
Selamat membaca...
💖
💖
💖
Beberapa jam yang lalu, setelah Mahen berangkat ke kantor. Nayla hanya bermalas-malasan di atas ranjang king size dalam hunian kamarnya. Badan rampingnya terasa remuk, tapi perut yang berbunyi menandakan para penghuni menuntut jatah paginya yang sudah terlewatkan.
Hari yang sangat melelahkan bagi Nayla yang baru saja menjalani hidup sebagai istri siri Mahendra Wijaya. Setelah semalam dia membayar lunas kewajibannya menjadi istri seutuhnya bagi Mahen.
Nayla menggeliatkan tubuhnya, merenggangkan otot-otot yang kaku.
Hari yang sangat membosankan, jika aku terus berasa di dalam rumah sebesar ini, sendirian. Ibu saja tidak mau ku ajak pindah ke sini. Dengan alasan lebih baik di rumah Ibu sendiri, walaupun kecil dan hidup sederhana. Karena Ibu tidak ingin menumpang dan menganggu rumah tangga putrinya. Jika aku harus menunggu sampai satu tahun waktu perjanjian yang disepakati selesai, bisa-bisa jamuran. Bagaimana kalau aku mengusulkan pada Tuan Mahen untuk ijin melanjutkan kuliah. Biar waktu dalam satu tahun berjalan tidak terasa, karena aku bisa menghabiskan waktuku dengan belajar, bertemu teman baru. Dan yang terpenting setelah melaksanakan tugas dari Tuan Mahen. Aku bisa menjadi seorang sarjana, bukan hanya sekedar lulusan SMA, saja. Agar bisa melamar pekerjaan yang lebih baik lagi dari yang kemarin.
Nayla menurunkan kakinya perlahan-lahan dari tempat tidur. Rasanya ada yang mengganjal di bawa sana. Sesuatu yang aneh dirasakan yang merubah dirinya menjadi wanita seutuhnya, pasca pergulatan panas sumo yang menghasilkan keringat sebiji jagung di atas ring ranjang king size.
Nayla sangat terkejut dengan keadaannya, saat ini. Ia baru menyadari lututnya terasa lemas sewaktu ia hendak berdiri dari ranjang berjalan ke kamar mandi.
'Semua ini gara-gara om galak yang mengeluarkan semua kekuatannya penuh ekstra besar untuk memanuver tubuh rampingku. Emangnya tubuhku candu buatnya, tapi siapa sih yang bisa menolak pesona Nayla Suherman," kekeh Nayla seraya mengelengkan kepalanya.
'Narsis sedikit bolehlah. Buktinya saja dalam semalam tubuhku dibabat habis bercinta bolak balik. Dengan alasan apa pun dia menggunakan alibi a b c d nya, tetap saja yang ada dia menikmati tubuh ini. Biar dia berkata tidak boleh jatuh cinta di bibirnya atau di kertas surat perjanjiannya sekalipun. Tetap saja reaksi tubuhnya tidak bisa membohongi. Katanya sama-sama baru dalam hal ini, tapi dia bergerak seolah-olah seorang ekspert yang mengajari juniornya yang polos sepolos Marsha yang mengerjain Bear,' lagi-lagi Nayla menggerutu.
Dengan menempelkan telapak tangannya ke dinding dan mengayunkan langkah hati-hati berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
'Ya Tuhan, kenapa rasanya masih sakit dan perih yang ditusuk-tusuk semalam' gumam Nayla sambil berjalan pelan-pelan seperti pengantin sunat.'
Sekarang posisi Nayla berdiri di kaca besar di depan wastafel kamar mandi. Ia bisa melihat wajahnya yang cantik hingga turun ke bagian atas. Kue mochi yang berjajar dua itu, kini dipenuhi dengan banyak toping berwarna merah semerah buat strawberry pasca percintaan panasnya dengan Mahen. Tanda kepemilikan yang tertera dari leher jenjang nya hingga di area tubuhnya penuh semua.
Gila!
'Dia itu manusia apa vampir? Seliar itu kah, om galak? Ya Tuhan, covernya saja bak kulkas pintu lima bolak-balik. Seakan-akan tidak ingin menyentuh wanita. Tapi nyatanya, berporsi porsi makan bakso jumbonya,' mulai Nayla menggerutu mengomentari kegilaan seorang Mahendra Wijaya di atas ring tinju sebenarnya.
Rambutnya yang hitam tergerai tampak berantakan, ia sisir dengan jari-jari lentiknya. Dan berhenti di pucuk kepalanya.
