
Happy reading...
Pagi hari, Nayla sudah terbangun sepuluh menit yang lalu. Tapi dia tidak melihat Mahen ada di kamar itu.
'Sepi? Pada kemana Bos dan asistennya. Tumben tidak menjagaku dengan ketat.'
Belum juga Nayla merasakan kesendiriannya. Tiba-tiba pintu ruangan rawat inap Nayla dibuka seseorang dari luar.
"Pagi, Sayang."
Suara Mahen meramaikan ruangan yang tadinya sepi.
'Biang rusuh, datang.'
"Kenapa, nggak mau aku temani?" bibir Mahen mengerucut.
"Mana bubur ayamnya?" tanya Nayla sambil menatap ke arah Mahen.
"Sayang, aku---."
Dengan wajah sedikit kesal, Nayla langsung menyambar ucapan Mahen. "Jangan bilang nggak dapat bubur ayamnya," cerca Nayla tancap gas.
"Kata siapa nggak dapat," Mahen mendekat di ranjang Nayla. "Taraaa," Pria itu memamerkan sesuatu pada Nayla. Dia mengangkat satu mangkuk bubur ayam sesuai toping pesanan istri kecilnya. Dan yang terpenting pesanannya adalah bubur ayam itu harus di taruh di mangkuk yang bergambar ayam jago di pinggir mangkuknya.
Saat Nayla melihat mangkuk yang ada ayam jago sesuai pesanannya, ekspresi wajahnya berubah ceria, kedua matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih, Sayangnya Nae," ucap Nayla manja dan langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Mahen. Dengan sigap Mahen langsung menyambut Nayla dalam pelukannya.
"Kembali kasih, gemesnya Mahen," Mahen mencium kening Nayla dalam.
"Terimakasih, Papa yang baik hati. Jangan cuma Mama yang ditium. Dedek juga mau ditium Papa," suara Nayla berubah menirukan suara anak kecil.
Mahen tertawa. "Hahaha... Dasar anak Papa yang tak mau kalah saling sama Mamanya," Mahen menurunkan kepalanya di depan perut Nayla, lantas mengelusnya dengan lembut dan diberikan banyak kecupan. "Emuach.. Emuach.. Nih Papa tium banyak-banyak."
Nayla menatap Mahen dengan hati yang terenyuh. "Dicintai itu lebih baik dan lebih berbahagia lagi, jika kita mencintai orang yang mencintai kita."
Tepat pukul sembilan pagi, Dokter wanita yang memeriksa Nayla masuk ke dalam ruangan didampingi seorang perawat yang membawa buku catatan kesehatan Nayla.
__ADS_1
Setelah beberapa menit memeriksa Nayla dan karena tekanan darah juga sudah stabil. Akhirnya Nayla diperbolehkan pulang.
Nayla hanya dirawat sehari saja, selama istri kecilnya di rumah sakit, Mahen tidak meninggalkan Nayla sama sekali. Ia hanya ingin menemani istri kecilnya itu seharian penuh. Dia terlalu bahagia mendapatkan kabar tentang kehamilan Nayla, dia juga tak ingin sampai melewatkan momen terpenting dan terindah itu bersama Nayla, istri kecilnya.
-
-
-
Mahen dan Nayla sudah berada dalam mobil yang dikemudikan Gala, sedang melaju menuju ke rumah Mahen.
Mahen melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya, baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Beberapa jam lagi sudah memasuki jam makan siang. Dia duduk berdampingan dengan istrinya di kursi penumpang.
"Kita pulang kemana?" tanya Nayla yang sedari tadi menatap ke luar jendela. Dia merasa itu bukan jalan ke arah rumah Ayahnya. Ketika Gala membelokkan mobil yang dikendarainya berbelok menuju ke mansion utama.
"Pulang ke rumah kita, Sayang," Mahen menjawab pertanyaan Nayla.
"Kenapa nggak ke rumah Ibu? Aku bisa istirahat di sana dulu untuk beberapa hari," beo Nayla.
Belum selesai Mahen berbicara dengan Nayla, terdengar suara deringan telepon dari dalam saku celananya.
Mahen tidak langsung menjawab panggilan di benda pipihnya, melainkan dia meminta izin pada perempuan yang duduk di sebelahnya. "Sayang, aku jawab dulu telepon, ya?" cicit Mahen meminta persetujuan dari istri kecilnya.
