Pendekar Delapan Mata Arah Angin

Pendekar Delapan Mata Arah Angin
Part 22. PERSEMBAHAN DEWA


__ADS_3

Shen Zhou yang sudah merubah wujudnya menjadi Yu Shuan menendang pintu kamar Raja Yuan Guan.


...BANG!...


Pintu jebol dan berserakan, “Halo yang mulia Raja. Maaf mengganggu waktumu!” teriak Shen Zhou dengan suara menyerupai Yu Shuan yang berat-berat serak.


Permaisuri Yin Ling sedang berada di atas tubuh Raja Yuan Guan. Benda pusaka milik Yin Ling sedang asyik-asyiknya menjepit benda pusaka Yuan Guan. Begitu Shen Zhou masuk, dia langsung memeluk tubuh Yuan Guan dan meringkuk ketakutan.


“Dadar tikus tanah! Kenapa kau mengganggu waktu enak-enak kita berdua? Tidak bisakah besok pagi? Pengawal tangkap Yu Shuan!” titah Raja Yuan Guan dengan raut muka merah padam.


Shen Zhou tersenyum simpul dan mencibir, “Percuma saja! Semua pengawalmu sudah pergi ke alam baka. Kalau kau mau aku bisa membawamu kesana, hahaha ….”


“Bedebah!” Yuan Guan bangkit berdiri dengan cepat dan tidak memperdulikan tubuh Yin Ling yang meringkuk di atas tubuhnya hingga membuat wanita cantik itu terguling keluar dari tempat tidur. “Kau cari ma —”


Shen Zhou secepat kilat sudah berpindah tempat dan menghunuskan pedang ke leher Yuan Guan yang tidak memakai sehelai benang dengan benda pusaka yang sedang sedang mencuat ke atas.


“Cari mati?” Shen Zhou memicingkan mata. Kemudian melanjutkan, ”Apa aku tidak salah dengar? Semua prajurit saja mati ditanganku? Kau bilang cari mati? Bodoh!”


Anak buah Shen Zhou masuk dengan tatapan hampa dan menyeret tubuh para selir Raja Yuan Guan dengan menarik kepalanya yang hampir saja putus. Lalu melemparnya ke depan Raja Yuan Guan.


“Yue Lin! Han Nue! Xiao Ying! Lan Ning!” Raja Yuan Guan memanggil keempat selir kesayangannya dengan bulir-bulir cairan menetes deras melewati kedua pipinya. Lalu dia akan memeluknya tapi Pedang Shen Zhou masih terhunus ke lehernya, “Kau kejam Yu Shuan!”


“Kejam?! Bukankah kau juga ikut andil dalam rencana pembunuhan Pangeran Lu Bu?” kata Shen Zhou langsung ke intinya. “Aku bukan Yu Shuan tapi Naga Putih, saudara Pangeran Lu Bu. Anda sudah paham?”


Shen Zhou merubah dirinya lagi ke tubuh aslinya. Raja Yuan Guan hanya manggut-manggut saja dibuatnya dengan raut wajah ketakutan dan sedih disaat bersamaan.


Sedih karena kehilangan keempat selir dan semua orang yang berada di dalam Istana Api Selatan. Takut, karena bisa saja Shen Zhou membunuh Yin Ling atau dirinya juga.


“Ikuti semua perintahku! Aku pastikan kalian selamat dan bisa bangkit dari keterpurukan,” ancam Shen Zhou dengan menyeringai jahat dan melanjutkan, “Impaskan apa yang sudah kami perbuat pada Kerajaan Angin Utara!”

__ADS_1


“Ba-baik,” balas Yuan Guan dengan mengangguk cepat dan raut wajah seputih kertas.


“Jika kau tidak menuruti apa yang ku katakan. Bukan hanya kau yang mati. Akan tetapi semua rakyat Kerajaan Api Selatan akan hilang dari daratan alam bawah Xia,” ancam Shen Zhou dengan aura membunuh yang sangat kuat.


Setelah melakukan hal itu, Shen Zhou beserta pasukan Organisasi Sisik Naga hilang dari pandangan Yuan Guan dan Yin Ling.


......................


Satu minggu kemudian, malam hari Desa Api Jindan.


Shen Zhou sudah kembali ke Desa Api Jindan dan bersiap menuju pusat kota Kekaisaran Wei untuk menerima gelar bangsawan sekaligus menerima dekrit Kekaisaran mengenai wilayah Desa Api Jindan yang dinaungi langsung oleh pusat Kekaisaran Wei.


Berita mengenai pembantaian diam-diam oleh Kerajaan Angin Utara dengan cepat merebak ke seluruh Kekaisaran Daratan Alam Bawah Xia.


Kekaisaran Wei sedang menyiapkan pasukan untuk menggempur Kerajaan Angin Utara secara diam-diam. Kaisar Cao Cao tahu jika melawan Kekaisaran Wu secara langsung tidak akan menang karena mereka telah banyak kehilangan sumber daya pada perang sebelumnya melawan Kekaisaran Han.


