
Selamat membaca..
🍒
🍒
🍒
Mobil yang dikemudikan Gala belum terparkir sempurna. Tapi tuan mudanya sudah tidak sabar menunggu, dia langsung membuka pintu mobil bagian penumpang di samping Gala, lalu berlari ke dalam rumah.
"Mama..," panggil Mahen dengan napas ngos-ngosan.
Pria tampan itu mengendorkan dasi yang melingkar di lehernya sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tapi tak juga ia menemukan keberadaan Mamanya.
"Dipanggil panggil tak muncul. Mama di mana, sih?" gumam Mahen yang sesekali mengusap wajahnya kasar. Ia merasa penasaran. Ia pun berinisiatif menuju kamar pribadinya bersama Nayla.
Sebelum mencapai tujuan, ia merogoh saku celananya, untuk mengambil ponsel. Lalu dia membuka layar benda pipih canggih itu dan segera menekan nomor mbak Wida.
Mahen menunggu beberapa detik sambungan teleponnya dijawab seseorang dari sebrang.
"Assalamu'alaikum, tuan," salam mbak Wida, sebagai pembuka percakapan dengan tuannya.
"Waalaikumsalam, mbak Wida ada di mana, sekarang?" tanya Mahen buru-buru.
"Saya masih perjalanan pulang dari pasar, tuan Mahen. Ada apa, ya, tuan?" jawab mbak Wida sekaligus memberikan pertanyaan balik ke Mahen.
"Oh, lagi di pasar. Kamu tidak tahu kalau di rumah ada Mama saya?" selidik Mahen.
"Maaf, tuan. Saya tidak tahu kalau di rumah, sekarang ada Mama nya, tuan Mahen," jawab jujur mbak Wida.
"Ya sudah. Mbak Wida segera pulang!" perintahnya, langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
__ADS_1
Mbak Wida menatap layar ponselnya yang sudah tidak terhubung panggilan dengan tuannya. "Kebiasaan orang kaya, kalau telepon suka diputus tiba-tiba. Tapi, jika panggilannya belum terjawab. Pasti marah-marah," dengkus mbak Wida. "Coba kalau kita yang mutuskan duluan, kartu merah langsung melayang. Kamu itu tidak sopan, orang masih bicara sudah main tutup aja," mbak Wida ngomel-ngomel absrud sambil terus berjalan menuju parkiran.
Kembali lagi pada Mahen.
Mahen memberhentikan langkahnya, ketika ia mendengar jelas perbincangan Mama Siska dengan Surya supir setianya.
Terlihat jelas di wajah sang Mama menampakkan kesedihan. Bahkan cairan bening itu pun telah lolos dari kedua netra nya. Ingin sekali Mahen berlari memeluk orang yang telah melahirkannya dan menghapus air matanya. Tapi itu semua, tidak ia lakukan. Karena ia lebih memilih tetap tinggal di posisinya sekarang, demi bisa mendengar percakapan dua manusia yang berbeda gender itu.
"Apa saya salah jika menginginkan kebahagiaan untuk putra semata wayang ku? Mungkin dulu adalah kesalahan ku untuk menekan Mahen segera menikah, hingga Mahen terjebak pernikahan dengan Giska. Awalnya saya sangat mempercayai ketulusan cinta Giska pada Mahen. Tapi dengan beriringnya waktu berjalan, semua fakta itu terungkap juga. Hingga saya mengetahui Giska telah mengkhianati putraku. Ia berselingkuh dengan Pramudya Adiswara sang produsernya sendiri. Sakit rasanya hati saya, melihat itu langsung dengan mata saya sendiri, tanpa laporan dari seseorang," ungkap Mama Siska dengan isak tangis yang mulai terdengan jelas.
"Sabar, Nyonya besar. Jangan menangis terus. Semua pasti ada hikmahnya dibalik suatu kejadian. Lebih baik Nyonya berterus terang saja langsung dengan tuan muda Mahen, agar pikiran dan hati, Nyonya besar menjadi plong. Dan jika Nyonya ingin merasa lebih tenang lagi, mending Nyonya besar, curhat sama Alloh Subhanallahu wa' taalla. Agar meringankan beban yang selama ini Nyonya pikul dan InsyaAllah, pasti Alloh Maha Penyayang pada hambanya akan memberikan solusi yang terbaik dalam segala urusan yang ada di dunia ini," Surya berusaha mengimbangi curhatan Nyonya besarnya dengan bijak dan santun.
Mama Siska menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang berada di ruang keluarga. Matanya terpejam sesaat.
"Apa saya yang sudah jauh sama Alloh, ya, Sur? Ataukah saya yang terlalu memikirkan duniawi saja. Terlalu banyak menuntut pada Mahen. Dulu waktu dia beranjak dewasa, saya menuntut Mahen agar belajar bisnis untuk suatu hari bisa menggantikan papa nya, mengurusi Wijaya Group, Company. Setelah Mahen menguasai bisnis itu, saya kembali menuntut dia untuk segera menikah. Dan setelah dia menikah beberapa tahun dengan Giska, saya mulai menuntut nya lagi. Agar segera memiliki keturunan, bahkan yang lebih jahatnya lagi. Saya menyuruh Mahen agar menikah lagi supaya dia cepat memiliki keturunan. Dan kenapa saya menyuruh seperti itu, Sur? Jawabannya adalah karena hatinya saya sakit dan kecewa, putra saya dipermainkan seperti itu. Apa putra saya telah berbuat jahat sama Giska, hingga dia tega berselingkuh di belakang Mahen?
