Pendekar Delapan Mata Arah Angin

Pendekar Delapan Mata Arah Angin
Part 29. PERTEMPURAN DENGAN AYAH


__ADS_3

...Aula Istana Kekaisaran Wu....


Semua Jendral dari ketiga kerajaan dan pusat Kekaisaran berkumpul di dalam Aula Istana Wu dengan raut muka cemas. Mereka cemas karena salah satu ujung tombak Kekaisaran Wu, yakni Sekte Feniks Api telah musnah.


Kaisar Sun Quan bangkit dari singgasananya dan bertanya pada semua orang yang hadir di dalam Aula Istana Wu dengan tatapan tajam, “Apakah kalian tahu siapa orang yang telah menghancurkan Sekte Feniks Api? Pasukan dari Kekaisaran mana?”


Semua orang terdiam, karena tidak ada yang tahu orang yang telah menghancurkan sekte Feniks Api.


Tiba-tiba utusan yang dikirim oleh Shen Zhou mengatasnamakan Raja Shen Xin dari Kerajaan Angin Utara masuk ke dalam Aula Istana Wu dan langsung berlutut satu kaki dengan menggenggam kepalan tangannya ke arah Kaisar Sun Quan, “Lapor Yang Mulia Kaisar. Aku adalah utusan dari Kerajaan Angin."


Di sisi lain, dua orang sedang melakukan perhelatan akbar. Tubuhnya terbasahi oleh bulir-bulir cairan bening. Yun Zishan tiada lelahnya meminta Shen Zhou untuk menghantamnya lagi dan lagi dengan benda pusakanya.


“Sial, Yun Zishan ini wanita macam apa? Sudah lima kali dia memintaku untuk bermantap-mantap. Apa karena Si Naga putih ini belum juga menyemburkan cairan hangat pada rahim Yun Zishan. Pusing kepalaku, ini pusing,” batin Shen Zhou dengan memijat keningnya beberapa kali sambil menaikan imajinasi Yun Zishan ke alam surga.


“Sayang, aku sungguh menikmati hari ini. Aku harap kamu tidak pergi lama lagi untuk keluar dari wilayah kerajaan.” Yun Zishan memegang erat bantal di kanan dan kirinya dengan nada yang mendesah.


Shen Zhou malah tambah bersemangat. Sudah lama dia tidak menikmati panorama surga dunia bersama mantan istrinya tersebut.Dalam kenikmatan tersebut, Shen Zhou memejamkan mata dan melihat sosok bayangan iblis.


Sosok itu semakin lama semakin jelas dan itu adalah sosok Kai Yue dalam bentuk iblis. Pria bermanik mata biru tersebut tiba-tiba hasrat laki-lakinya memuncak saat melihat sosok Kai Yue yang tidak memakai sehelai benang pun.


“Aaaaakh …!”


“Aaaaakh ….”


Shen Zhou dan Yun Zishan bersamaan melenguh nikmat merasakan nikmat yang tiada tara. Saat itu kedua benda pusakanya menembakan cairan hangat sebagai tanda jika keduanya telah mencapai garis akhir.


“Terima kasih, Sayang. Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini.”


“Aku juga.”

__ADS_1


Keduanya saling memeluk dengan posisi Shen Zhou berada di atas dan Yun Zishan di bawah. Bibir mereka kembali berpagutan untuk melepaskan rasa syukur masing-masing atas nikmat yang telah mereka berdua terima.


Shen Zhou tiba-tiba merasakan energi chi dari salah satu anggota elit Organisasi Sisik Naga dan berada di atas atap kamar Raja Kerajaan Angin Utara.


“Sayang, mata-mata dari Kerajaan Api Selatan sedang mengintai kita dan berada di atas atap kamar kita. Dia sangat hebat, aku akan mengejarnya,” pinta ShenZhou dan langsung memakai kembali Pusaka Naga Putih.


“Hati-hati, Sayang.” Yun Zishan memeluk Shen Zhou dari belakang dan seakan tidak rela melepas kepergiannya. “Kamu harus pulang dan berjanji padaku.”


Ketika bermantap-mantap dengan Shen Zhou bukan membayangkan Shen Xin, tapi dia membayangkan Shen Zhou. Dia merasa pria yang berada di depan matanya saat ini adalah Shen Zhou sang mantan suami yang pernah dicintainya.


Entah bayangan dan perasaan itu tiba-tiba muncul dan semakin kuat. Ketika bayang Shen Zhou muncul dibenak Yun Zishan, maka hasrat wanitanya semakin liar dan brutal hingga membuatnya menginginkan lagi serta lagi bermantap-mantap dengan Shen Zhou.