"Kenapa aku bisa bertemu dengan laki-laki seperti dia? Aku nggak mungkin jatuh cinta padanya. Tidak boleh Nayla! Dia bukan untukmu! Kamu tidak sepadan dengan dia! Dia pewaris tunggal Wijaya Group Company. Sedangkan kamu hanya putri seorang pegawai rendahan! Nggak mungkin! Dan tak akan bisa bersatu! Dia sudah memiliki istri artis yang cantik dan terkenal! Sedang kamu! Hanya seorang bocah ingusan yang baru lulus sekolah! Semua yang diucapkan semalam hanyalah bersifat sementara. Aku yakin itu hanya sebuah ekspresi sesaat ketika dia menikmati tubuhmu! Sama halnya jika dia sedang bercinta dengan Nyonya Giska, pasti dia juga akan mengatakan aku mencintaimu, sayang! Dasar mulut laki-laki, di sini cinta! Di sana cinta! Tengah-tengah nya mati kutu! Kau segalanya! Kau hidupku! Kau pujaanku! Preet.. Bulshit kamvret! Aah, biar saja semuanya terjadi seperti air mengalir. Jangan berharap sesuatu yang tak pasti. Ujung-ujungnya gigit jari!" gumam Nayla meyakinkan diri, bahwa yang dikatakan oleh Mahen semalam hanyalah sebuah ilusi.
Selesai dengan semua idenya, Nayla segera menuju ke arah kamar mandi dengan penuh semangat. Ia sudah tidak sabar untuk segera memberitahukan rencananya pada Mahen.
****
Surya memberhentikan mobil yang dikemudiankan tepat di sebuah bangunan besar dengan cat berdominasi hitam diselingi gold dan putih di beberapa sisi.
Surya turun dari mobil, lantas menghampiri salah satu pria yang berseragam petugas keamanan yang kebetulan berdiri di salah satu pintu gerbang yang sedang terbuka.
"Selamat siang, pak. Permisi saya, mau bertanya," Surya memulai percakapannya dengan Bapak Waluji sesuai yang tertera dengan nick name di atas saku bajunya.
"Iya selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Waluji pada Surya yang berdiri di dekatnya.
"Apa benar ini rumah Nona Nayla Suherman?" tanya Surya tanpa berbasa-basi lagi. Karena tatapan Nyonya besarnya sudah tidak menunjukkan keramahan.
__ADS_1
"Iya, betul. Kalau boleh tahu dengan siapa ya? Ada keperluan apa dengan Nona Nayla?" tanya Pak Waluji kembali menelisik.
"Beliau adalah Nyonya besar saya, Mama kandung dari Tuan Mahendra Wijaya pemilik rumah ini," ujar Surya mengatakan jika Mama Siska adalah Ibu Mertua dari Nona Nayla.
Kedua netra nya membulat sempurna. Pak Waluji menunjukkan ekspresi kaget yang tidak dibuat-buat. Karena pak Waluji baru beberapa hari bekerja sebagai keamanan di rumah itu.
Pak Waluji spontan berlari kecil mendekat ke mobil yang berhenti di depan pintu gerbang rumah Mahendra bersama Nayla.
"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Pak Waluji bertanya pada Mama Siska dengan sopan dan memberi hormat sekilas ketika kaca jendela mobil itu diturunkan dan terbuka lebar.
Nampaklah wanita paruh baya yang masih terlihat jelas guratan-guratan kecantikannya.
"Siang, Mahendra Wijaya, ada di dalam?" tanya Mama Siska dengan wajah datar.
"Maaf, Tuan Mahendra Wijaya sudah berangkat ke kantor, Nyonya," jawab Pak Waluji jujur.
"Oh, sudah berangkat ke kantor. Kalau Nayla Suherman, ada di rumah?" Mama Siska langsung menanyakan menantu barunya itu.
"Kalau Nyonya Nayla, ada di rumah," ujar Pak Waluji. "Tapi, sebentar saya beritahukan terlebih dahulu, kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya Nayla," Pak Waluji belum juga memutar lututnya untuk meninggalkan wanita itu. Tapi, suara wanita paruh baya itu, terdengar kembali.
"Tak usah repot-repot kamu memberitahukan pada dia ke dalam. Biar saya langsung menemuinya di dalam. Dan perlu kamu tahu, saya adalah Mama kandung dari Mahendra Wijaya, Bos kamu! Kamu tidak perlu melaporkan dulu ke dalam dan saya yang akan bertanggung jawab semuanya," tegas Mama Siska sambil memberikan kode pada Surya untuk melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah Mahendra.
"Cepat buka pintunya!" titah Mama Siska pada Pak Waluji, yang mengangguk patuh lalu berjalan mendorong pagar besi rumah Mahendra untuk memberi akses masuk pada mobil yang dikemudian Surya.
💖💖💖💖
__ADS_1