Pendekar Delapan Mata Arah Angin

Pendekar Delapan Mata Arah Angin
Part 33.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Di perbatasan antara Kerajaan Angin Utara dan Kerajaan Api selatan.


Pasukan Kekaisaran Wei bersiap masuk dengan lima ribu anggota prajurit dari berbagai lini divisi. Lima ribu anggota prajurit itu dipimpin langsung oleh Pangeran Cao Pi.


Kaisar Cao Cao kurang percaya akan informasi yang diberikan oleh Shen Zhou tentang jatuhnya Kerajaan Angin Utara padanya. Maka dari itu, seluruh pasukan Kekaisaran Wei yang seharusnya dikirim untuk menginvasi Kerajaan Angin Barat, malah berbelok arah ke Kerajaan Angin Utara.


Anggota elit Organisasi Sisik naga yang ditempatkan di perbatasan antara Kerajaan Angin Utara dan Kerajaan Api Selatan segera menghubungi Shen Zhou melalui telekomunikasi telepati.


“Pemimpin, pasukan Kekaisaran Wei telah berada di perbatasan Kerajaan Angin utara,” ucapnya dalam batin.


Shen Zhou yang sedang bermeditasi dengan bersila untuk menguatkan pondasi kultivasinya langsung berdiri. Padahal semalam baru saja naik tingkat kultivasi ke tingkat Master Perang Bintang Dua dan setara dengan Kaisar Perang Bintang Empat.


“Yue’er, kamu diam disini saja. Aku ada urusan genting —”


“Bawalah ini!”


Kai Yue mengeluarkan pedang Hun Dun dan melemparkannya dan Shen Zhou. “Ingat kembali malam nanti dan jangan sampai telat!”


“Ya.”


Shen Zhou langsung melesat terbang menaiki kedua pedangnya yang baru, yakni Pedang Hun Dun dan Pedang Tao Tie dari tingkat keempat dari jurus pedang surga.


Akan tetapi namanya berubah setelah Shen Zhou sepenuhnya membangkitkan energi chi iblis kuno, maka namanya menjadi jurus pedang neraka. Kecepatan pedang neraka lebih cepat dari pedang surga.


Hanya dalam tiga ratus hembusan nafas, Shen Zhou sudah tiba di perbatasan dengan rambut yang berdiri karena terkena terpaan angin yang sangat kencang.


“Hoeek!” Shen Zhou turun dengan pijakan agak limbung dan memuntahkan isi perutnya. Dia terkena mabuk udara akibat kedua pedangnya yang terlalu cepat. “Haduh, sungguh merepotkan. Kenapa kedua pedang ini sangat cepat?”

__ADS_1


Matanya langsung membelalak saat 5000 anggota prajurit Kekaisaran Wei bergerak ke arah dinding perbatasan Kerajaan Angin Utara.


“Mereka memang tidak bisa menuruti pengaturanku. Rasakan anti akibatnya.” Shen Zhou mengepalkan tangan karena Kaisar Cao Cao terlalu bodoh untuk membangkang dan tidak mempercayainya. “Kun Lun! Berikan surat pada Jendral yang Kung, Gun Ting dan Ru Xou untuk menyiapkan pasukan untuk menggempur Kerajaan Api Timur!”


“Baik, pemimpin!” Kun Lun keluar dari dalam bayangan Shen Zhou.


Karena dia memiliki jurus bayangan ilahi, yakni bisa berpindah tempat lewat bayangan orang lain selama orang itu pernah melakukan kontak fisik dengannya. Cukup panggil namanya melalui telepati, maka Kun Lun akan muncul, meskipun dia berada di lubang semut.


Setelah menerima surat perintah dari Shen Zhou, Pria berambut merah marun tersebut masuk kembali ke bayangan Shen Zhou untuk berpindah tempat ke tempat Ru Xou, Gun Ting dan Jendral yang Kung yang berada di Desa Api Jindan.


“Kalian menyusahkanku, maka aku juga bisa menyusahkan kalian. Lagipula kalian sudah masuk lubang jebanku dan kalian tak bisa keluar darinya, selamanya kalian akan membusuk di lubang itu, hahaha ….”


Sen Zhou tertawa dan merubah dirinya menjadi Shen Xin untuk menghadapi 5000 prajurit anggota Kekaisaran Wei seorang diri.


