Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
Seperti Melihat Hantu


__ADS_3

Selamat membaca..


💖


💖


💖


Belum ada sepuluh menit Gala melaporkan tugas-tugas yang diberikan oleh Mahen padanya, tapi percakapan mereka terhenti dengan adanya notifikasi yang masuk ke ponsel Mahen yang memecah konsentrasi keduanya.


Tidak mau membuang waktunya terlalu lama, Mahen segera merogoh saku celana yang dipakainya, mengambil ponsel canggih di dalamnya dan membuka layar sentuh dengan wajah tampannya.


Pandangannya terfokus pada aplikasi berwarna hijau terdapat lingkaran putih. Ia mendapatkan kiriman chat yang misterius. Tanpa nama pengirim dan nomor itu nampak asing dalam otak dan indera penglihatan nya.


Degg Degg Degg


"Kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini?" gumam Mahen.


Kedua mata Mahen terbelalak lebar. "Brengsek!" pekiknya spontan.


Gala mengalihkan fokusnya dengan segera melihat ke arah Bos nya, yang mencak-mencak setelah membuka pesan dalam ponselnya.


"Sh it! Kurang ajar! Mau main-main dengan aku rupanya," Mahen menyambar jaket yang tersampir di sandaran kursi kerjanya, lalu segera ia kenakan kembali.


"Kita pergi, sekarang!" suara bariton Mahen memperintahkan Gala untuk mengikutinya.


Tanpa penolakan, Gala mengangguk cepat untuk menjawab titah dari Bosnya, yang sudah melangkah pergi duluan dari ruangan kerjanya itu.


****


Jalanan kota yang tidak begitu ramai, tapi mengapa perjalanan ke tempat persembunyian Giska terasa sangat lama, dirasakan oleh Mahen. Meskipun Gala telah melajukan mobil mewah milik Mahen dengan kecepatan di atas rata-rata.


Hingga perjalanan harus menempuh waktu hampir empat puluh menit. Akhirnya Gala memperlambat laju kendaraan beratap itu dan memberhentikan di depan pagar besi yang berdiri kokoh mengelilingi bangunan mewah di depannya.


"Cepat buka pintu pagarnya," pekik Gala dari belakang kemudi yang hanya membuka sedikit kaca jendela mobilnya.


Pak Parmin berlari tergesa-gesa, keluar dari pos keamanan.


"Siap, Bos," sahut nya dengan cepat, lalu membuka pintu pagar besi itu.


"Nyonya Giska, ada di rumah?" tanya Gala datar.


"A-ada Bos," jawab pak Parmin dengan gugup.


Tanpa bertanya lagi, Gala langsung melajukan kembali mobil yang dikemudikan.


Mobil mewah itu belum terparkir sempurna, tapi Mahen sudah membuka pintu mobil, hendak turun dengan tidak sabar lagi.

__ADS_1


Sampai di depan pintu utama rumah itu, tanpa mengetuk pintu. Dia langsung menerobos masuk


Teriakan Mahen tidak ada jawaban sama sekali. Gala mulai khawatir dengan keadaan Bos nya. Ekspresi wajah yang kian meradang, menahan emosinya yang sebentar lagi meledak.


Mahen sudah tidak sabar lagi harus menunggu seseorang menjawab dari dalam. Ia pun langsung menerobos pintu bercat coklat tua berbahan dari kayu mahal itu.


Tiba-tiba muncul Helena sang manager Giska dari dalam kamarnya.


"Tuan Mahen?" ucapnya tercengang, melihat sosok Mahendra Wijaya suami dari Giska sang atasannya itu. Kini berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Kenapa melihat aku, seperti melihat hantu?" sinis Mahen. "Kaget? Atau kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari aku?" tebak Mahen yang membuat wajah Helena semakin pucat.


Pandangan tajam terfokus pada Helena. "Mana Giska?" pekik Mahen, yang membuat merinding disko seorang Helena, yang terlihat sangat angkuh menutupi keberadaan Giska.


Helaan nafas Mahen membuat Helena semakin keder dibuatnya dan gerak geriknya masih terpantau rapi oleh Mahen. Helena mulai terlihat gelisah.


Sedangkan di dalam sebuah kamar pasangan selingkuh itu sedang memadu kasih.


"Aakkhh, stop Pram! Hentikan! Aku sedang tidak menginginkan itu! Aakkh..," bibirnya mengucapkan kata tidak, tapi tubuhnya tidak bisa menolak buaian liar dari Pram. Yang terus menjelajahi leher jenjangnya.


