
Happy reading..
💖
💖
💖
Bughh..
Mahen mendaratkan bogem mentah ke perut Rahardian, setelah sebelumnya menarik tubuh Rahardian dari kursi di samping brankar Nayla.
Gala yang terkejut dengan aksi Mahen yang tiba-tiba, spontan langsung menghampiri sang Bos dan segera melerainya.
Sedangkan Ibu Nayla yang berada di dalam kamar mandi juga mendengar suara gaduh di ruang inap Nayla. Dengan tergopoh-gopoh Ibu Nayla keluar dari kamar mandi dan ingin melihat apa yang tengah terjadi.
Baru melangkahkan kakinya Ibu Nayla dikejutkan kembali dengan menantunya itu. Mahen yang belum puas dengan hanya sekali mendaratkan bogem mentah di perut laki-laki yang telah berani memegang jemari istri kecilnya.
"Stop Mahen!" pekik Ibu Nayla kaget melihat Mahen mendaratkan kembali tinjunya ke muka pria yang telah lama memendam rasa cintanya pada wanita yang terbaring terpejam di brankar pesakitan.
Tangan yang masih terkepal dan hendak meninju wajah Rahardian itu, diraih Ibu Nayla. "Kamu salah faham, Mahen. Dia adalah Rahardian, sahabat Nayla!" tutur wanita paruh baya yang menggelengkan kepalanya di hadapan menantu yang sangat mencintai putrinya.
"Dia sudah kurang ajar pada istriku, Ibu," Mahen tetap tidak terima, jika pria yang dikatakan Ibu mertuanya itu adalah sahabat Nayla. "Kenapa dia harus pegang tangan istriku!" Mahen masih diliputi emosi tinggi, dengan tatapan tajamnya seakan siap memangsa targetnya.
"Sabar, Bos," Gala berusaha mencairkan suasana yang mulai tidak kondusif. Dia bisa memahami sikap protektif sang bos. Wanita yang telah menjadi milikinya, tidak boleh disentuh oleh siapapun.
-
-
__ADS_1
-
"Sayang.." suara lemah itu terdengar di ruangan yang bercat putih, berbau obat-obatan.
Mahen yang mendengar suara istri kecilnya memanggil dirinya, dengan cepat dia mendekat ke arah brankar istrinya.
"Iya, sayang," Mahen menggenggam jari jemari Nayla.
Nayla menyapukan pandangan ke segala arah dan berhenti pada wajah tampan suaminya.
"Maafkan Nae," lirihnya lalu hanya hitungan detik netra milik Nayla sudah berembun dan siap menurunkan air mata.
Mahen menggelengkan kepala, seulas senyum masih terbit di bibir. "Kenapa harus minta maaf, sayang? Kamu tidak membuat kesalahan," cicit Mahen sembari mengelus lembut tangan Nayla.
Nayla menatap wajah Ibunya yang sendu, ia mengulas senyum hangat. Ibunya pun membalas tatapan putri tercintanya dengan gelengan kepala, seolah mengatakan jangan bicarakan masalah itu pada Mahen, sekarang ini. 'Ibu mohon'
Pergerakan dua manusia yang berbeda usia itu, tak luput dari perhatian Gala. Sang assisten andalan Mahen itu, melihat ada gelagat aneh yang disembunyikan kedua wanita itu. Gala yang selalu cepat tanggap dengan berbagai masalah, otomatis langsung menyimpan semua file itu di otaknya dengan rapi. "Aku harus segera menemukan jawabannya, tapi tidak untuk saat ini," gumam Gala dalam batinnya.
Mahen yang terkejut dengan keadaan istri kecilnya yang tiba-tiba pingsan kembali, reflex dia mengeluarkan suaranya keras.
"Sayang!" teriak Mahen, bersamaan dengan Ibu Nayla.
"Nayla!" pekik Ibunya. "Astagfirullah, putriku."
"Gala! Cepat panggil dokter!" titah Mahen tanpa melihat ke arah sang assisten.
Dengan sigap Gala berlari ke luar kamar untuk memanggil dokter dan perawat.
"Sayang, tetap bertahan. Kamu pasti kuat," Mahen tampak cemas melihat wajah istri kecilnya yang pucat. Ia terus menciumi kening Nayla dengan melafazkan doa-doa untuk kesembuhan istrinya.