Kemudian melayang dan berpidato kepada semua prajurit Kerajaan Angin Utara yang menjaga dinding perbatasan, “Lihat! Tanah air kita telah difitnah dengan menuduh kalau keluarga Shen dari Kerajaan Angin Utara telah membunuh keluarga Kerajaan Api Selatan dan sekarang mereka menggunakan dalih tersebut untuk merebutnya dari kita. Semuanya pertahankan dinding perbatasan!”


Mereka semua berdiri di atas dinding perbatasan dan siap membidik tombak serta busur panah ke arah pasukan berkuda Kekaisaran Wei untuk berjaga-jaga.


“Shen Zhin kamu harus berterima kasih padaku. Aku masih mencintai Kerajaan dan seharusnya aku yang memegang jabatan Raja ini, bahkan Kaisar di Kekaisaran Wu.” Shen Zhou mengepalkan kedua tangan hingga urat otot di lengannya menonjol besar. “jalan Naga Hitam!”


BLEDAR!


Awan segera menggulung hitam disertai petir hitam yang menyambar tepat di depan kuda milik Pangeran Cao Pi. Itu tanda yang diberikan Shen Zhou untuk membuat mereka menyerah sebelum menyesal.


“Aku katakan pergi atau aku hanguskan semuanya!” teriak Shen Zhou yang sudah melayang di atas pasukan berkuda dengan 1000 siluet Naga hitam yang terus bertambah menjadi 1000 siluet Naga Hitam.


“Jangan mundur! Terus Maju! Raja sampah ini hanya menggertak! Dia sedang lelah dan takkan mampu menyerang seujung bulu pun. Serang!” Cao Pi malah memprovokasi semua prajuritnya untuk terus maju.


“Dasar!” Shen Zhou menyunggingkan senyum dan mengarahkan ujung jari kanannya ke arah pasukan berkuda yang tak mau berhenti.

__ADS_1


1000 siluet Naga Hitam melesat cepat ke arah 1500 pasukan berkuda dan membombardirnya tanpa ampun.


BOOM! BOOM!


Suara ledakan disertai suara jeritan, pekikan, dan erangan kesakitan menggema di luar dinding pembatas Kerajaan Angin Utara.


Suara-suara jerit kesakitan itu langsung lenyap beserta tubuh para prajurit yang langsung hancur menjadi bubur darah.


Melihat pasukannya tewas, Pangeran Cao Pi tidak gentar, malah semakin kuat dendamnya ingin membunuh Shen Xin alias Shen Zhou. Amarahnya meluap-luap dan matanya nyalang menatap Shen Zhou.


Cao Pi berdiri di atas kudanya dan menggunakan pelana kuda sebagai pijakan, lalu melesat terbang ke arah Shen Zhou sambil mengeluarkan sebuah tombak berbilah ganda.


"Mati kau!" Cao Pi menusukan ujung tombak ke arah dada Shen Zhou dan pria bermanik mata biru itu diam dengan tersenyum simpul.


TRANG!


"Tubuh wajra zen!" seru Shen Zhou dan mementalkan tusukan tombak Cao Pi beserta pemiliknya sejauh lusinan meter.


Shen Zhou hanya mengincar barisan pasukan yang akan mendobrak pintu masuk dinding pembatas dan tak memperdulikan Cao Pi yang akan menyerangnya kembali.


Oleh karena itu, Shen Zhou menunjuk tegas ke arah pasukan berpanah Kekaisaran Wei yang berada di barisan paling belakang. Dari telunjuknya itu keluar sebuah bola hitam seukuran bola baseball dan langsung membesar sebesar diameter 200 meter lalu dilemparkan ke arah barisan pasukan berpanah.


SWUSH!


Melihat pasukan berpanah akan tertimpa bola energi hitam yang sangat besar, Cao Pi melesat ke arah bola tersebut dan dengan ujung tombak, dia menahannya sekuat tenaga, “Aaargh …!”


Ujung tombak itu perlahan menyerap energi bola hitam itu dan membuatnya semakin menyusut. Tentu saja membuat Shen Zhou terkejut, bola energi hitam yang sangat besar dan kuat itu ternyata mampu dihalau oleh Cao Pi dengan menyerapnya.


Tubuh Ca Pi menegang dan diselimuti aura warna merah yang berkobar-kobar serta fluktuasi udara di sekitar tubuhnya berupa deru angin yang sangat kencang seperti Son Goku sedang masuk dalam mode super saiya.

__ADS_1


__ADS_2