Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Siap Ibu Komandan


__ADS_3

Happy reading..


"Surya!" panggil Nyonya besarnya.


Merasa namanya dipanggil oleh Nyonya besar, Surya tergesa-gesa melangkahkan kakinya ke arah sumber suara tersebut.


"Iya, Nyonya," nafas Surya terdengar ngos-ngosan. Dia berdiri dengan sikap tegap.


"Antarkan aku ke rumah sakit, sekarang juga!" titahnya dengan menjinjing tas bermereknya.


"Rumah sakit mana, Nyonya?" tanya Surya ingin memperjelas perintah Nyonya besarnya.


"Ya salam! Gala!" pekik Mama Siksa, menepuk keningnya. "Assisten gemblung, aku kok nggak dikasih tahu rumah sakitnya!" kesal Mama Siska.


"Emangnya, siapa yang sakit, Nyonya?" tanya Surya lagi, dengan sangat hati-hati. Dia takut merusak mood baik Nyonya besarnya, hari ini.


"Tidak ada yang sakit, Surya! Tapi kabar bahagia datang dari rumah sakit itu," ujar Mama Siska dengan meneruskan langkahnya hingga di teras rumah.


Surya segera membukakan pintu mobil untuk sang Nyonya besarnya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Mama Siska bergaya terlebih dulu, mengambil gambar dirinya. Lalu mengunggah di media sosialnya.


Foto Mama Siska, diberi caption.


"Alhamdulillah, Puji Syukur Kehadirat-Mu Ya Alloh. Penerus Keluarga Wijaya, akhirnya terbit menyinari kebahagiaan Keluarga Wijaya."


Mama Siska telah masuk ke dalam mobil dan duduk di jok penumpang. Sedangkan Surya juga sudah siap di belakang kemudinya.


"Kita jadi ke Rumah Sakit mana, Nyonya Siska?" tanya Surya sebelum melajukan kendaraan yang dikemudikan nya.


"Diam dulu, kenapa Sur! Berisik kamu! Lama-lama kayak Emak-emak komplek, rempong banget!" omel Mama Siska seraya menempelkan benda pipih ke daun telinganya.


Tut.. Tut.. Tut..


Sambungan telepon pun tersambung dengan orang yang dihubungi Mama Siska.


"Rumah Sakit apa namanya, Galon!" cicit Nyonya Siska, ketika terdengar suara sapaan dari sebrang telepon.

__ADS_1


"Iya, Nyonya besar. Di Rumah Sakit Airlangga," jawab seseorang dari sebrang telepon.


"Ya sudah! Kasih kabar kok nggak lengkap, kayak cicilan panci Emak-emak Rempong! Loon, Galoon!" Mama Siska langsung menutup teleponnya, sebelum orang di sebrang sana menyelesaikan ucapannya.


'Mother and child are alike. Hanging up the phone at will,' Surya muttered to himself. (Emak sama anak sama kebiasaannya. Menutup telepon semaunya sendiri,' gumam Surya dalam batin.


"Ke Rumah Sakit Airlangga, Sur!" titah Mama Siska pada Surya.


"Siapa yang sakit, Nyonya?" Surya masih penasaran, karena sedari tadi belum juga mendapatkan jawaban yang pasti tentang siapa yang akan dijenguk oleh Nyonya besarnya.


"Sudah jalan saja, jangan banyak tanya! Kamu sama Galon, lama-lama aku masukan ke museum! Satunya banyak nanya, satunya lagi kasih info nggak jelas!"


'Oalah, Mak. Nasib anakmu iki, jadi supir ya begini. Kena semprot terus. Ya sudah diterima dengan lapang dada, bukan lapangan bola," Surya menggerutu sendiri. 'Tapi, Nyonya besar tadi, nyebut nama Galon. Siapa kira-kira ya?' Kekepoan Surya mulai on kembali.


"Cepetan sedikit, Sur!" Mama Siska memerintahkan pada Surya untuk sedikit menambah kecepatannya. Ia sudah tidak sabar, ingin segera bertemu dengan menantunya.


Tiiinn.. Tiiinnn..


Berkali-kali Surya harus membunyikan klakson, untuk mendahului pengendara lain yang berada di depannya. Dia hanya ingin patuh dengan perintah Nyonya besarnya, akan tetapi keselamatan tetap harus diutamakan.


Surya mendengkus, memukul setir mobil ketika harus terjebak di lampu merah untuk kedua kalinya. "Shittt!"