Dengan jurus langkah Naga Emas, Shen Zhou melesat keluar jendela. “Kamu berlari keluar dari wilayah pusat kota Kerajaan Agin Utara,” titah Shen Zhou melalui telepati pada anak buahnya yang sedang berada di atas atap kamar Raja Kerajaan Angin Utara.


Anak buah Shen Zhou tersebut langsung melesat secepat kilat mengejar Shen Zhou yang sedang memperlambat gerakannya. Supaya berhasil dilewati oleh anak buahnya yang memakai baju pendekar berwarna hitam dan topeng putih bermotif Naga hitam.


“Padahal aku ingin memainkanmu di sesi selanjutnya, tetapi kau malah datang sendiri. Maka aku akan memainkannya saat ini juga,” batin Shen Zhou dengan tersenyum licik.


Kemudian dia melanjutkan memberi perintah pada anak buahnya melalui telepati, “Begitu keluar dari dinding pembatas kota, langsung serang pria tua di belakangku.”


“Baik, pemimpin,” balas anggota elit Sisik Naga melalui telepati.


Shen Zhou dan anak buahnya yang bernama Kun Lun itu meningkatkan kecepatannya, supaya Shen Hao terpancing karena rasa penasarannya. Kenapa pria yang berwujud Shen Xin itu mengejar pendekar yang memakai topeng Sisik Naga itu.


Shen Hao pun meningkatkan kecepatannya dengan jurus langkah dewa guntur untuk mengejar mereka berdua. Setelah melewati dinding pembatas kota, dan berjarak 200 meter dari dinding pembatas tersebut. Ku Lun melesatkan jurus pamungkasnya, yakni jari pedang lotus.


...SHUA!...


Sebuah energi berbentuk bilah pedang berwarna merah muda melesat ke arah Shen Hao. Pria berambut putih tersebut menyilangkan tangan karena tak sempat mengelak.

__ADS_1


...BOOM!...


Suara ledakan disertai kepulan asap menghalangi pandangan. Shen Zhou memanfaatkan hal tersebut untuk bersembunyi dan merubah dirinya menjadi dirinya kembali. Dia mengamati keadaan terlebih dahulu agar Shen Hao tidak curiga dan menahan sandiwara selanjutnya untuk Shen Hao.


“Uhuk!” Shen Hao terlihat sedang batuk darah setelah kepulan debu mereda.


“Pembunuh dari Organisasi Sisik naga memang hebat. Aku pun tidak mampu melawannya.”


Disaat Shen Hao ingin kabur, Shen Zhao mengirimkan pesan melalui telepati untuk menyiksa Shen Hao, tetapi jangan sampai mati.


Kun Lun yang memiliki tingkat kultivasi Dewa Perang Bintang Lima, tentu saja tidak gentar menghadapi Shen Hao yang memiliki tingkat kultivasi Dewa Perang Bintang Empat.


Ujung jarinya diarahkan ke arah Shen Hao yang sedang melesat kabur melewati dinding pembatas kota. Dia tidak membiarkan pria paruh baya berambut putih tersebut meminta bala bantuan setelah dia berhasil melewati dinding pembatas kota.


...SHUA!...


Siluet energi chi berbentuk bilah pedang melesat secepat kilat dan mengeluarkan api di belakangnya seperti api di roket pendorong. Kun Lun mengincar kaki kiri Shen Hao dan berhasil mengenainya.


...BOOM!...


Kaki kiri Shen Hao meledak terkena siluet bilah pedang berwarna merah muda dan menghancur tulang betisnya hingga remuk.


“Bagus, Kun Lun. Aku akan memberimu bonus batu roh lebih banyak, hahahaha …,” kata Shen Zhou melalui telekomunikasi telepati dengan tertawa girang melihat kaki kiri Shen Hao lumpuh seperti dirinya.


Serangan Kun Lun tidak berhenti disitu saja. Dia kembali melesatkan siluet bilah pedang ke arah Shen Hao yang sedang terduduk dengan raut muka meringis kesakitan sambil memegangi lutut kaki kirinya, “Kakiku-kakiku,” rengeknya.


...BOOM!...


Siluet bilah pedang kembali mengenai kaki kanan Shen Hao dan menghancurkannya hingga menjadi kabut darah. Shen Hao terlempar menabrak dinding pembatas kota hingga membuatnya retak dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2