
Selamat membaca..
🍒
🍒
"Aaaaah.. Lepaskan! Hentikan, aku mohon lepaskan! Aku bukan putrimu!"
Perempuan itu terus saja bergerak-gerak dalam tidurnya. Sesekali kakinya menendang dan keningnya berkerut. Butiran air bening yang dingin memenuhi wajah dan tubuhnya.
"Lepaskan! Aku nggak mau ikut kamu!"
"Arrgghh!"
Bugh..
"Aduh.." pekik Mahen yang terjatuh dari ranjang king size karena tendangan kuat dari seseorang yang terlelap di sampingnya.
Nayla terjangkit kaget. Reflex terbangun dari tidurnya. Masih linglung dengan keadaannya, sekarang.
Deru napasnya yang tersengal sengal dengan keringat dingin menetes.
"Hiks.. Hiks.."
Nayla bersandar di kepala ranjang dengan memeluk lututnya. Mimpi itu datang kembali. Mimpi yang mengganggu tidurnya, hingga tak bisa nyenyak di setiap malamnya.
Takut?
"Aaaarh.. Hiks... Kenapa dia muncul lagi? Aku benci dia! Aku bukan putrinya!" pekik Nayla berkali-kali membenturkan kepala bagian belakang pada kepala ranjang dengan terus terisak.
Mimpi buruk itu datang kembali, membuat ketakutannya berkali lipat.
"Sayang," sebuah tangan kokoh menyentuh pipinya lembut, lalu memeluk tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.
"Mimpi buruk lagi?" tanya Mahen mengusap lembut surai Nayla yang tergerai.
__ADS_1
Bukan jawaban yang didapat Mahen, melainkan isakan yang semakin menyesakkan dada.
Mahen membiarkan istri tercintanya itu menangis hingga merasa lega dan berangsur surut cairan bening yang menetes di pipinya.
"Aku Putri Ayah dan Ibu Hadi Suherman, bukan orang itu! Aku Nayla Suherman!" serunya.
Mahen mengiyakan kata-kata yang terlontar dari bibir pink milik istrinya. "Iya, kamu tetap Nayla Suherman, istri sah dari Mahendra Wijaya. Tidak ada yang dapat merubah fakta itu, Sayang," suara Mahen lembut.
Nayla semakin mengeratkan pelukannya. Pundak kokoh Mahen basah terkena tetesan air mata Nayla yang mengalir kembali. "Apa kau akan meninggalkan aku, jika mengetahui asal usul ku?" suara Nayla melemah.
Perlahan Mahen memundurkan tubuhnya, mengangkat wajah istrinya. Pandangannya bersitatap dengan netra seseorang yang amat sangat dicintainya.
"Aku bukan seorang pengecut juga pecundang. Dengan gampangnya pergi begitu saja dari kehidupan seseorang yang telah hadir menemaniku, bahkan telah membuatku jatuh cinta. Aku memilihmu untuk menjadi istriku, Ibu dari anak-anakku bukan hanya melihat dari siapa kau dilahirkan. Tapi aku memilihmu untuk kujadikan ratu dalam istanaku karena aku melihat dari siapa yang membesarkanmu, menjagamu, mendidikmu dengan sentuhan tangan yang lembut juga kasih sayang yang tulus untuk menjadikan sosok wanita yang memiliki kepribadian tangguh mandiri sholehah,"
Mahen menyeka bulir bening di pipi Nayla. "Jangan pernah mengatakan itu lagi di hadapanku. Dan jangan menangis lagi, karena aku kan selalu ada di sisimu, istri kecilku pemilik jiwa dan raga seorang Mahendra Wijaya," Mahen menghela napas.
"Lahirkan untukku keturunan yang sholeh dan sholehan. Penyejuk hati dan pelipur lara dalam istana surgaku."
Nayla meniti wajah yang tersaji manis di hadapannya. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia sekaligus kegetiran. Pria tampan yang dulu pernah bersitegang di jalanan. Bahkan kutukan bucin yang bergema, kala itu. Kini menjadi nyata, kata-kata yang seolah hanya sebagai pemuas kata bagi orang yang menyebalkan, kini justru dialah yang menyejukkan hatinya. Dari sebutan Om Galak berganti menjadi suami tampanku.
Sementara Mahen hanya memilih diam, dia membiarkan jemari lentik istri kecilnya itu menyusuri wajah tampannya. Gadis yang dulu berseragam abu-abu yang hampir tertabrak mobil yang dikemudikan sopir pribadinya itu, kini telah berubah menjadi wanita dewasa seutuhnya.