__ADS_1
Mahen berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas, menunggu sang dokter memeriksa istrinya. "Apa Nayla mempunyai riwayat sakit yang parah sebelumnya, Bu?" tanya Mahen cemas pada Ibu mertuanya, sebab ia khawatir dengan Nayla yang tiba-tiba pingsan kembali.
Ibu Nayla menggeleng. "Nayla anak yang kuat, dia tidak pernah memiliki riwayat sakit parah," jawab wanita paruh baya itu. "Tapi Nayla---" pada saat Ibu Nayla akan memberitahukan sesuatu pada Mahen. Perawat yang membantu memeriksa Nayla memanggil keluarga pasien.
"Maaf, suami nyonya Nayla, ada?" tanya perawat wanita yang baru saja keluar dari kamar.
Mahen langsung mendekati perawat wanita itu. "Saya!" tunjuk Mahen pada dirinya.
"Silakan masuk, Tuan. Dokter ingin bicara," perawat itu membuka lebar pintu untuk Mahen masuk.
Tanpa menunda lagi, Mahen langsung masuk ke dalam ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada istri kecilnya yang terbaring, masih memejamkan matanya tak sadarkan diri dengan wajah begitu pucat.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Mahen dengan harap-harap cemas mendengar penjelasan dari Dokter, perihal sakit istrinya.
"Istri anda baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat, tidak boleh terlalu capek. Apalagi terlalu banyak pikiran, saat ini," jawab Dokter sambil menuliskan resep di kertas yang selalu dia bawa.
"Baik-baik saja? Bagaimana maksudnya, dok? Istri saya tiba-tiba pingsan, wajahnya pucat sekali," Mahen tidak mengerti dengan ucapan dokter itu. 'Gila apa ya, dokter ini?' batin Mahen ingin memaki dokter yang ada di hadapan nya.
Dokter wanita itu mengulas senyum ke arah Mahen, kemudian memberikan kertas yang telah dituliskan beberapa resep obat yang harus dibeli.
"Selamat, Tuan. Nyonya Nayla sedang hamil, saat ini. Wajar saja kalau tiba-tiba pingsan dan merasa sedikit pusing juga mual. Untuk itu Nyonya Nayla sementara waktu tidak dibolehkan untuk terlalu banyak pikiran dan kelelahan," ulas dokter itu yang membuat jantung Mahen hampir saja terhempas dari tempatnya.
"Hamil? Istriku hamil!" pekik Mahen terkejut dengan mulut menganga sempurna, melihat ke arah dokter wanita itu tanpa berkedip. Kemudian beralih menatap ke arah Nayla yang masih terbaring lemah tak beraksi. "Dokter tidak ngeprank saya kan? Saya tidak lagi berulang tahun, Dok," tanya Mahen memastikan lagi.
Dokter wanita itu tertawa geli melihat ekspresi suami dari pasiennya. "Anda tidak sedang berulang tahun hari ini, tapi anda mendapatkan suprise yang sangat spesial dari nyonya Nayla, sekarang ini," ujar Dokter itu sembari mengambil sebuah laporan yang dibawa oleh perawat yang berdiri di sampingnya.
"Saya sudah memeriksa keseluruhannya dan istri anda sekarang ini, tengah hamil empat minggu," Dokter wanita itu memberikan ulasannya kembali dan menyertakan sebuah laporan tentang kehamilan Nayla pada Mahen.
Mahen membaca laporan itu dengan cepat dan tiba-tiba---,"Alhamdulillah, terimakasih Ya Alloh," seketika Mahen bersujud syukur kepada sang Pencipta-Nya atas anugerah terindah dalam hidupnya. Apa yang telah ditunggu-tunggunya selama ini.
__ADS_1
Di depan pintu, Gala terlihat tersenyum kecil, sesekali menggelengkan kepala seakan tak percaya mendengar berita bahagia ini. "Yes! Alhamdulillah! Akhirnya gol juga bosku!" pekik Gala yang diikuti oleh Ibu Nayla yang merasakan begitu bahagianya melihat putri kesayangannya serta menantunya mendapatkan anugerah itu.
💖💖💖💖