Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Bercerailah


__ADS_3

Selamat membaca..


💖


💖


💖


"Bercerailah!" suara pria yang duduk di sebelah wanita yang sedari tadi menangis sesenggukan itu, mengagetkan nya.


"Mana mungkin?"


Hati pria mana yang rela, jika melihat orang yang dicintai menangis seperti itu.


"Bercerailah dari Mahendra Wijaya!" suara bariton Pramudya terdengar jelas di indera pendengaran Giska.


"Mana mungkin, Honey? Papa dan Mama pasti marah besar, jika aku bercerai dari Mahendra Wijaya," ujar Giska dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

__ADS_1


"Aku akan menikahimu! Aku yang akan bertanggung jawab atas janin yang kau kandung, sekarang, Giska! Apa kau masih belum percaya akan cintaku padamu! Aku ingin hidup bersamamu, menua bersama! Tidak dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini! Aku ingin kamu jadi miliki ku seutuhnya, Giska!"


Deg


Pram mengangkat dagu Giska. "Lihat aku!" tegas Pram dengan tatapan tajam yang menghunus seolah membelah bola mata wanita yang kini menatapnya.


Emosi Pram yang sudah di ujung ubun-ubun dan ingin segera meledak.


"Apa kau mencintai Mahendra Wijaya?" hardik Pram dengan mencengkram kedua pundak Giska.


"Katakan yang sejujurnya, Giska! Itu anak aku atau Mahendra Wijaya?" bentak Pram, tak menciutkan nyali Giska.


"Jelas anak kamu lah!" sahut Giska dengan lantang dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah tidur dengan Mahendra! Jangan berpikir yang aneh-aneh!"


"Ck, nggak usah munafik kau, Giska! Mana mungkin kau tidak pernah tidur dengan suamimu sekali pun?"


"Gila kamu! Di mana otakmu, Pramudya Adiswara!" pekik Giska.

__ADS_1


"Gila! Ya, aku memang sudah gila karena cintamu! Tapi sayang, cinta itu bukan untuk aku!" dengan kasar Pramudya mencium bibir Giska.


"Mmmpphh," Giska memukul dada Pram berkali-kali. "Haah! Sakit tau!" teriak Giska setelah berhasil meloloskan bibirnya dari terkaman Pramudya yang membabi buta.


"Ini milikku! Ini juga milikku! Semua yang ada di dirimu, itu semua milik aku! Paham!" Pram menunjuk semua yang ada di tubuh Giska, diklem hanya miliknya.


Tubuh Giska semakin terpojok di kepala ranjang dengan tubuh Pram yang kian mengunci tubuhnya.


"Tapi, Pram---," belum sempat Giska menyelesaikan kalimatnya, tapi Pram sudah menyambarnya terlebih dulu.


"Tapi, kenapa?" tanya Pram kesal dengan semua alasan-alasan yang diajukan oleh Giska. Dia merasa perjuangan dan pengorbanannya selama ini, sia-sia. Tak sedikit pun Giska menghargai semua itu. Ego dan logikanya telah mati dari pertama dia bertemu dengan Giska. Namun, Keluarga Hutomo tetap saja tidak dapat menerima dia sebagai menantu dalam Keluarga Besar Hutomo. Ia ditolak mentah-mentah oleh Papa Giska. Sekaya apa pun Pramudya Adiswara, Keluarga Giska tetap menolaknya dengan cepat. Karena Giska adalah alat untuk Keluarga Hutomo membalaskan dendamnya pada Keluarga Wijaya.


"Pram, dengar aku. Papa dan Mama, tidak akan pernah merestui hubungan kita. Lambat atau cepat, kita tetap akan terpisahkan. Walaupun hati dan pikiranku hanya terisi namamu, tapi keputusan yang terakhir adalah hak Papa yang lebih berkuasa atas diriku," ucap Giska sambil menatap sendu wajah tampan pria yang dicintai nya.


"Tidak, aku pasti bisa melawan itu semua," jawab Pramudya lugas dan jelas tanpa berpikir yang akan terjadi di kemudian hari.


"Kamu tidak mengenal, siapa Papaku, Pram. Dia orang yang tegas dan tega pada siapa pun yang menghalangi jalannya," ujar Giska lalu menghela nafas panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2