Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Handuk Putih


__ADS_3

Selamat membaca..


🍒


🍒


🍒


Nayla terbangun di pagi buta. Dia mengerjapkan bola matanya perlahan untuk menetralisir cahaya yang masuk. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, saat netranya menatap ke benda bundar yang menggantung di dinding. Dan Mahen sudah tidak ada di sampingnya.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Nayla yang duduk bersandar di kepala ranjang, masih enggan turun. Membawa tubuhnya ke kamar mandi.


Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Lalu keluarlah makhluk Tuhan yang tercipta dengan pahatan-pahatan maha karya yang sempurna.


Mahen keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang dililitkan di pinggang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka dengan tetesan air dari rambut nya yang basah.


"Kau sudah bangun, sayang?" sapa Mahen pada Nayla yang memejamkan mata.


Mendengar suara Mahen. Nayla membuka mata dan menoleh untuk menatapnya.


Mahen menghampiri istri kecilnya, dan duduk pelan di sebelahnya. Sengaja mengibaskan rambutnya yang basah ke wajah Nayla.


"Iihh, basah nih!" kesal Nae yang terkena cipratan air dari rambut basah, Mahen.


"Masih sakit?" lirih Mahen dengan wajah yang menggoda Nayla.


"Dasar tukang bohong!" hardik Nayla melotot ke arah Mahen.

__ADS_1


"Dari mana bohongnya, sayang?" Mahen tertawa gemas melihat ekspresi di wajah istri kecilnya.


Nayla menarik telinga kiri Mahen dengan gemas. "Apa yang ditertawakan? Tidak ada yang lucu!" bibir Nayla mengerucut sempurna.


"Jangan menggodaku, aku baru selesai mandi," ucap Mahen dengan mimik wajah masam.


"Siapa yang menggoda? Dan tergoda?" Nayla menggeser posisi duduknya memberi jarak dengan suaminya.


Kaum Hawa mana yang tak tergiur dengan body milik Mahen yang atletis dengan perut yang memiliki 6 kotak berjajar rapi. Bagi Nayla yang termanjakan dengan pemandangan segar dan menyejukkan di pagi hari seperti sekarang ini.


"Jauh-jauh sana! Aku nggak mau dekat-dekat dengan pembohong ulung!" cerca Nayla dengan ekspresi kesalnya.


Mahen masih mode menahan tawanya. Antara gemas dan kasihan pada istri kecilnya. Karena semalam, dia memanuver istri kecilnya tanpa ampun dan tidak ada kata bosan juga lelah.


Mahen adalah laki-laki yang normal. Sejak lama dia menginginkan sesuatu yang dibutuhkan untuk melampiaskan energi positif si Jalu.


Sempat terbesit dalam benak Nayla, semakin cepat dia menyerahkan kesuciannya pada pria yang telah menandatangani kesepakatan dengan nya tempo lalu. Semakin cepat dia hamil, semakin cepat pulah waktu yang dilaluinya untuk menyewakan rahimnya sebagai rahim pengganti dari istri sahnya.


Ia hanya memiliki kewajiban menampung benih dari seorang Mahendra Wijaya, pria yang telah membayar dirinya. Ia dan Mahen dipersatukan di atas ranjang yang sama untuk memadu kasih tanpa adanya cinta di dalamnya.


"Siapa pembohong?" goda Mahen sambil mengambil gambar istri kecilnya dengan mimik wajah yang sangat mengemaskan.


"Tanya aja pada dia!" tunjuk Nayla ke arah Mahen.


"Aku bukan pembohong, sayang," dengan senyum cerah Mahen mencium pucuk kepala Nayla, lalu turun ke keningnya. Dia berhenti sesaat di sana. Mencium kening istri kecilnya dalam dan sangat lembut penuh perasaan. Jantungnya yang berdetak lebih dahsyat. Baru kali ini dia merasakan degupan seperti itu. Walaupun dia telah menikah dengan Giska selama tiga tahun, tidak pernah dia merasakan getaran yang dahsyat seperti itu.


