
Jendral Zhao Yun pun pergi setelah menerima titah dari Shen Zhou. Pria bermanik mata biru yang ditemani Genjo Ho tersebut, segera melesat ke arah Istana Api Utara untuk merebut kursi Raja dari tangan Raja Jiang Wei.
Sesampainya di depan pintu gerbang Istana Api Utara yang dijaga ketat banyak prajurit Kerajaan, Shen Zhou berteriak, “Serahkan tahta Raja padaku! Jika tidak, maka aku takkan segan lagi!”
Pasukan yang membawa perisai dan pedang, serta tombak berbaris rapi membentuk blokade untuk menghalau Shen Zhou.
Di belakang pria bermanik mata biru tersebut, sudah ada pasukan yang terdiri dari para kultivator dari kesembilan keluarga yang memutuskan untuk memberontak Raja Jiang Wei.
Mereka semua tidak mau mati berkalang tanah oleh pasukan Kekaisaran Han dan pasukan Kerajaan Naga Putih yang sudah bersiap menyerang Kekaisaran Wei dan seluruh Kerajaan di Kekaisaran Wei.
Kerajaan Api Selatan sudah tunduk dibawah kekuasaan Shen Zhou yang mengutus Kun Lun yang memimpin Paviliun Sisik Naga.
Jadi Hanya tersisa Kerajaan Api Barat dan pusat kota Kekaisaran wei yang belum di invasi oleh Shen Zhou.
“Pukulan gelombang —-”
“Ssst!” potong Shen zhou menghentikan Genjo Ho yang mau melepaskan pukulan gelomag Naga Hitam pada pintu gerbang Istana Api Utara yang tertutup rapat. “Aku ingin bermain dengan mereka.”
Semua sisi Istana Api Utara sudah dikepung. Tidak ada jalan keluar bagi para keluarga Kerajaan, termasuk semua prajurit Kerajaan Api Utara yang masih setia pada Raja Jiang Wei.
“Yuo Nian!” panggil Shen Zhou dengan suara menggema ke seluruh sudut wilayah pusat kota Api Utara.
Suara langkah derap kaki terdengar bergemuruh. Dari arah barat pintu gerbang Istana Api Utara terlihat kepulan asap yang diakibatkan langkah kaki yang sangat banyak.
Kepulan debu tebal itu berasal dari para wanita dari berbagai zaman. Pikiran mereka sudah dikendalikan oleh Shen Zhou termasuk Yuo Nian.
Dengan tatapan cabu, para wanita yang hanya tertutupi bagian vital mereka tersebut mencoba menerobos masuk pintu gerbang Istana Api Timur.
__ADS_1
Akan tetapi, target mereka berubah setelah melihat prajurit laki-laki bertubuh kekar Istana Api Utara yang membentuk blokade. Mereka dengan hasrat yang menggebu-gebu menerkam setiap prajurit Istana Api Utara dan melucuti pakaiannya.
Para prajurit itu kebingungan, apa harus melawan atau pasrah dengan semua wanita cantik berbagai zaman yang telah melucuti pakaiannya dan mengungkung tangan mereka.
“Hahaha … hahaha ….” Shen Zhou tertawa terpingkal-pingkal melihat prajurit Api Utara tak berdaya melawan para wanita yang berpakain seksi dan merak pasrah diperkosa oleh mereka. “Siapa suruh kalian tetap menolak untuk menyerah. Rasakan kalian kan terus bermain sampai lemas, hahaha ….”
Terjadilah perhelatan akbar massal antara pasukan wanita berbagai zaman milik Shen Zhou dan pasukan Istana Api Utara.
Bersamaan itu pula, Shen Zhou menyuntikkan pada tubuh setiap prajurit Api Utara energi chi jurus kebahagiaan iblis dan membuat mereka semua patuh pada Shen Zhou.
Semua orang matanya melebar dengan meneguk salivanya dalam-dalam, melihat panorama indah surgawi di depan matanya.
Shen Zhou masuk dengan menendang pintu gerbang dan hanya terdorong 3 meter ke dalam. Dia tak ingin merusak semua properti yang berada di wilayah Istana Api Utara.
Sedari awal, Shen Zhou memang ingin menundukan Kerajaan Api Utara dengan jalur diplomasi. Tapi sayang cara itu tidak berhasil, karena Raja Jiang wei diprovokasi oleh Pangeran Liu Chan untuk memburu dan membunuh Shen Zhou beserta pengikutnya.
