Penakluk Cinta Sang Pewaris

Penakluk Cinta Sang Pewaris
SETAN CEMBURU


__ADS_3

Selamat membaca...


🍒


🍒


🍒


Setelah mengantar kepergian suaminya dan deru mobil yang membawa Mahen semakin menjauh dari pendengarannya, tanda bahwa mobil itu telah melesat membaur di keramaian kota di pagi hari. Nayla segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, lalu bersiap diri untuk pergi menengok Ibunda tercinta.


Hanya dengan make up yang tipis dan memoles bibirnya dengan pewarna bibir yang tidak terlalu mencolok. Wajah Nayla tetap terlihat ayu dan anggun. Memutar-mutar sebentar tubuhnya di depan meja rias yang menghiasi kamar tidurnya, Nayla tersenyum manis. "Begini saja sudah cantik. Hehehe.. Kan sudah dari lahir aku memang cantik. Namanya juga wanita, pasti cantik. Kalau tampan itu laki-laki. Kalau separuh jiwa itu baru yang tak jelas keabsahannya," Nayla terkekeh sendiri dengan keabsurd tannya.


Nayla duduk di kursi penumpang di belakang sopir, sambil menikmati pemandangan yang menyegarkan mata.


Di tengah perjalanan menuju rumah Ibunya, fokus Nayla tertuju pada sebuah gerobak yang sedang menjajakan cilok makanan favoritnya di sekolah dulu. Ia menelan salivanya kasar. Rasa ingin memakan cilok dengan limpahan saus dan sambal yang sangat lezat melambai-lambai di depan matanya.


Keinginan itu tiba-tiba saja muncul tapi tidak langsung membelinya pada kang cilok yang sedang menjajakan dagangannya itu. Melainkan membuat cilok itu sendiri di rumah Ibunya.


Nayla membayangkan membuat cilok sendiri dengan berbagai variasi. Dari cilok isian sosis, keju, daging ayam, telur puyuh. Pasti lezat rasanya.


"Pak, mampir dulu ke minimarket terdekat ya, aku mau beli sosis," titah Nayla pada Pak Heru, sopir yang mengemudikan mobilnya.


"Baik, Nyonya," Pak Heru segera memutar stir bundarnya ke arah minimarket yang di maksud Nayla.


Nayla bergegas turun dari mobil sedan yang ditumpanginya, masuk ke dalam minimarket. Namun, tanpa Nayla sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari dalam mobil sport hitam.


Nayla langsung menuju kulkas yang berisi frozen food. Mengisi keranjang belanjaannya dengan apa yang diinginkan hatinya. Ada sosis, nugget, bakso, daging ayam, telur puyuh, keju. Kemudian dia buru-buru menuju kasir untuk membayar belanjaannya.


Brukk..


Keranjang belanjaan yang ada di genggamannya terjatuh di lantai putih minimarket.


"Maaf," ucap seseorang yang langsung memunguti belanjaan Nayla. Lalu menyerahkan pada Nayla kembali. "Ini belanjaannya, maaf aku tidak sengaja."


"Eh, terimakasih," jawab Nayla menatap lurus pada seseorang yang berdiri tegap dengan memegang keranjang yang penuh dengan belanjaan Nayla.


"Kamu!" ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


"Nayla? Beneran ini kamu?" Rahadian tak berkedip menatap Gadis yang sangat dicintainya.


"Rahadian," sapa Nayla tersenyum tipis.


"Apa kabar kamu?" Rahadian memperhatikan Nayla dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Banyak perubahan pada diri Nayla. Nayla yang sekarang nampak semakin dewasa. Dan juga tubuhnya yang semakin padat berisi. Sangat terlihat jelas hasil pompaan Mahen setiap harinya pada tubuh istri kecilnya itu.


"Alhamdulillah, kabar aku baik-baik saja dan sehat," cengir Nayla khasnya. Tapi Nayla berusaha menjaga jarak dengan Rahadian, dia sadar diri bahwa statusnya kini bukanlah sebagai gadis lajang lagi. Melainkan istri dari seorang Mahendra Wijaya.


"Tambah cantik," lirih Rahadian, tetap saja terdengar di rungu Nayla.