Hingga jemari lentik itu berhenti di dada bidangnya. Tetap dengan kebisuan dan keheningan, jemari Nayla yang terus menggambar abstrak di dada suaminya yang tanpa sehelai benang menutupi nya.
Tiba-tiba jantung Nayla dikagetkan dengan benda kenyal yang hinggap di keningnya. Cukup lama dan dalam, membuat jantungnya berdisko setiap suami tampannya itu menyuguhkan keromantisan. Deru napas hangat menerpa indera penciumannya. Perlahan turun mendarat di bibirnya. Nayla menelan salivanya.
"Aku mencintaimu Nayla Suherman dengan seluruh kekuranganmu."
Sentuhan lembut Mahen yang selalu membuat jantungnya seperti marching band PAUD. Terasa halus telapak tangannya, yang menandakan Mahen adalah bukan seorang buruh kasar pengangkat beras.
Mata Nayla berkaca-kaca kembali. "Kelebihannya tak diterima?" pertanyaan Nayla yang mengundang tawa Mahen.
"Emang lagi jualan, neng?" tanya balik Mahen menahan tawanya.
"Siapa yang jualan?" Nayla melongo bingung.
__ADS_1
"Kenapa harus nerima kelebihan, jika sebuah kekurangan yang kamu miliki sudah menjadi penyempurna kekuranganku juga."
"Aahh, tau ah. Terserah ayang! Suka-suka ayang!" panggilan yang menentramkan hati Mahen.
"Ohh, bahagianya. Pagiku ini cerah sekali. Istri cantikku, bidadariku--"
"LEBAY!" Nayla meloloskan diri dari dekapan suaminya.
****
Setelah melalui berbagai drama yang dibuat Mahen untuk memberikan ijin pada Nayla pergi sendirian ke rumah Ibunya tanpa pengawalannya. Nayla hanya diantarkan sopir kepercayaan Mahen.
Sebelum mendapatkan ijin dari Mahen yang bucin kebanyakan micin, menjadikan wafer berlapis-lapis. Akhirnya Nayla harus memenuhi segala permintaan Mahen terlebih dahulu. Mulai dari mengurusnya mandi, menyiapkan pakaiannya hingga sarapan pun minta disuapin. Sudah persis mengurusi bayi besar yang merengek agar tidak ditinggal pergi.
Dan kini, tepat di depan sang assisten pribadinya. Mahen pun tetap bergelayut manja memeluk erat tubuh ramping Nayla.
Nayla menghela napas kasar. Ingin mengetok kepala sang suami tapi itu semua tidak mungkin dilakukannya. Tapi kalau melihat kelakuan Mahen seperti itu membuat Nayla malu di depan Gala Hilton.
'Bos.. Bos.. Kalau lagi jatuh cinta semuanya dianggap patung! Ini aku masih bernyawa loh!' protes Gala Hilton dalam batin.
Ingat! Hanya dalam batin Gala Hilton sang assisten pribadi seorang Mahendra Wijaya berani memprotes Bos nya yang lagi mesra-mesraan di depan matanya.
'Buat orang jomblo semakin ngenes saja, bosku yang satu ini!' Gala menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Tutup mata bang Gala! Awas terkontaminasi kebucinan yang hakiki dari Bos somplak yang menjelma menjadi anak PAUD," Nayla tersenyum kecil saat bertatapan dengan Gala.
Malu sebenarnya yang dirasakan Nayla, saat ini. Tapi bagaimana lagi, tugas istri adalah menuruti permintaan suami. "Badan saja yang gede. Hatinya lembut selembut kapas di minimarket," canda Nayla sambil memaksa suaminya masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Gala Hilton yang menanti.
"Sayang.." panggil Mahen yang belum puas bermanja pada istrinya.
Bukannya Nayla tidak peka dengan keinginan suaminya, tapi dia berusaha mengambil jalan tengah agar bisa menyudahi kemanjaan suaminya di depan umum.
"Bye.. Bye.. Ayang, hati-hati di jalan. Tetap semangat mencari cuan buat istrinya ini," kekeh Nayla mengecup bibir suaminya sekilas.
Binar wajah Mahen langsung terbit laksana sinar matahari pagi. Bahagia yang dirasakan Mahen mendapatkan suntikan boom booster dari orang tercinta.
__ADS_1
💖💖💖💖