
Selamat membaca..
🍒
🍒
🍒
Di tempat lain.
Tingg!
Suara lampu jalanan berubah hijau.
Pramudya membawa cepat mobilnya melewati lampu lalu lintas tersebut bersama kendaraan lainnya.
Di dalam mobil tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya. Cukup lama mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga akhirnya si pengemudi mobil fortuner hitam memarkirkan kendaraan beratap nya di area basement apartemennya.
"Honey, sudah sampai," ucap Pramudya mencoba mencairkan suasana sembari melepaskan seat belt dari tubuhnya.
Tapi ucapan pria yang membuka pintu mobil itu, langsung disambut dengan ucapan bernada datar. "Udah tahu."
Giska menutup pintu mobil dengan sedikit membantingnya dan meninggalkan Pramudya begitu saja.
'Kesambet apa dia? Uring-uringan seperti itu!' gumam Pramudya yang bingung dengan tingkah Giska barusan.
Ia pun segera turun dari mobil fortuner hitam. Lalu menyusul Giska yang sedang nggak jelas moodnya.
"Kamu kenapa, Honey?" tanya Pramudya sembari melingkarkan tangannya ke pinggang langsing Giska.
__ADS_1
Namun, Giska dengan cepat menghindar dari pria yang sedang berjalan di sampingnya.
"Kenapa? Kenapa? Katanya sayang, tapi kenapa nggak faham apa yang sedang aku rasakan, sekarang ini!" ketus Giska, masuk ke dalam lift duluan.
Pramudya pun langsung mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan sikap kekasih gelapnya itu.
****
Di dalam kamar apartemen Pramudya.
"Honey," panggil Pramudya yang baru saja masuk ke dalam ruangan apartemen mewah miliknya.
Namun, tidak ada sahutan jawaban apa pun dari bibir Giska.
"Honey," panggil nya lagi.
Hingga berkali-kali Pramudya memanggil wanita itu, akhirnya terdengar juga sahutan dari kekasihnya. "Iya, apa!" teriak Giska dari dalam kamar.
"Apa? Aku nggak kenapa-napa!" ketusnya.
"Kamu marah dengan siapa? Siapa orang nya yang menyakiti kamu?"
"Siapa yang marah! Jangan sok tahu!" jawab Giska sambil menutup layar ponselnya.
Pramudya terperangah mendengar jawaban yang semakin membuat pria itu jengkel dan geram.
"Kamu habis kejedot apa sih, kepala kamu? Pulang-pulang jadi sewot begini!" seloroh Pramudya.
"Kejedot tembok besar!" tukas Giska dengan nada sinis.
__ADS_1
Pramudya berusaha mencairkan suasana lagi, dengan menggelitik pinggang Giska. Tapi, bukannya tertawa bahagia yang dia dengar. Melainkan suara lantang yang keluar dari bibir Giska.
"Aku lagi badmood! Aku marah! Aku benci Mahendra Wijaya!" ujar Giska mengarahkan pukulan ke wajah Pramudya dan juga dada bidangnya dengan kuat.
Bepp!
Pukulan Giska langsung ditangkis oleh Pramudya sebelum mendarat ke wajahnya.
Pramudya menahan tangan Giska dengan kedua tangannya yang kokoh. "Katakan, apa yang sedang terjadi, hingga kamu marah seperti itu!"
Giska bergeming.
"Honey..!"
Kini posisi mereka berubah. Pramudya mengungkung tubuh Giska di bawah tubuhnya.
"Kenapa diam? Katakan sekarang, siapa yang membuat kamu marah nggak jelas begitu!" tatapan menghunus Pramudya mengintimidasi.
"Mahendra Wijaya, menikah lagi! Puas kamu!" teriak Giska.
Bola mata Pramudya membulat sempurna.
"Haah? Mahendra Wijaya menikah lagi? Dengan siapa?" Pramudya memberondong pertanyaan pada Giska.
"Menikah siri! Mahen menginginkan keturunan dari pernikahannya itu!"
"Ooh, menikah siri. Demi memiliki keturunan," ujar Pramudya ber oooo ria.
"Seharusnya kamu bahagia, Honey," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Bahagia bagaimana, maksud kamu?" hardik Giska dengan mengerutkan bibirnya. "Kamu setuju, gitu!"