
Selamat membaca..
🍒
🍒
🍒
"Aku nggak mau terima kartu itu! Titik! Tak perlu penjelasan panjang! Males!" celotehan Nayla membuat Mahen terkekeh.
Nayla menolak pemberian kartu hitam dari tangan Mahen. Bagi Nayla, dia tak pantas untuk mendapatkan fasilitas itu semua. Pengobatan Ayahnya kemarin, itu sudah membuat Nayla berterimakasih. Walaupun dia harus mengorbankan masa depannya.
"Kau sadar mengatakan itu?" tanya Mahen dengan segaris senyum.
"Karena aku tak butuh itu!" tolak Nayla.
"Kamu harus mau! Kamu istriku!" tegas Mahen
Tangan Nayla meremas sprei kasur dengan bola mata melebar. Deru napasnya mendadak meningkat dua kali lipat lebih cepat. "Lebih tepatnya pelakor!"
"Apa aku tidak salah dengar?" Mahen memahami apa yang dirasakan Nayla sekarang ini.
"Aku mengatakan yang sebenarnya! Kamu, laki-laki beristri dan aku masuk ke dalamnya! Apa itu tidak sama dengan pengganggu rumah tangga orang?" jawab Nayla sekaligus memberikan pertanyaan pada Mahen yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Aku yang menginginkan kamu! Faham!" nada suara Mahen sedikit ditekan.
"Faham dan bisa dimengerti! Itu bagi kamu, Tuan Mahendra Wijaya yang berkuasa! Tapi, tidak buat para netizen fans berat istri, Tuan Mahendra Wijaya!" ujar Nayla dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Seseorang pernah berkata, jika kau tak bisa menutup mulut mereka, biarkan. Jangan terus dipaksakan. Kau hanya perlu menutup kedua telingamu dengan benar, agar tak terkena virus pembengkakan hati!"
"Mana bisa gitu?" bantah Nayla.
"Tentu!" sahut Mahen dengan pandangan tertuju pada wanita di depannya yang sedang berkacak pinggang.
"Jika kamu mengikuti arus deras mereka, yang ada hanya membuatmu setress berkepanjangan! Berusahalah berjalan dengan kakimu, tanpa uluran tangan yang memanfaatkan kamu!
Nayla menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. " Mendengarkan bualan memang menyebalkan! Apa kau pernah merasakan posisi yang terpuruk seperti aku?"
"Pernah! Tapi berbeda cerita!" jawab Mahen datar.
"Aku menangis semalaman di dalam kamar, karena sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Dan aku harus bertanggung jawab atas fitnahan itu. Hingga bertahun-tahun aku terjebak dalam permainannya. Tapi, sepandai-pandai dia bersandiwara untuk menutupi niat buruknya. Pasti tidak akan berjalan baik, jika tanpa restu Alloh. Dan Alloh jugalah yang akan memberikan jalan pada kita untuk membuka kedok kejahatan orang itu."
"Ini kisah pernikahan," belum selesai Nayla mengatakannya, tapi Mahen telah mengangguk.
"Itu kisah pernikahanku dengan Giska. Dia yang menjebakku masuk ke dalam pusaran rencana jahatnya pada Keluarga Besar Wijaya."
Sontak, Nayla menegang. Wajahnya mendadak pucat. "Sejahat itukah, dia?"
__ADS_1
"Kau tahu, bagiku, anjing menggonggong biarkan terus menggonggong tak perlu bersusah mencari pembelaan dan pembenaran. Kebenaran akan muncul sendiri ke permukaan tanpa diminta persetujuannya. Tak perlu banyak mengatur alibi, hanya demi menutupi bangkai yang kian membusuk. Tetaplah berjalan pada koridormu, jangan mensejajari dia. Bahkan berjalan di sampingnya. Itu sama saja, membuatmu berjalan mundur. Yang menandakan bahwa kamu tidak memiliki pedoman hidup!"