Nayla hanya mengangguk pelan ke arah Mahen. Lalu, membuang pandangannya ke luar jendela. Dia tidak ingin mendengarkan pembicaraan antara suaminya dengan si penelpon.
Setelah mendapatkan persetujuan dari istri kecilnya, Mahen segera memindahkan ponsel canggihnya ke daun telinganya.
"Iya, ada apa?" tanya Mahen pada si penelpon.
"...."
"Untuk apa lagi ada mediasi? Aku dengan Giska sudah sepakat untuk menyudahi pernikahan itu. Dan aku juga sudah menalaknya," tolak Mahen tentang mediasi dengan Giska. Percuma saja, Mahen sudah tidak menginginkan pernikahan itu dipertahankan lagi.
Tidak sampai lima menit Mahen berbicara dengan seseorang di sebrang sana, dia sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Sedangkan Nayla yang sedari tadi memandang ke jalanan, karena dia tak ingin mencuri dengar pembicaraan suaminya, terkejut dengan tangan kokoh suaminya yang sudah berada di pinggangnya.
__ADS_1
"Lagi ngelamun siapa? Sampai tak sadar kalau sudah di rumah," suara Mahen terdengar jelas di rungu Nayla.
"Eh, nggak. Siapa juga yang melamun," kelit Nayla.
"Ohh, nggak ngelamun," Mahen tertawa geli melihat tingkah lucu istri kecilnya. "Yuk, kita turun."
Nayla yang malu kepergok suaminya sedang melamun, memilih untuk diam dan mengerucutkan bibirnya.
-
-
Sedari tadi tidur Nayla tak bisa nyenyak. Dia buat miring ke kanan tak enak, ke kiri juga begitu. Ia kesal sendiri melihat Mahen yang sudah terlelap di alam mimpinya. Padahal tanpa sepengetahuan istri kecilnya itu, Mahen berusaha menahan segala rasa yang berkecamuk di dalam dirinya. Sudah beberapa hari ini dia menahan has_rat pada istri kecilnya itu.
Semakin hari, senyum di bibir Nayla itu menghipnotis dirinya. Seolah ada daya magis yang membuat Mahen tak ingin jauh dari istri kecilnya itu.
Entah kenapa malam ini Nayla begitu merindukan Mahen, merindukan semua yang ada pada diri suaminya. Entah bawaan bayi nya atau ada rasa yang ditahannya ingin meledak saat ini.
Nayla memeluk Mahen dari belakang yang tidur membelakangi nya. Nayla sengaja menempelkan benda kenyalnya di punggung suaminya, hampir lima menit Nayla di posisi itu. Tangan kanannya mengelus-elus dada bidang Mahen.
Sementara di sisi lain, ada seseorang yang menahan has_ratnya dengan sekuat tenaga. "Sabar.. Sabar dulu John. Dedek bayi belum kuat untuk ditengok, pesan Bu Dokter begitu!" gumam Mahen pada si John yang sudah ingin keluar dari persembunyiannya.
Istri kecil Mahen berusaha menggoda ketebalan imannya. Setipis tisu yang sekali pakai.
Mahen tersenyum tipis, dia tak pernah menyangka. Jika istri kecilnya itu, saat ini sedang menginginkan dirinya. Tapi Mahen tidak ingin membahayakan si calon buah hatinya dengan egonya.
Tapi Nayla merasa kesal diabaikan suaminya. Ia perlahan-lahan turun dari ranjang agar tidak membangunkan suaminya.
Nayla membuka bajunya karena merasa kegerahan malam ini. Penyejuk di dalam kamarnya pun masih belum bisa menghilangkan rasa gerahnya. Baru saja Nayla akan mengayunkan langkahnya, tiba-tiba Mahen mengganti posisi tidurnya.
Mahen memicingkan matanya, kaget. Dia sampai kesulitan menelan salivanya sendiri. Benar-benar tak terduga.
Jhon yang sedari tadi mereog ingin keluar pun langsung tunduk dan manut dengan perintah sang Tuan. Tapi sekarang ini, yang dilihat nya akan membangun kan Jhon kembali.
Oh God! Kenapa istri kecil Mahen bagaikan candu! Bagaikan menemukan air di tengah-tengah tanah yang tandus!
💖💖💖💖
__ADS_1