Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Lontong


__ADS_3

Selamat membaca...


🍒


🍒


🍒


Tok tok tok


Wanita paruh baya mengetuk pintu coklat itu.


Nayla bergegas membuka pintu kamarnya yang terketuk dari luar. Ia masih memakai bathrobe dan belum sempat menggantinya. Rambutnya yang tergerai setengah basah membuat wajah Nayla lebih terlihat segar.


"Iya, ada apa bik?" tanya Nayla pada wanita paruh baya yang telah mengabdi puluhan tahun pada keluarga Wijaya.


"Nyonya Siska dan Tuan Wijaya sudah menunggu di meja makan," ujar wanita paruh baya itu dengan mengulas senyum.


"Oh, iya, Bik. Saya ganti baju dulu," jawab Nayla dengan tutur yang sopan.


Nayla menutup kembali pintu kamarnya, lalu memberitahukan pada Mahen, jika Mama dan Papa nya sudah menunggu di meja makan untuk makan malam bersama.


"Sayang.. Masih lama kah? Sudah ditunggu Papa sama Mama," Nayla membuka sedikit pintu kamar mandi dan hanya memasukkan kepalanya saja.


"Sebentar lagi selesai," balas Mahen di bawah guyuran air shower.


Setelah bersiap, mereka pun keluar kamar, berjalan ke ruang makan. Di sana sudah menunggu Papa dan Mama Mahen.


Mereka berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Kini empat orang yang bervariasi usianya itu, bercengkrama merasakan kehangatan keluarga.


"Apa kalian jadi menginap malam ini?" tanya Mama Siska pada menantu barunya.


Menjawab pertanyaan dari sang Mama mertua, Nayla mengangguk dengan bersuara lembut membuat Mama Siska melebarkan senyum.


"Iya, Ma. Mas Mahen minta menginap malam ini di sini."


"Gitu dong, kan jadi ramai rumah ini. Apalagi ada anak kecil yang berlarian saling berkejaran. Jadi tidak sepi lagi rumah ini," ujar Mama Siska, yang sudah diketahui maksud oleh Mahen.

__ADS_1


"Tak perlu kode-kode, Ma. Langsung aja ngomong sama Nayla. Aku buatin cucu yang banyak biar ramai rumah ini," Mahen menjelaskan kode yang Mama Siska yang ditujukan untuk mereka berdua.


Nayla hampir tersedak dan menyemburkan isi dalam mulutnya, mendengar penjelasan dari sang suami.


"Pelan-pelan, Sayang. Isi dulu perut kamu biar kenyang dan memiliki tenaga. Habis itu, baru kita bekerja lembur menggali saluran pipa PDAM sampai pagi," celutukan Mahen yang membuat merah merona wajah cantik Nayla.


'Anak sama Mamanya klop banget. Sama-sama sengklek bin oleng. Masa tiap hari suruh lembur. Dikira enak gitu main kuda-kudaan yang membuat tulang-tulang remuk redam. Tapi, kalau dibilang nggak enak. Kenapa orang-orang banyak melakukannya berkali-kali sampai persendian rasanya lumpuh,' monolog absurd Nayla mulai bekerja.


"Sayang, jangan membayangkan lontong gondrongnya. Karena lontongku terawat," kata Mahen sambil mengedipkan sebelah matanya.


'Astaga, ini si om-om sudah terkontaminasi sama bang Bridav, kali ya?' bathin Nayla ingin marah tapi ya gimana. Masa ada lontong gondrong. Dikira mie lurus yang sudah di rebonding, jadi tak keriting kruwel lagi.


Mahen menatap wajah Nayla yang tersenyum sendiri.


"Hayo, lagi bayangin lontong gondrong, ya," kekeh Mahen setengah berbisik di telinga Nayla.


"Apa?" Nayla balik bertanya lewat kode isyarat mata dan bibir yang berbicara namun, tanpa bersuara.


"Habis ini ya, sabar dulu sayang," Mahen semakin menggoda Nayla.


"Sudah, sudah. Jangan kau goda terus istrimu nanti bisa jadi kepiting rebus," Mama Siska mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, agar tidak membuat Nayla tersipu malu terus.