"Kau bukan seorang pelakor yang disengaja. Mengatasnamakan cinta untuk menutupi segala rencana yang telah tersusun rapi. Sebuah kebutuhan ekonomi lebih tepatnya. Seringkali menyalahkan takdir hidup meraup keuntungan pribadi. Seolah-olah, Tuhan belum mempertemukan seseorang yang tepat, hingga waktunya tiba. Dia mengatakan, kenapa Tuhan mempertemukan kita. Disaat kita sudah saling memiliki pasangan Masing-masing. Atau bahkan buat pelakor yang belum memiliki pasangan halal. Dia akan mengatakan dengan santainya, kau lah jodohku yang Tuhan kirim padaku. Walaupun aku jadi yang kedua, aku terima dengan ikhlas. Padahal dengan kehadirannya itu, akan membuat hidup seseorang menjadi berantakan. Bahkan yang lebih kejamnya lagi, yang telah memiliki keturunan. Dia akan memisahkan hubungan darah, anak dengan Bapaknya. Pernahkah tersebit rasa itu di hati, pelakor sejati? Tentu tidak! Karena yang dia butuhkan hanya materi dan materi di atas segalanya. Adakah Sugar Daddy atau Sugar Mommy, itu dari kalangan kelas ke bawah? Mustahil alias bulshit! Karena seorang pelakor akan dimanjakan dengan pundi-pundi yang bertaburan. Itu semua sudah menjadi konsekuensinya. Barter! Pertukaran tubuh dengan materi, alasan klasik. Mutualisme simbolisme! Namun itulah yang terjadi dan berjalan hingga kini," ujar Mahen memberikan penjelasan panjang pada istri kecilnya.
"Terkadang dunia semakin memperlihatkan kekejamannya. Karena ulah segelintir anak manusia yang mencari kepuasannya sendiri. Memakai topeng dengan mengatasnamakan agama. Hanya takut dikatakan berzina oleh masyarakat sekitarnya, mereka bahkan berani mengelabuhi Tuhannya. Dengan menutupi kedok hawa nafsu bi r4hi nya dengan jalan menikah siri, agar sah halal di mata Tuhannya. Namun, itu semua hanyalah siasat manusia untuk mencari kesenangan dan kepuasan sesaat. Tanpa mau diribetkan dengan segala macam prosedur yang tertulis di negara."
"Haah! Apa yang kau katakan? Membuat pusing kepalaku! Isi otakku hanya ingin melanjutkan kuliah dan bersenang-senang seperti gadis lain yang seusiaku, tanpa harus memikirkan seabrek urusan orang dewasa," Nayla memutar bola mata.
"Kau ingin kuliah?" tanya Mahen menatap intens ke dalam netra hitam Nayla.
"Iya," jawab Nayla bersamaan dengan anggukan kepalanya.
"Cita-cita kamu apa? Dan ingin mengambil jurusan apa?" tanya Mahen lagi, sedikit serius.
Nayla tanpa sadar setengah membuka mulut, mendengar berondongan pertanyaan yang dikemukakan Mahen. Untuk beberapa detik, manik biru milik suaminya kembali mencuri kesadarannya. Tatapan teduh yang terasa nyaman membuai angan bawah sadar seorang Nayla. Dadanya seolah kosong dan segera membutuhkan oksigen untuk mengisi rongga-rongga kosong yang kian kehabisan stok udara. Jantungnya bergetar hebat, letupan perasaan aneh itu, datang kembali. Kian menuntut keberadaannya untuk menduduki relung hati yang terdalam. Apakah ini benar-benar daun waru alias CINTA?
Tangan kekar itu melambai di wajah Nayla untuk menyadarkan gadis belia yang sedang terbang ke negri awan. "Apa kau ingin membakarku dengan tatapan dan senyumanmu yang menghipnotis jiwa dan ragaku?" Mahen tertawa singkat. Lalu, menyentil kening istri kecilnya.
"Auww, sakit!" pekik Nayla. Kemudian memundurkan tubuhnya bergeser menjauh dari tubuh suaminya.
"Fokus.. Fokus!" hardik Mahen. "Cepat jawab, pertanyaanku!"
Mengerucutkan bibirnya, itulah ekspresi Nayla sekarang. "Cita-citaku adalah menjadi Ibu dari anak-anak Tuan Mahendra Wijaya! Aku mengambil jurusan lurus tanpa berbelok arah, karena tujuan hatiku mendarat dalam hatimu, Tuan tampan super galak!" setelah menjawab pertanyaan Mahen. Gadis itu, eh salah, karena kolam lele Nayla telah terpatuk si Jalu. Sekarang gadis itu telah berubah menjadi wanita seutuhnya. Sistem ijon! Dipetik disaat ranum-ranumnya.
__ADS_1
Eh kembali lagi pada posisi Nayla, sekarang. Dia menjulurkan lidahnya ke arah Mahen yang tengah terperangah. Laki-laki itu bergeming, kehabisan kata-kata. Ada rangkaian senyum yang menghias di lipatan bibir sensual miliknya.
🍒🍒🍒🍒🍒