Apakah dia telah jatuh cinta pada gadis ingusan yang berada dalam dekapannya itu? Jawabannya adalah iya. Kini dia baru memahami getaran apa yang bersarang di hatinya, saat ini. Getaran yang tercipta ketika dia bersama Nayla, istri kecilnya. Yang telah berhasil meluluh lantangkan pikiran dan hatinya.

__ADS_1


****


Beberapa jam yang lalu.


Netra mata mereka bertemu, saling tatap dan mengunci. Jantung Mahen berdebar dengan cepat saat merasakan kehangatan dari pandangan istri kecilnya. Dirinya terkesima melihat tatapan mata Nayla yang tampak lembut. Ada rasa rindu yang terbesit di tatapan indera penglihatan keduanya, entah rindu dari mana yang menyelinap masuk ke ruang kosong masing-masing, ingin segera terisi oleh seseorang yang berhasil bertahta mendudukinya.


Sentuhan tangan kekar pria tampan dengan bola mata berwarna biru di punggung Nayla semakin memberikan sengatan listrik pada tubuh rampingnya, memberikan efek bingung pada gadis belia yang pertama kali merasakan gelegar aneh pada dirinya. Tapi, Nayla semakin menyukainya.


Usapan lembut yang tergerak dari tangan Mahen itu, semakin membuat Nayla blingsatan. Darahnya berdesir.


Nayla bisa merasakan sesuatu dari balik celana boxer hitam yang membungkus tubuh si Jalu. Ada sebuah reaksi yang kuat, menguar dari tubuh mungil si Jalu yang semakin memperlihatkan perubahannya menjadi semakin besar dan kokoh. Sekuat apa pun Mahen menahan laju perkembangan si Jalu, tetap dia terkalahkan dengan dorongan kekuatan yang dimiliki oleh si Jalu. Tubuhnya semakin meronta meminta kepastian untuk keluar dari persembunyiannya selama ini. Si Jalu ingin segera mengepakkan sayapnya, memperlihatkan kekuatan patukan yang ia sombongkan untuk menaklukkan kandang barunya. Memporak-porandakan isi di balik jaring laba-laba merah yang mengunggah selera bagi si Jalu.


Angin penyejuk dalam kamar hunian mereka yang semula dingin mendadak panas secara tiba-tiba tanpa bisa terhitung detiknya. Pria tampan di hadapannya, kini menatap lapar pada gadis belia yang terlihat polos dan kalem itu.


Nayla menengadah. Mulutnya terasa kering bagaikan di padang pasir yang menginginkan setetes air yang mengaliri tenggorokan yang gersang.


Kini, gadis itu benar-benar tak memakai kain apa pun yang membungkus tubuh polosnya.


Bagaikan sang penggoda yang menaklukkan sang pewaris tahta keluarga Wijaya. Gadis itu membisikkan kata-kata azimat yang membuat alam bawah sadar Mahen kian melemah. "Miliki aku seutuhnya, malam ini," ucap Nayla lembut dan bergetar, namun penuh keberanian. Ia ingin segera menuntaskan inti dari semua perjanjian yang menyakitkan hati dan pikirannya.


Nayla berusaha menghempaskan harga dirinya, demi memperjuangkan hidup seseorang yang begitu ia sayangi agar tetap bertahan. Namun, takdir Alloh yang lebih berkuasa.


Mahen tersentak. Speechless mendengar kata-kata yang lolos dari bibir istri kecilnya, yang telah ditunggunya.


Seperkian detik kemudian, senyum simrk atau kata lainnya adalah seringai di wajah pria tampan itu, mulai nampak. Si Jalu semakin mengeratkan otot-otot tegangnya di dalam persembunyian. Kain hitam yang membungkus tubuh si Jalu terlihat sesak. Ia semakin menakutkan terlihat bak seekor pemangsa dalam sebuah pertarungan hebat yang siap menerkam.


Dan sebentar lagi akan keluar nama yang menjadi pemenangnya dalam pertarungan sengit. Akankah si Jalu dapat menduduki tahta itu dan mendapatkan gelar si Jalu penakluk kolam lele dalam jerat jaring laba-laba.

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍒


__ADS_2