"Aduh.." pekik Mama Siska yang terbentur kursi di depannya. "Surya! Kamu ingin membunuhku!" bentaknya.


"Maaf, Nyonya. Tidak sesuai perkiraan. Lampu menyala merah duluan," Surya membela diri.


"Kenapa nyalahin lampu merahnya, Sur!" Mama Siska ngomel sambil mengelus dahinya yang kejedot kursi, akibat rem mendadak, Surya.


-


-


Mobil yang dikendarai Surya melaju kencang. Dan kini masuk ke dalam pelataran rumah sakit Airlangga.


Surya memberhentikan laju mobilnya di depan pintu masuk gedung rumah sakit, lalu dengan cepat melepaskan seat belt yang melingkar di tubuhnya. Kemudian keluar dari mobil, berjalan ke pintu penumpang untuk membukakan pintu buat Nyonya besarnya.


Setelah pintu mobil terbuka, tak lama tampak Mama Siska turun dari mobil, masih dengan kacamata mahalnya yang bertengger di hidung mancungnya. Menatap ke arah gedung rumah sakit Airlangga.

__ADS_1


Mama Siska mengayunkan langkahnya dengan terburu-buru, mencari bagian informasi dan menanyakan langsung pada petugas resepsionis rumah sakit, letak kamar perawatan menantunya.


Setelah mengucapkan terimakasih pada petugas yang membantunya. Mama Siska berjalan menuju lift. Rasa khawatir masih mendominasi, ia harus secepatnya bertemu Nayla, agar bisa melihat kondisinya sekarang.


Setelah lift terbuka, Mama Siska langsung menuju kamar perawatan Nayla. Saat menemukan kamar yang dimaksud, Mama Siska langsung menerobos kasar pintu coklat itu. Setelah tahu ada yang masuk. Mahen dan Nayla langsung menoleh bersamaan.


"Mama," pekik Mahen dan Nayla bersamaan lagi.


"Dasar suami tak becus jaga istrinya!" Mama Siska menghampiri Mahen yang duduk di pinggiran ranjang. Lalu, memukul bahu Mahen dengan kencang.


PLAKK..


"Ma.." pekik Mahen, meringis sakit sembari mengusap bahunya yang di pukul kencang Mama Siska.


Wajah Mama Siska berubah cerah, setelah melihat kondisi Nayla sekarang ini. Rasa cemas dan khawatir nya, telah menghilang.


"Minggir, kamu," Mama Siska menyuruh Mahen berpindah duduknya, karena Mama Siska ingin duduk dekat Nayla.


"Idiihh, Mama," protes Mahen yang diminta menyingkir oleh Mamanya.


Kini, Mama Siska duduk di samping Nayla. "Sayang, bagaimana keadaan mu, sekarang? Calon cucu Mama, baik-baik saja kan di sini?" tanya Mama Siska dengan mengelus perut rata Nayla.


Nayla yang tengah duduk menatap ke arah Mama Siska, membalas dengan senyuman. "Alhamdulillah, sudah baikan, Ma. Hanya sedikit pusing dan mual," jawab Nayla tersenyum.


"Maklum semua itu bawaan ibu yang hamil muda. Nanti juga akan hilang sendiri," Mama Siska mengusap pundak Nayla.


"Kamu juga jangan capek-capek, banyak istirahat," Mama Siska mengusap pelan tangan kanan Nayla yang tertancap jarum infus di punggung tangan Nayla.


"Dan kamu, Mahen harus bisa menjadi istri dan juga calon cucu Mama! Awas saja kalau Nayla kenapa-kenapa! Kamu berhadapan dengan Mama Siska, Nyonya besar Keluarga Wijaya! Faham, Mahen!" ujar Mama Siska dengan mengeluarkan ultimatumnya pada sang putra.


"Ashiapp... Nyonya Siska Wijaya Kusuma Hadiningrat," Mahen membalasnya dengan nama yang panjang, entah itu nama siapa saja yang dibawa oleh Mahendra yang mulai oleng.


"Bahaya tak?" Mama Siska berbicara dengan Nayla.


Nayla hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Ibu dan anak, yang sama-sama mempertahankan gelar kesomplakannya.


"Mama tidak sedang bercanda, Mahen!" timpal Mama Siska.

__ADS_1


"Siap Ibu Komandan," Mahen berdiri di depan Mama Siska dengan tangan kanannya diangkat memberikan hormat.


💖💖💖💖


__ADS_2