Terkadang rasanya hati ini sudah tak kuat lagi untuk menahannya. Apa menurutmu, lebih baik saya mengatakan semua itu pada Mahen, ya, Sur? Tapi, tidak hanya itu, Sur. Nanti saya juga akan memarahi Mahen juga, enak saja dia menikah lagi. Saya tidak dikasih tahu. Ingin dicoret dari KK keluarga besar Wijaya, apa ya, Mahen itu? Yang lebih parahnya, milih daun muda. Benar-benar si Mahen minta diceramahi empat puluh hari empat puluh malam" curhatan panjang kali lebar jalan kenangan, Mama Siska pada supir kesayangannya itu.
Surya bergeming. Ia tak boleh asal menyuarakan usulannya atau bahkan memberikan solusi yang belum tentu sama dengan Nyonya besarnya. Bisa-bisa dia dikasih tendangan maut oleh Mahendra Wijaya. Walaupun ia tahu kegelisahan dan kebimbangan terlihat jelas di wajah Mama Siska, sekarang ini. Surya tidak ingin semakin memperkeruh suasana hati Nyonya besarnya, hingga membuat Mama Siska semakin bersedih.
"Nyonya besar," panggil Surya beberapa kali.
Suara Surya berhasil menggoyahkan lamunan sesaat Mama Siska. Dia menghela napas panjang setelah dia membuka kedua matanya.
"Iya, Sur. Bagaimana menurut kamu?"
"Ini kalau menurut saya, Nyonya. Apa tidak lebih baik, Nyonya besar menceritakan semuanya tentang yang apa Nyonya besar ketahui dan juga menyertakan bukti-bukit yang kuat agar tuan muda Mahen tidak berselisih paham dengan Nyonya besar, dikemudian hari. Dan jika masalah ini disimpan terlalu lama. Takutnya suatu hari nanti ada pihak yang tidak suka dan semakin meracuni pikiran tuan muda Mahen. Dan yang anehnya lagi, Nyonya besar tidak menyukai pengkhianatan yang dilakukan Nyonya Giska. Tapi, menyuruh tuan muda Mahen untuk menikah lagi, sebelum menceraikan Nyonya Giska. Itu sama saja Nyonya besar memicu masalah yang besar dan semakin ruwet bin rumit alias mbuleti,"
"Kamu berani menyalahkan saya, Surya?" tanya Mama Siska tanpa mengedipkan kedua matanya. Sorot matanya yang tajam, seketika membuat nyali Surya menjadi mengkeret.
Surya menangkup kedua tangannya meminta maaf, "Maaf, Nyonya besar, maafkan saya yang telah lancang memberikan usulan."
__ADS_1
Beberapa detik, Mama Siska terdiam. Dia mengerutkan keningnya.
Lancang?
"Siapa yang lancang, Surya?" timpal cepat Mama Siska.
"Saya, Nyonya besar,"
"Surya.. Surya. Kamu itu lucu," kekeh Mama Siska kemudian. "Kamu takut, saya marahin, ya," canda Mama Siska mencoba mencairkan suasana hatinya dan membuat Surya biar tidak spaneng.
"Saya berterimakasih banget sama kamu, Surya. Sudah selalu ada untuk menemani saya ke mana-mana, dan sudah bersedia mendengar curhatan saya dengan gratis. Coba kalau saya curhat ke psikolog, sudah pasti mahal, Sur," candanya lagi.
"Bisa saja, Nyonya besar ini," Surya ikutan cengar-cengir.
"Saya bersyukur, Sur. Masih ditemukan di sekeliling saya, orang-orang baik yang tidak semata-mata memanfaatkan saya."
Mama Siska mengesah berat. Bulir-bulir kristal dari pelupuk matanya, tiba-tiba menetes kembali di pipinya.
'Waduh, gimana ini? Nyonya besar menagis lagi,' gumam Surya bingung.
Secepat kilat Mahen keluar dari persembunyiannya, lalu segera memeluk Mama Siska yang menangis sesenggukan.
"Maafkan Mahen, Ma," ucap Mahen mempererat pelukannya.
"Dasar bocah gemblung!" pekik Mama Siska spontan memukuli punggung Mahen sembari terisak. "Kenapa kamu tidak memberitahukan pada Mama, kalau kamu menikah lagi! Dasar bocah sableng! Minta dicoret kamu dari KK!" hardik Mama Siska.
Tiba-tiba celutukan Mahen membuat Mama Siska tersenyum.
"Dicoret kan masih bisa direvisi, Mama sayang," Mahen menghujani ciuman kasih sayang seorang putra pada Mamanya pada wajah wanita berusia senja itu.
Dan Mahen pun melongo dengan kata-kata Mama Siska. "Kamu harus puasa dulu satu bulan. Kue ape Nayla bengkak mengembang, gara-gara kamu memanuvernya full power!" bisik Mama Siska di indera pendengaran Mahen.
__ADS_1
"Tidaaaaaaakkkk!" jerit Mahen. "Gimana nasib Jalu, harus puasa lagi?"
💖💖💖💖💖