Nayla dan Mahen saling pandang. Nayla terlihat jelas bingung akan menanggapi apa pertanyaan dari Papa mertuanya itu. Hingga Mahen angkat bicara mewakili istrinya.


"Kita belum membicarakan ini sama Ibunya Nayla, Pa. Kita harus meminta ijin terlebih dahulu, karena Ayah Nayla juga barusan meninggal dunia. Hari berkabung Ibu, mungkin belum usai," Mahen menjelaskan pada Papa dan Mamanya.


Di sudut kedua netra Nayla telah tergenang cairan bening. Hatinya tiba-tiba merindukan kembali sosok pahlawan dalam hidupnya. Ayah Hadi yang selalu menjaga dan melindunginya selama ini, telah berpulang kembali kehadirat Alloh Subhanallahu Wa' taalla.


"Ya sudah nggak apa-apa, santai aja dulu kalian. Masih banyak waktu juga," Papa Mahen menengahi pembicaraannya.


Hingga hampir satu jam mereka bercengkrama. Waktunya kini mereka berdua pamit untuk beristirahat.


"Ma, Pa. Kita ke pamit ke kamar dulu," pamit Mahen yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh Mama dan Papanya.


"Jangan lupa kunci pintunya, Mahen. Jangan sampai satpol PP beroperasi lagi. Dan kamu terciduk," guyonan Mama Siska sekaligus meledek putra kesayangannya itu.


"Siap! Mahen kasih tulisan di depan pintu. Dilarang lewati sini, maaf ada galian PDAM hingga waktu yang tidak dapat ditentukan kapan selesainya," kekeh Mahen semakin menambah rasa panas di wajah Nayla.

__ADS_1


'Ya, Alloh. Benar-benar nih anak sama Mamanya, minta dimasukin ke dalam kuali jadi bebek potong angsa,' oceh Nayla dalam hati. Dia tak berani mengeraskan suaranya, bisa-bisa dirinya yang digantung di pohon terong.


****


Setelah selesai makan bersama dan berbincang ringan dengan Papa dan Mama Mahen. Akhirnya Mahen dan Nayla pun kembali ke kamarnya.


Nayla yang terbaring di atas ranjang king size yang berada di tengah-tengah ruangan itu, sambil menatap ke langit-langit kamar. Ia memikirkan keadaan ibunya yang berada di rumah yang berbeda dengannya. Meskipun, kini Ibunya sudah ada yang menemaninya. Mahen memperkerjakan dua orang assisten rumah tangga untuk menjaga dan melayani Ibu Nayla.


Mahen keluar dari kamar mandi, melihat Nayla yang sedang melamun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" tanya Mahen yang sudah ikutan berbaring di samping tubuh Nayla, sambil mencium kening Nayla, dalam.


Nayla menoleh ke arah Mahen, membuat Mahen lebih leluasa memandang wajah istrinya yang menenangkan jiwanya.


"Eh, tidak ada apa-apa," Nayla mengulas senyum.


"Jangan bohong, pasti kamu lagi menyimpan sesuatu dari aku," Mahen tidak lantas percaya dengan ucapan istri kecilnya itu.


"Beneran nggak bohong, swear dah," Nayla mengangkat jari telunjuk dan tengah ke arah Mahen.


"Sini cium dulu. Baru percaya," Mahen memonyongkan bibirnya.


"Itu sih maunya, om-om mesum aja. Tak ada yang lain lagi kah?" Nayla melengos.


"Hei, kenapa kau buang muka dari suamimu yang ganteng ini?" kekeh Mahen seraya menggelitik pinggang ramping Nayla.


Nayla yang tak tahan dengan gelitikkan Mahen pun tertawa terbahak-bahak.


"Ampun, Tuan om mesum. Aku jangan diperkosa," kata Nayla yang membuat Mahen semakin menempelkan tubuhnya.


"Biarin, siapa juga yang larang. Istri-istri ku sendiri. Mau aku perkosa juga nggak apa," ledek Mahen.


"Stop! Nae kencing di celana lho. Jangan gelitikin terus, napa!" protes Nae yang sudah tak tahan ingin kencing di celananya.


"Ayaaaaang..!" pekik Mahen, ketika tangannya terasa hangat.


"No komen! Suyukurin dibilangin nggak percaya!" Nayla langsung lari ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


💖💖💖💖💖


__ADS_2