayla pada Mahen. Tanpa sepengetahuan Nayla, Mahen sejak tadi menangkap basah gerak-geriknya.


"Kamu sedang baca apa itu?" pertanyaan Mahen yang menohok, langsung membuat Nayla gelagapan malu.


Degg

__ADS_1


Nayla merasakan detak jantungnya kembali terpompa dengan sangat cepat. Ia harus segera menormalkan kembali detak di salah satu organ terpenting di tubuhnya.


'Biasa aja, Nayla! Jangan terlihat gugup di hadapan pria pemangsa itu! Bisa-bisa diterkam kamu, sekarang juga!' gumam Nayla absurd.


"Tidak lihat apa-apa," jawab santai Nayla, tapi terdengar berbeda di telinga Mahen.


Mahen dengan cepat menyambar ponsel yang ada di tangan Nayla. "Sini aku mau lihat juga," kekeh Mahen.


"Aah, balikin! Mulai resek kan!" wajah Nayla sudah merah merona walaupun tanpa pemerah pipi.


"Hufft..!" Nayla menggembungkan pipinya. Reflek Nayla menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu, perasaan itu seketika mendarat di wajah cantiknya yang terlihat polos di mata Mahen.


Mahen terkekeh.


"Kau selalu mengemaskan, lucu sweet candy!" ledek Mahen yang menangkap bas4h istri kecilnya sedang bertanya pada suhunya aplikasi.


Kata-kata Mahen langsung membuat Nayla mencebik bibir.


Entah kenapa, laki-laki itu selalu saja bisa menangkap gerak-geriknya. Dan membiarkan dirinya tetap menjadi Nayla Suherman, tanpa menuntut berlebihan. Walaupun terkesan sikap Nayla bak anak kecil yang selalu mengemaskan di mata Mahen.


Aneh! Tapi itulah faktanya!


Nayla membuka telapak tangannya perlahan yang beberapa saat lalu menutupi wajahnya. Ia menyapukan pandangan ke segala arah. Hening.


'Ke mana orang resek itu? Apa dia sudah keluar dari kamar? Tapi aku tidak mendengar suara pintu terbuka atau tertutup, tadi?' Nayla menerka-nerka sendiri.


Untuk memastikan keadaan di dalam kamar tanpa adanya Mahen sang perusuh ketenangan Nayla.


Nayla menggeser tubuhnya hingga ke pinggir ranjang, namun belum juga kakinya menyentuh lantai, dia sudah dikejutkan oleh suara bariton pria yang sangat familiar di indra pendengarannya.


"Hayo mau kabur ke mana?" Mahen langsung keluar dari persembunyiannya di balik sprei yang menjuntai di hingga menyapu lantai. Lalu mendekap tubuh Nayla.


"Astaga! Mahendra Wijaya, tidak lucu ini! Aku bisa terkena serangan jantung mendadak!" omel Nayla berusaha melepaskan diri dari jebakan sang suami.

__ADS_1


Hanya terdengar suara kekehan Mahen yang sangat bahagia, bisa mengerjai istri kecilnya.


💖💖💖💖


__ADS_2