Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Lempar ke Mars


__ADS_3

Selamat membaca...


🍒


🍒


🍒


"Temani aku! Jangan tinggalkan aku sendiri!" lirih Nayla tanpa membuka matanya. Tapi, masih tetap menahan lengan kokoh milik Mahen.


Flat!


Itulah ekspresi wajah Mahen, saat ini. Pria itu hanya menatap datar dan dingin gadis yang terbaring lemah di ranjang king size miliknya.


Perlahan genggaman tangan Nayla pada lengan Mahen terlepas juga. Pria itu memutar lututnya dan meninggalkan kamar hunian yang terlihat seperti kapal pecah.


Lalu, beberapa menit kemudian masuk mbak Wida dengan membawa satu nampan berisi makanan untuk Nayla.


"Nona Nayla, yuk bangun," suara mbak Wida terdengar di telinga Nayla. Tapi, gadis itu tetap tak merubah posisi nya dari berbaring.


Mbak Wida telah menyiapkan meja kecil yang berisikan nasi satu piring, satu mangkuk sup ayam dengan sayuran yang fresh. Ada juga satu piring buah apel dan buah naga yang diiris kotak dadu dan segelas air putih.


Setelah semuanya siap dan disajikan oleh mbak Wida, namun yang ditunggu tak kunjung duduk merubah posisinya.


Mbak Wida tidak berani memaksa Nayla. Tapi, dia tetap harus menjalankan tugas dari tuannya. Jika tidak berhasil membujuk Nonanya, bisa dipastikan dia akan terkena imbasnya.


Hingga hampir sepuluh menit, mbak Wida membujuk Nayla. Tetap saja tidak berhasil. Makanan di atas meja kecil itu, hanya dilirik sama Nayla.


"Non---," belum selesai mbak Wida mengucapkan kalimatnya. Terdengar suara langkah mendekat ke arah kamar.


Sedetik kemudian, muncul lah Mahen dari arah pintu yang terbuka lebar. Ia berjalan menghampiri Nayla di ranjangnya. Dan langsung membangunkan tubuh ramping Nayla, untuk bersandar di kepala ranjang.


Mbak Wida hanya bisa menelan saliva nya kasar, melihat pemandangan yang membuat iri di setiap mata yang memandang dua anak manusia yang beradengan romantis itu.


"Aku mau tidur," rengek Nayla memalingkan wajahnya dari Mahen.


"Biarkan aku yang menyuapinya. Kamu boleh keluar dulu," titah Mahen pada mbak Wida.


Dengan anggukan dan mundur pelan, mbak Wida meninggalkan kedua majikannya itu.


"Hadap sini. Makan dulu," ujar Mahen dengan nada rendah.


"Nggak mau!" tolak Nayla tanpa membalikkan tubuhnya.


"Hitung sampai tiga nih!" suara berat Mahen mulai keluar.

__ADS_1


"Emang mau apa?" akhirnya Nayla membalikkan tubuhnya menghadap pria yang duduk di sampingnya.


Nayla mendongakkan wajahnya. Pandangan fokus ke kening Mahen yang telah berbalut benda tipis berwarna putih.


"Maafkan aku," ucap Nayla lagi.


Mahen tidak membalas ucapan Nayla. Dia menggerakkan tangannya yang memegang sendok berisi nasi dan lauk ke mulut Nayla.


"Makan dulu, buka mulutnya, sayang," ucap Mahen yang memberikan suapan pada Nayla.


"Nggak mau, kamu belum jawab permintaan maaf ku," Nayla menundukkan pandangannya dari Mahen.


"Kalau aku maafkan dapat apa?" Mahen mencoba mencairkan suasana.


"Ya, aku makan," jawab Nayla tetap menunduk.


"Beneran makan?"


"Iya," jawab Nayla lantang.


"Apakah dengan mengucapkan sebuah kata maaf, akan merubah segalanya?" ujar Mahen.


Bola mata Nayla membulat dengan bibir yang mengerucut.


"Tidak bisa, ya?" lirih Nayla.


Spontan Mahen menarik kasar tangannya dari genggaman Nayla.


"Apa dengan cara seperti ini, akan menyelesaikan sebuah masalah? Mengembalikan rasa kepercayaan yang telah cacat? Menutup luka yang tersakiti hingga menganga?" bertubi-tubi Mahen memberikan pertanyaan pada Nayla. Tapi satu pun pertanyaan itu tak dijawab oleh Nayla.


"Akan kah rasa kecewa itu diperlihatkan dengan cara yang kasar juga? Emosi! Amarah! Dendam! Akan kah mengobati luka yang terdalam di hati?" serentetan pertanyaan dikemukakan lagi oleh Mahen.