Ditambah lagi keempat Kerajaan di Kekaisaran Wei sedang mengalami konflik satu sama lain.


Apalagi Shen Zhou memerintahkan Organisasi Sisik Naga untuk menyebarkan berita hoax tersebut ke seluruh kekaisaran. Tujuannya satu, agar Kekaisaran Wei dan Kekaisaran Wu berperang satu sama lain.


Shen Zhou lagi-lagi pergi seorang diri menuju pusat Kekaisaran Wei. Dia sudah memikirkan banyak rencana, agar Kaisar Wei mau memberikannya pasukan utama Kekaisaran Wei sebagai ajang balas dendamnya pada Yun Zishan, keluarga Shen dan juga Shen Xin.


Shen Zhou duduk bersila di atas ke-empat pedangnya yang berjejer rapi membentuk papan terbang untuk menyerap batu roh sambil terbang menuju pusat Kekaisaran Wei.


Dia harus terus bertambah kuat dan seimbang melawan ke-empat kaisar yang sekarang sudah mencapai tingkat Kaisar Perang Bintang Satu.


Sedang asyik-asyiknya terbang dan menyerap energi chi dari batu roh. Shen Zhou yang terlalu fokus menyerap hingga tidak memperluas kesadaran ilahinya terkena bola energi dan terpental lalu jatuh ke sebuah hutan.


...BUG!...

__ADS_1


“Aw! Sial!” pekik Shen Zhou meringis kesakitan. untung saja tulangnya sudah mencapai tingkat langit. Kalau tidak, tubuhnya sudah remuk berkeping-keping terjatuh dari ketinggian 200 meter di atas permukaan tanah.


Terdengar suara dentingan senjata dan langkah kaki yang sangat cepat ke arahnya. Dua dara wanita yang saling mengejek terdengar semakin lama semakin jelas.


Keduanya sambil beradu pedang saling melontarkan cacian dan hinaan dengan bersungut-sungut. Fluktuasi udara disertai deru angin kencang pun terjadi di sekitar Shen Zhou dengan menggugurkan dedaunan dari ranting-ranting pohon.


Shen Zhou yang kesal walaupun sudah naik tingkat ke tingkat master perang bintang satu. Langsung melesat ke arah kedua wanita tersebut dan menangkap kedua bilah pedangnya dengan tangan kosong.


“Berisik!” Shen Zhou lalu meremas kedua pedang tersebut hingga hancur berkeping-keping dan memukul dada mereka dengan kedua telapaknya secara bersamaan hingga membuat mereka terpundur dan menabrak pohon di belakang mereka.


...BRAK! BRAK! ...


"Kau!" Kedua wanita itu serentak memicingkan mata dan bersiap melesat ke arah Shen Zhou untuk menyerangnya.


Namun, sebelum itu terjadi Shen Zhou melesatkan kedua pedangnya dan melayang dengan terhunus ke arah leher kedua wanita tersebut.


“Silakan saja kalian menyerangku. Akan tetapi sebelum itu terjadi leher kalian sudah putus dan kepala kalian sudah lepas,” ancam Shen Zhou dengan menyeringai tajam.


Disaat genting seperti ini, nafsu Kai Yue muncul karena memang sudah waktunya meminta persembahan.


Dia kembali melihat Shen Zhou dari robekan celah dimensi, “Wahai pemuja setiaku! Waktunya persembahan!” teriaknya dengan suara menggelegar dan melanjutkan, “Selama satu minggu ini kau tidak memberiku persembahan. Aku ingin kau menari dalam keadaan tanpa sehelai benang sekarang!”


Raut muka Shen Zhou langsung seputih kertas, dia ingat selama tujuh hari kemarin tidak memberikan Kai Yue persembahan. Dengan raut muka pasrah, Shen zhou menanggalkan pusaka Naga Putih dan kedua wanita tersebut menganggap, kalau Shen Zhou akan memperkosanya.


“Dasar cabul! Aku akan membuat dirimu menjadi kasim!” teriak Hongdou membuang muka dengan kedua pipi merona.


“Bedebah! Kau hanya mengancam kami untuk melakukan ini pada kami. Aku … aku ….” Yuen Yin pun tidak tahan melihat benda pusak Shen Zhou yang sudah mencuat lalu memalingkan wajahnya dengan kedua pipi merona.


Shen Zhou tidak memperdulikan mereka berdua dan mulai menari dengan sangat malu, semalu-malunya.

__ADS_1


“Oh, tidak. Dewa kenapa aku harus memberikan persembahan di saat seperti ini? Haaa …,” batin Shen Zhou dengan merengek-rengek.


Tubuhnya yang kekar, dipenuhi otot-otot yang menonjol sempurna dan perutnya yang seperti roti sobek, membuat Hongdou dan Yuen Yin harus sering meneguk salivanya dalam-dalam dibawah ancaman hunusan kedua pedang milik Shen Zhou yang melayang di lehernya.


__ADS_2