"Enggak, biasa aja tuh," tolak Nayla. "Kamu itu yang tambah ganteng," tak sadar Nayla memuji ketampanan Rahadian, pria yang selama ini mengaguminya.


"Ganteng percuma saja," Rahadian menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Kenapa?" tanya Nayla polos.


"Percuma ganteng tapi tak bisa merebut hati kamu," ucapan Rahadian yang langsung membuat merah merona wajah Nayla.


Rahadian salah tingkah atas pujian yang dilontarkan oleh Nayla.


"Sabar suatu hari nanti kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku," cicit Nayla tidak mau terlalu jauh untuk memberikan pengharapan palsu pada pria yang telah menjadi sahabat nya itu.


"Aku maunya kamu, Nae. Bukan wanita lain yang menjadi pendamping hidupku. Hati ini terasa sakit saat melihat kau bersanding dengan yang lain," ujar Rahadian mengerat kepalan tangannya.


"Kamu tahu rasanya kehilangan, Nae? Apa aku harus menyerah dan berhenti berjuang sampai di sini?"


Hati kecil Nayla tak ingin menyakiti orang yang telah bersamanya bertahun-tahun. Bersama dengan kelima sahabatnya yang lain. Tapi takdir hidup kita siapa yang tahu.


"Apa aku belum sekaya laki-laki itu, hingga kamu lebih memilih dia daripada aku?" ucapan Rahadian semakin kacau. Membuat dada Nayla semakin sesak.


Nayla segera mengalihkan pembicaraannya dengan Rahadian.


"Permisi, belanjaan ku mau aku bayar dulu di kasir. Mumpung kosong tak ada antrian," Nayla segera mengambil keranjang yang penuh dengan belanjaan yang dipilih nya tadi.


Setelah membayar di kasir. Nayla pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Ibunya.

__ADS_1


"Nae.." panggil Rahadian.


Nayla memandangi lelaki yang memanggilnya.


"Tolong, jangan pernah menunggu aku," hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir pinknya.


"Hanya satu yang aku punya saat ini untuk tetap mempertahankan sebisa mungkin, hingga tidak ada alasan paling kuat untuk pergi meninggalkan kamu Nae. Yaitu TEKAD!"


"Jangan berlebihan mencintai makhluk Nya. Karena itu akan membuat kehancuran di masa depanmu! Mencintai Sang Pencipta itu lebih baik, Rahadian. Keseimbangan tetap selalu terjaga agar tidak ada kesalahan dalam berpijak! Sekuat-kuatnya tekadmu tetap akan terkalahkan dengan TAKDIR yang telah digariskan! Sebesar-besarnya cinta yang kau miliki untuk Makhluk Nya. Tetap lebih besar cinta Nya pada makhluk ciptaan Nya!" setelah mengatakan semua itu Nayla memutar lututnya dan melangkah pergi dari pandangan Rahadian.


Rahadian menjambak rambutnya frustasi. 'Aku sangat mencintaimu, Nayla Suherman! Aku pasti bisa mendapatkan cintamu! Aku yakin itu!'


*


*


*


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Setelah mendapatkan laporan tentang istri kecilnya, Mahen tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


Mahen berjalan mondar-mandir dengan merancau tak jelas. Sedari tadi dia tidak bisa menghubungi ponsel Nayla.


"Aku bisa gila kalau begini! Belum masuk kuliah lagi saja sudah membuatku pusing. Apalagi Nae melanjutkan pendidikannya ke fakultas yang diinginkannya selama ini. Bisa-bisa mati berdiri aku, lihat pengemar Nayla yang begitu banyak di luar sana!"


Hingga berulangkali Mahen menekan nomor telepon yang dihafal di luar kepalanya. Tapi tetap tidak tersambung kan juga.


"GALA HILTON!" suara bariton itu terdengar hingga di meja sekretarisnya.


Dengan tergesa-gesa wanita yang duduk dibalik meja kerjanya itu, segera berdiri dan berlari ke arah ruangan assisten pribadi Mahendra Wijaya.


"Tuan Mahen, memanggil Tuan Gala. Sepertinya jiwa Tuan Mahen sedang dirasuki," nafas wanita itu tersengal-sengal.


"Dirasuki apa?" iris mata Gala membulat sempurna.


"SETAN CEMBURU!" jawab spontan wanita yang menjadi sekretaris Mahen.


🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2