
Selamat membaca..
🍒
🍒
🍒
Satu minggu berlalu.
Suara pecahan keramik dan kaca saling bersahutan, terdengar semakin gaduh. Di dalam sebuah kamar hunian, terlihat gadis belia sedang membanting apa saja yang ada di dalam ruangan itu berkolaborasi dengan teriakan histeris yang keluar dari bibir ranumnya. Gadis itu mengamuk.
Mahen yang baru saja masuk ke dalam rumah, tercengang mendengar suara keributan dari kamar utama.
"Apa yang terjadi di kamar Nayla?" suara bariton milik Mahen Wijaya itu membuat Gala dan mbak Wida, pelayan baru yang bertugas untuk memberikan rumah itu, berpaling ke arah sumber suara.
Hanya dengan tatapan netra nya saja, sang assisten pribadi. Gala Hilton sudah tahu apa yang diinginkan oleh tuannya.
"Nona Nayla, telah mengetahui siapa orang yang menabrak Ayahnya, Tuan," jawab Gala pada tuannya.
Tatapan Mahen menajam. Seolah-olah mempertanyakan kenapa bisa Nayla mengetahui hal itu.
Mahen mengibaskan tangannya ke arah mbak Wida sebagai tanda dia harus menjauh sedikit dari dirinya dan juga Gala sang assisten.
"Aku tak butuh banyak bicara! Cepat ke intinya saja!" titah Mahen pada Gala untuk memberikan penjelasan penyebab ngamuknya Nayla.
Gala menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya.
Hampir sepuluh menit Gala Hilton menceritakan awal mula kejadian itu, hingga menjadikan kemarahan yang fatal pada gadis belia yang mudah terkena emosi.
Kening Mahen berkerut samar. Pria tampan yang memiliki rahang tegas itu masih berusaha mencerna arah pembicaraan Gala.
__ADS_1
"Saya rasa, Nona Nayla memiliki masa lalu yang sangat buruk, bisa dikatakan trauma dengan sebuah kecelakaan mobil. Tadi Nona Nayla juga sempat berteriak memanggil mommy tolong aku. Ada sesuatu yang aneh dan mengganjal, tuan."
Mahen sedikit menyipitkan mata sambil memasukkan tangan ke saku celana. Dia pun merasakan ada keanehan yang dialami Nayla, istri kecilnya.
"Tidak ada satu pun orang yang boleh menyentuh dan menyakitinya," ucap Mahen. Lalu, pria itu menoleh pada Gala dengan ekspresi wajah yang serius. "Urus perceraianku dengan Giska dan daftarkan pernikahanku dengan Nayla di Negara!" perintahnya
Gala sedikit terkejut dengan perintah tuannya yang secara mendadak itu.
"Maksudnya, tuan?"
"Ancam Giska dengan semua bukti yang kita punya, jika dia tidak bersedia aku ceraikan! Karena aku tidak ingin istriku tersakiti oleh ancaman Giska dan para fans nya itu! Aku ingin Nayla bisa hidup dengan tenang tanpa dibayangi rasa takut lagi!" ujar Mahen.
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi! Cari siapa yang dipanggil mommy oleh Nayla! Secepatnya hasil itu aku tunggu atau aku tak segan-segan menembuskan salah satu peluruku ke kepalamu!" ancam Mahen.
Mahen memutar lutut berjalan ke arah kamar Nayla.
Sesaat Mahen berhenti tepat di depan pintu kamar Nayla yang sedikit terbuka. Istri kecilnya sudah berhenti mengamuk melemparkan barang yang ada dalam kamar dan sudah tidak ada lagi jeritan histeris. Tapi justru sekarang terdengar isak tangis yang memilukan semakin keras.
Mahen menghela napas kasar dan mengusap wajahnya. Nampak istri kecilnya duduk di lantai yang dingin dengan punggung menempel pada sisi ranjang, dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut dengan punggung bergetar.
Nayla yang saat ini hanya memakai tank top dan hotpants memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat membius lawan jenisnya.
Lima menit berlalu, akhirnya Mahen memutuskan untuk membuka pintu kamar berbahan kayu berukir dengan sangat pelan. Langkah yang diayunkan oleh Mahen pun sangat senyap. Bahkan Nayla pun tidak menyadari kehadiran sang suami ke dalam kamar hunian itu.