Tenaga mereka sangat luar biasa, bahkan prajurit laki-laki tersebut dibuat semaput oleh kungkungan tangan setiap wanita berbagai zaman yang mencengkram kedua tangannya.
Shen Zhou melayang setinggi 1 meter dan bergerak pelan dengan kedua tangan melipat di tengah dada. Senyum bibirnya yang merah muda sangat merekah, menunjukan penguasaan Istana Api Utara sudah 99% berhasil. Penghalangnya satu, tinggal keluarga inti Raja Jiang Wei.
“Hormat pada Raja Jiang Wei, Naga Putih datang!” teriak Shen Zhou dengan suara menggema ke seluruh sudut ruangan Istana Api Utara.
Raja Jiang Wei duduk di singgasana ditemani Pangeran pertama Jiang Hui, Pangeran Kedua Jiang Kun dan pangeran ketiga Jiang Nan.
Mereka berempat menatap tajam Shen Zhou yang diikuti oleh Genjo Ho di belakangnya.
“Berani kau datang ke Istana ini! Pengawal, tangkap dia!” titah Raja Jiang Wei dengan berteriak keras dan mengeraskan rahang.
__ADS_1
“Taraa …! Hahaha …,” ejek Shen Zhou sambil tertawa jahat, karena tidak ada satupun prajurit yang datang. “Mereka tidak ada yang datang, karena sedang malam pertama di halaman dan di depan gerbang Istana. Jika tak percaya, lihatlah!”
Genjo Ho sudah tak bisa lagi menahan amarah dendamnya langsung melesat ke arah pangeran Jiang Nan untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya yang dibunuh secara keji oleh Pangeran pedofil itu.
Namun ditahan oleh Shen Zhou, dan berkata, “Woey-woey … sabar donk. Buru-buru amat kaya pengantin mau malam pertama. Jika ingin bertarung jangan disini. nanti merusak semua propertiku.”
Genjo Ho langsung ketakutan dengan tatapan tajam mata Shen Zhou yang melirik ke arahnya, “Ampun guru. Maafkan aku. Dada ini sudah panas melihat pangeran penyuka bocah kecil itu! Aku ingin segera mencincang benda pusakanya itu dan aku berikan pada A*****.”
Dihina seperti itu, Pangeran Jiang Nan tidak terima dan melesat ke arah Genjo Ho yang berada di samping kiri Shen Zhou.
Merasa provokasinya berhasil, Genjo Ho melesat keluar istana dan terbang tinggi untuk memancing Pangeran Jiang Nan agar menjauh dari wilayah Istana Api Utara.
Pangeran Jiang Kun dan Pangeran Jiang Hui yang khawatir akan adiknya juga mengejar Genjo Ho.
Di dalam aula Istana Api Utara hanya ada Raja Jiang Wei dan Shen Zhou yang saling bertatapan tajam.
“Aku sudah katakan, menyerahlah! Aku tidak akan membunuhmu,” tawar Shen Zhou dengan tersenyum tipis. “Kau hanya seorang diri. Mana mampu melawan dua Kekaisaran sekaligus.”
“Omong kosong. Pasukan Kekaisaran Shu dan Pasukan Kekaisaran Wei akan membantu —-”
“Semuanya telah aku bunuh, termasuk pasukan yang dipimpin oleh Jendral Dian Wei dari Kekaisaran Wei. Kaisar Cao Cao hanya menunggu waktu untuk dipenggal kepalanya olehku. Anaknya Cao Pi sudah ada dalam genggamanku, lalu kau bisa apa, hah?” potong Shen Zhou dengan tersenyum sinis.
Raja Jiang wei mengeluarkan tombak bernama Trident dari cincin ruangnya dan melesat ke arah Shen Zhou.
Pria bermanik mata biru itu terbang mundur agar tidak terkena oleh tusukan tombak Trident milik Jiang Wei. Tapi Jiang Wei terus menusukan tombaknya untuk mengenai perut Shen Zhou.
Setelah terbang mundur keluar dari wilayah Istana Api Utara dan berada di ketinggian 100 meter. Dengan sengaja Shen Zhou membiarkan ujung ombak tersebut mengenai perutnya.
__ADS_1