Bragg


Seseorang tanpa aba-aba yang mengomando, membuka kasar pintu kamar yang tertutup rapat itu.


Mahen menendang pintu kamar itu penuh kesal, hingga mengagetkan orang yang berada di dalamnya.


Bagaikan tontonan film dewasa yang sedang diputar. Adegan ranjang yang live langsung terpampang di mata Mahen. Peristiwa yang sangat memalukan dan membuat panas hati Mahen.


Cemburukah?


Tidak!


Rasa ingin muntah. Itulah yang Mahen rasakan, saat ini. Tontonan yang merusak kedua netranya itu, benar-benar membuat dia murka.


Tatapan Pram yang tak terima oleh kelakuan Mahen itu. Antara mengejek dan menggelikan.


"Dasar tak punya otak! Buka kamar orang itu harus mengetuk pintu, dulu! Pengacau suasana romantis! Ck, ck, ck," Pram tersenyum sinis.


Mahen memalingkan wajahnya, dia merasa jijik dengan wanita di hadapannya. Yang tidak lain adalah Giska, yang masih sah menjadi istrinya.


"Pakai baju, Giska! Wanita tak punya harga diri!" pekik Mahen penuh emosi.


Giska yang membungkus tubuhnya dengan selimut itu, segera memakai pakaiannya.


Bugg..


Mahen bergerak cepat menghampiri Pram dan menghadiahkan sebuah bogem mentah, tepat di rahang tegas pria simpanan Giska.

__ADS_1


"Aaaaa!" teriak Giska. "Hentikan, Mahen!" Giska mencoba melerai perseteruan dua laki-laki yang sedang bersitegang.


"Dasar bajin gan!" Mahen mencekik leher Pram, hingga membuat pria dalam kuasanya itu sedikit kesulitan bernapas.


"Lepaskan, Mahen! Kau akan membunuhnya!" teriak Giska sambil memegang legan kokoh Mahen.


Laki-laki yang disebut namanya oleh Giska itu, memiringkan senyumnya. Kemudian terkekeh geli menahan emosi yang sudah di ujung kesabaran.


Laki-laki tampan itu menatap tajam ke arah wanita yang sudah terisak membela lawannya. "Apa kau mencintai dia? Cepat katakan, Giska!" tangan Mahen terkepal erat sudah melayang ke udara dan akan didaratkan tepat di wajah Pram.


"Maafkan aku, Mahen. Tolong lepaskan dia!" hanya kata itu yang keluar dari bibir Giska.


Bugg..


Mahen mendaratkan bogem kesekian kalinya ke wajah Pram. Hingga tubuhnya berbenturan dengan dinginnya lantai.


"Cukup Mahen!" teriak kencang Giska, ketika Mahen akan mendaratkan kakinya ke dada Pram.


"Kamu jangan gila, Mahen," hardik Giska berusaha mencegah Mahen untuk memukul tubuh Pram.


"Oh, ternyata kamu mencintai pria tak bernyali ini!" kata Mahen dengan tawa kasarnya.


"Hahaha.. Sakit hatimu, Giska lebih memilih aku!" ejek Pram.


Mahen tersenyum tipis. "Sakit hati?" jiih Mahen meludah, mencibir. "Tidak akan pernah hatiku sakit, hanya karena seorang Giska! Aku, pria yang merugi telah menikahi wanita pencundang seperti Giska! Tapi, sayang aku tidak bodoh dan terperangkap pada tipu dayanya!" ucap Mahen.


"Jika kamu tidak mencintai Giska, kenapa tidak kamu ceraikan saja, dia!" ucap Pram, yang mendapat tatapan tajam Giska.


"Tutup mulutmu, Pram!" bentak Giska.


"Mahen, maafkan aku," Giska berusaha merayu Mahen dengan bergelanjut di lengan Mahen.


"Dia sedang mengandung anakku, saat ini," tiba-tiba Pram mengeluarkan kata pamungkas untuk memiliki Giska sepenuhnya.


Prok.. Prok.. Prok..


Mahen menepukkan tangannya, memberikan sebuah aplouse, atas keterkejutan nya.


"Mahen, jangan percaya dia!" pekik Giska.


Mahen menoleh ke arah Giska, namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya.


Jijik!


"Aku ceraikan kamu, hari ini, Giska!" ucap Mahen dengan lantang dan pasti.


Tatapan mata yang membuat buliran air bening terjun bebas dari sudut mata Giska. Namun, bagi Mahen tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. Hari itu dia benar-benar menalak tiga Giska Hutomo.

__ADS_1


💖💖💖💖💖


__ADS_2