Mahen bergeming, mematung melihat keadaan sekitarnya yang telah menjadi tempat luapan emosi istri kecilnya.
Rasa lelah mendera Nayla. Perlahan dia mengangkat wajahnya, dan nampak sangat terkejut melihat pria yang berkuasa atas dirinya itu telah berdiri menjulang di hadapannya.
Nayla beranjak dari duduknya. Tatapannya menghunus ke dalam netra Mahen yang kini menatap ke arah Nayla.
__ADS_1
"Pembohong! Penipu! Kau bersekongkol dengan Giska! Apa yang kau inginkan dariku! Memberikan kesepakatan laknat itu padaku! Setelah apa yang kalian rencanakan berhasil kalian membuangku begitu saja! Dasar brengsek! Kebaikanmu hanya untuk menutupi kebusukanmu, Tuan Mahendra Wijaya! Di mana rasa empatimu! Manusia bi ad4b!" jerit histeris Nayla dengan menyambar vas bunga yang tak jauh dari posisinya.
Nayla mulai mengamuk dan menyerang suaminya membabi buta dengan memukulkan vas bunga kristal di kepala Mahen. Dengan pergerakan cepat Mahen berusaha mengunci tangan Nayla dan berhasil. Namun, diluar dugaan Mahen, dengan gesit istri kecilnya itu bisa meloloskan diri dari kuncian pria yang bertubuh kekar itu.
Prakk..
Suara hantaman keras itu mengenai pelipis Mahen ketika menghadap ke samping dengan indera penglihatan yang tertutup rapat. Seketika perlahan sesuatu yang berbau amis dan berwarna merah pekat merembes mengaliri wajahnya.
Seketika vas itu terlepas dari tangan lentik Nayla. Bukan maksud hatinya untuk melukai pria di hadapan nya itu. Dia hanya tidak ingin ada yang menyakiti dirinya. Karena rasa kecewa yang di dapat dari berita yang di dengarnya itu. Merasa dibohongi oleh orang terdekatnya.
Hening..
Melihat darah yang terus mengalir di wajah pria tampan yang berdiri di depannya tanpa merasa sakit sedikit pun. Membuat miris pemandangan di netra Nayla.
Sedetik kemudian, tubuh ramping itu gemetar dan limbung tak seimbang berdiri, goyah dan nyaris ambruk di lantai yang banyak pecahan kaca dari benda-benda yang di banting Nayla. Dengan sigap Mahen menangkap tubuh yang limbung di depannya itu dengan kedua tangannya.
Dengan cepat Mahen mengangkat tubuh istri kecilnya itu dan membaringkan perlahan di ranjang king size.
"Istirahatlah, pejamkan mata sejenak untuk meredam emosi yang tidak stabil," ujar Mahen dengan suara lembut tanpa penekanan.
Nayla memejamkan kedua bola mata hitamnya. Dengan buliran kristal bening perlahan lolos dari persembunyiannya.
"Maafkan aku," lirih Nayla dengan mata yang masih tertutup rapat. "Terimakasih, tidak membalasku dengan amarahmu," ucap Nayla lagi.
"Tidur lah, jangan fikirkan itu semua. Aku akan meminta mbak Wida untuk membersihkan kamar ini," ucap Mahen penuh dengan kesabaran.
Kenapa dia tidak bisa marah dengan gadis belia itu? Mahen sendiri pun terkadang masih bingung untuk mencari jawabannya. Padahal dia tidak pernah se gentle itu memperlakukan seorang wanita. Sekalipun itu pada Giska yang berstatus istri sahnya.
Di saat Mahen akan beranjak dari ruangan itu, tiba-tiba lengannya ada yang menahan langkahnya. Pria itu tak jadi mengayunkan langkahnya dan perlahan memutar lututnya.
"Ada apa?" tanya Mahen menatap ke arah mata nanar Nayla.
__ADS_1
Rasa iba kah yang terbesit dalam hati Mahen? Tidak! Dia merasakan sesuatu rasa yang mulai mengalir yang tersimpan rapat dalam hatinya bertahun-tahun, kini terbuka oleh istri kecilnya. Yang terbaring lemah dan menyimpan sejuta luka dalam hatinya.
🍒🍒🍒🍒🍒