
Selamat membaca...
🍒
🍒
🍒
Sebelum istrinya berhasil kabur, Mahen sudah dulu menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. "Mau ke mana?"
"Ke kamar mandi!" tunjuk Nayla. Masih berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
Mahen yang sudah kecanduan dengan kolam lele Nayla. Ingin mengulang kembali bercinta dengan istri kecilnya itu. Namun, saat ini Nayla terlihat sangat lelah.
Mahen membelai sisi wajah cantik milik istri kecilnya, dengan jari-jari hingga berpetualang kembali di punggung Nayla yang tak menempel sehelai benang pun.
"Emm.. Tangannya jangan nakal," protes Nayla, mencoba menggulingkan tubuhnya. Tapi tertahan lagi oleh tangan pria yang tersenyum menyeringai ke arah Nayla.
Saat ini, tubuh keduanya memang masih saling menempel dan berbaring di ranjang king size dalam kamar yang kedap suara dengan pakaian yang bercecer di lantai kamar.
Hasrat di pagi hari yang menghampiri kembali, membuat Mahen tak bisa menolak untuk tidak merasakan lagi sweet candy milik Nayla. Sedangkan Nayla tidak sengaja akan keisengannya melukis abstrak di atas dada bidang suaminya dengan jari-jari lentiknya.
Sentuhan lembut itu, seolah memberikan umpan bagi singa jantan yang ingin segera menerkam buruannya.
"Sayang.. Mau lagi," suara serak Mahen terdengar jelas di telinga Nayla.
Bagaikan anak kecil yang menemukan mainan baru dan tak ingin melepaskan. Mahen langsung menyerang benda kenyal milik Nayla yang terasa manis di indera perasanya. Istri kecilnya itu dapat merasakan degupan jantung Mahen yang begitu cepat dan tak beraturan. Desiran aneh itu datang kembali menyeruak di tubuh Nayla. Hingga Nayla bergidik ngeri, saat Mahen menciumi leher dan telinganya. Membuat Nayla merasa panas dingin.
Namun, tiba-tiba keintiman mereka dibuyarkan oleh suara dering dari ponsel berwarna biru metalik yang tergelak di atas nakas.
Mahen mendengus kesal. "Huuh siapa juga yang berani menganggu pagi ku bersama istri kecilku?"
Netra Mahen menyipit melihat nama Gala Hilton yang berani menghubungi nya.
"Halo, ada berita penting apa?! Jika tidak penting, aku stop aliran angka-angka di rekening kamu!" ucap Mahen dengan ponsel menempel di telinga kanannya.
"Bos, gaswat ini..," Gala mengabarkan hot news, pagi itu.
__ADS_1
"Hot news? Apa maksudnya?" pekik Mahen.
"Maaf, Bos. Ada yang berniat menjatuhkan Bos Mahen dengan menyebarkan foto-foto pernikahan Bos Mahen dengan Nona Nayla, tempo hari."
Mahen bersandar pada kepala ranjang dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. "Siapa yang berani bermain api? Padahal acara itu benar-benar tertutup! Cari tahu siapa dalangnya!" titah Mahen.
"Baik, Bos. Tapi untuk sementara waktu, Nona Nayla jangan keluar rumah lebih dulu. Karena yang pasti, banyak wartawan yang meliput berita ini. Nona Nayla juga sebagai incaran utama para pencari berita.
"Iya, aku sudah mengantisipasi nya. Wartawan sudah pintar mengiring opini, dengan menggosoknya agar semakin panas. Dan yang menjadi korban sekaligus tersangka utama adalah Nayla, istri kecilku! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Nayla! Faham!" suara Mahen terdengar penuh penekanan.
"Faham, Bos." belum selesai Gala berbicara, namun sambungan telepon itu sudah dimatikan lebih dulu oleh Mahen. Kelakuan sang Bos, yang sudah dihafal oleh assisten pribadinya.
Benda pipih sudah diletakkan kembali di atas nakas. Baru saja Mahen menempelkan kepalanya di ceruk leher jenjang istri kecilnya. Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar kamarnya.
Brokk.. Brokk..
"Mahen..!!" suara wanita paruh baya memanggil nama seseorang yang berada dalam kamar yang tertutup rapat.
Dengan terus menggedor pintu dan berteriak kencang, Mama Siska tidak mau menyerah untuk membuat keluar penghuni kamar itu.
"Mentang-mentang punya kolam baru, kamu berenang setiap hari!" umpat Mama Siska. "Mau jadi anak durhakim kamu, ya, Mahen!" lagi-lagi Mama Siska mengumpat putra semata wayangnya yang lagi berendam di kolam lele menantu barunya.