Dan lagi lagi, Nayla hanya bisa menggeleng. Dengan mengarahkan jari lentiknya ke kening orang yang menahan amarahnya sejak tadi. Mahen berusaha untuk membuat nyaman Nayla, tanpa ada rasa ketakutan yang muncul kembali.


"Bukan maksudku untuk membuatmu terluka," lirih Nayla dengan tatapan sayu.


"Apakah kamu ingin membunuhku untuk membalaskan dendammu, agar menjadi lega perasaan yang mengganjal dalam hatimu?"


Mata Nayla mengerjap cepat beberapa kali. "Maafkan aku," isaknya menyesal.


"Tetaplah di sampingku," ucap Nayla lirih, namun Mahen tetap bisa mendengarkan.


Mahen diam sejenak dengan kening berkerut samar. Lantas, dia menatap intens pada Nayla dengan senyum samar yang pelan-pelan muncul di wajahnya.


Cup..

__ADS_1


Nayla langsung merasakan kecupan di pipinya, dengan cepat Nayla mengalihkan pandangan nya ke arah pria yang sedang tersenyum manis padanya.


"Aku kan selalu ada di sampingmu. Selalu menjaga dan membahagiakan mu," ucap Mahen dari hatinya yang terdalam.


"Yakin?" tanya Nayla serius.


"Yakin!" hardik Mahen dengan menempelkan bibirnya pada bibir ranum di depannya.


"Iihhh, kesempatan muluh!" Nayla mendorong mundur bibir manyun Mahen.


"Kok di dorong sih?" protes Mahen, pura-pura ngambek.


"Kalau jaga aku terus, istri yang satunya mau di kemanain?" Nayla memonyonkan bibirnya.


"Lempar ke Mars!" jawab Mahen menatap Nayla gemas.


"Dekat banget," ejek Nayla. "Terus kalau mau kuda-kudaan, bagaimana?" tanya Nayla mengerjakan matanya menatap Mahen yang sedang kesal.


"Kan ada kamu! Ya sama kamu, dong!"


"Malas! Nanti aku dikatain pelakor! Penikung di tengah hubungan kamu yang terbengkalai!"


"Astaga, sayang. Kamu bukan pelakor! Siapa yang berani bilang begitu? Minta ditendang pantatnya!" ucap Mahen kesal.


Setelah dengan berbagai rayuan. Akhirnya Nayla mau menghabiskan sup ayam dalam satu mangkok dengan suapan tangan Mahen.


Mahen segera melepaskan alas kakinya dan naik ke atas ranjang. Dia melihat sorot mata sayu yang terpancar di wajah Nayla. Mahen membaringkan tubuhnya di sebelah Nayla, dengan posisi miring ke kiri dan satu tangannya di rentang kan untuk menjadi bantal Nayla.


Tanpa membantah sepatah kata pun, Nayla mendekat dan menyandarkan kepalanya pada dada Mahen. Nayla merasa nyaman dalam dekapan suaminya.


"Pejamkan mata, istirahat lah sejenak. Aku akan menjagamu," lirih Mahen penuh kelembutan.


Namun, mata Nayla tak ingin terpejam sedikit pun. Ia merasakan kehangatan dalam dekapan suaminya yang memberikan ketenangan dan perlindungan.


Tangan kekar Mahen membelai pucuk kepala Nayla dengan lembut.


"Teruskan seperti ini, sebelum perjanjian itu usai," ucap Nayla sendu.


Nayla sadar betul dengan posisi nya saat ini, yang hanya menjadi istri siri dari seorang Mahendra Wijaya. Laki-laki itu menyewa rahimnya untuk mendapatkan keturunan. Jika semua nya telah selesai, maka keyakinan Nayla adalah laki-laki itu akan membuangnya jauh, agar tidak mengganggu kehidupannya.


"Maafkan aku dan terimakasih telah membantu ku dalam masa sulit. Aku akan melakukan kewajibanku dan tak akan membantah lagi. Namun, sebelum kau membuangku setelah aku melahirkan keturunan darimu, tolong ijinkan aku untuk melihat wajah dari bayi itu," ujar Nayla dengan suara tercekat.


Hening sesaat. Hanya ada deru napas halus yang terdengar.


"Pejamkan matamu, tidurlah, sayang," ujar Mahen. "Aku tak kan ke mana-mana dan tak akan pernah membuangmu!"

__ADS_1


Nayla menengadah, dia menatap wajah Mahen begitu dekat. Sangat tampan dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu tipis, menggoda untuk diraba. Hidungnya mancung seperti perosotan di arena permainan. Mata cekung dengan bola mata yang indah, menjadi bagian paling menarik untuk ditatap.


🍒🍒🍒🍒🍒


__ADS_2