Samar-samar pasangan pengantin baru itu, mendengar suara keributan di luar kamarnya.
"Mas, siapa di luar?" tanya Nayla yang membelalakkan matanya.
"Mengganggu saja," gerutu Mahen, yang beranjak dari ranjang empuknya.
Ceklek..
Mahen yang hanya berbalut selimut di tubuhnya, membuka pintu kamar huniannya. Dengan membuka sedikit daun pintunya, dan melongokkan kepalanya saja untuk melihat siapa orang yang telah berani menggedor pintu kamarnya dengan kencang. "Mama? Ngapain pagi-pagi sudah nyamperin ke sini?" pekik Mahen dengan mata melebar.
Melihat pintu kamar yang terbuka, Mama Siska tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menerobos masuk kedalam kamar Mahen.
"Buka pintu saja, lelet!" onel Mama Siska, sambil ngeloyor masuk.
"Iih.. Mama tidak sopan. Main nyelonong boy aja!" nada suara Mahen yang tidak sengaja meninggi akibat dorongan yang dilakukan Mama Siska, hingga tubuhnya terbentur tembok kamar.
__ADS_1
"Apa? Apa? Berani kamu sama Mama? Mau dikutuk jadi bayi lagi?!" hardik Mama Siska berkacak pinggang.
"Ini kan rana privasi Mahen, Nyonya Siska!" Mama Siska sudah faham, jika putra kesayangannya itu menyebutkan Nyonya untuk memanggil dirinya. Itu pertanda putranya sedang memprotes akan tindakan yang dilakukan nya.
"Mama hanya ingin bicara penting dengan kalian," ucap Mama Siska dengan tatapan mengintimidasi.
"Tapi Mama kan bisa tunggu di luar," sewot Mahen, dengan pikiran yang melayang karena kegagalan si Jalu yang ingin berendam kembali.
"Ohh, sudah berani main larang larangan masuk kamar, sekarang?" Mama Siska memicingkan matanya tajam.
"Hilih, Mama! Mana ada seperti itu, tapi sekarang kan Mahen lagi berdua sama Nayla. Ganggu, tahu!"
"Ganggu palamu peyang!" Mama Siska mengetok kepalanya Mahen dengan tangannya.
Mahen mengacak rambutnya kasar. Lalu, menutup kembali pintu kamarnya. Di saat dia membalikkan badannya, dia baru sadar jika istrinya masih telanjang di atas ranjang besar, berbalut selimut.
Nayla yang terbengong melihat perdebatan Mama vs putranya itu, segera menutupi tubuhnya hingga hanya terlihat kepalanya saja dengan keadaan rambut yang acak-acakan.
Dengan menahan senyum Mama Siska menggoda putra dan menantunya yang saling berpandangan dan berbicara lewat tatapan mata. "Mama, mengganggu ya?" netra nya melihat pakaian dalam mereka yang masih tercecer di lantai dekat ranjang.
"Enggak!" sahut Mahen bergerak cepat ke arah istri kecilnya. "Gini amat, ya. Punya Mama yang sangat perhatian sama anaknya," sindir Mahen.
Nayla hanya bisa menundukkan kepalanya dalam, wajahnya yang bak kepiting rebus itu bingung mau disembunyikan di mana.
Mama Siska yang terus menahan senyum gelinya, melihat sang menantu dengan jejak cinta yang dilukis oleh putranya, menghiasi leher jenjangnya yang memiliki kulit putih bersih hingga terlihat jelas warna merah stempel kepemilikan Mahen.
"Apa yang mau dibicarakan Mamanya?" Mahen mendesak Mama nya untuk segera mengutarakan niat kedatangan nya.
"Apa kita perlu mengadakan jumpa pers?" tanya Mama Siska mengawali topik pembicaraan nya pagi itu.
Mahen yang sudah bisa langsung menangkap usulan Mama Siska, langsung memotongnya. "Kalau masalah itu, sudah dihandle oleh Gala. Mama tak perlu khawatir kan itu semua," ucap Mahen sembari mengandeng tangan Mamanya berjalan menuju pintu keluar kamar huniannya.
"Mahen.. Mama belum selesai bicara!" teriak Mama Siska dari luar kamar Mahen dan terus menggedor pintu bercat coklat tua itu.
"Mama...!!" teriak Mahen seraya menelungkup kan tubuh atletisnya di atas tubuh istri kecilnya.
💖💖💖💖💖
__ADS_1