
Setelah berpuas diri menghancurkan Sekte Feniks Api yang hingga rata dengan tanah. Pria bermanik mata biru yang telah merubah dirinya menjadi Shen Xin tidak langsung pulang ke pusat kota Kerajaan Angin Utara.
Dia terbang dengan cepat setelah merasakan perutnya yang udah lapar tidak terkira.
“Demi membalas dendam, aku sampai melupakan perutku selama satu bulan ini. Memang, menjadi kultivator itu tidak membutuhkan makanan. Akan tetapi kata penyanyi dari Negeri Seberang, kultivator juga manusia,” gumam Shen Zhou sambil mengelus-elus perutnya yang sudah berdemo keras.
Shen Zhou tiba di sebuah desa di wilayah barat daya Kerajaan Angin Utara bernama Desa Kilin Hijau. Desa yang cukup makmur dan baru pertama kali dia menginjakan kakinya di desa tersebut. Ternyata di desa itu memiliki banyak kembang desa yang baru bermekaran.
Shen Zhou merubah dirinya lagi menjadi tubuhnya yang asli, banyak pasang mata wanita menatapnya dengan tatapan cabul dan membuat Shen Zhou merasa risih.
“Kenapa setiap perempuan yang melihatku selalu penuh nafsu? Apakah aku terlalu tampan? Padahal sebelum-sebelumnya tidak seperti ini,” guman Shen Zhou masuk ke dalam salah satu restoran kecil di ujung Desa Kilin Hijau.
Pelayan laki-laki dengan tubuh agak gemulai mendekati meja Shen Zhou, “Tuan tampan, Anda mau pesan apa?” tanyanya dengan nada manja.
“Berikan aku makanan terbaik disini dan arak terbaik. Aku mau berpesta,” jawab Shen Zhou sambil mengeluarkan uang 1000 koin emas di atas meja.
Shen Zhou yang sedang bosan menunggu makanannya belum datang, mengetuk-ngetukan kelima jarinya di permukaan meja. Saat itu juga dua wanita yang wajahnya tidak asing bagi Shen Zhou masuk ke dalam restoran.
“Sial, kenapa dua wanita itu berada disini?” Shen Zhou langsung memalingkan muka dan menutupi mukanya agar tidak terlihat oleh Yuen Yin serta Hongdou.
Jika dia merubah wajahnya, takut akan membuat warga Desa Kilin Hijau gempar. Maka hanya cara seperti yang bisa Shen Zhou lakukan untuk menutupi rasa malunya dari kedua wanita yang pernah melihat Shen Zhou menari dalam keadaan tanpa sehelai benang.
Pelayan laki-laki bersama kedua pelayan lainnya membawakan makanan Shen Zhou yang cukup banyak. Tentu saja hal itu mampu mengundang kedua hidung Hongdou dan Yuen Yin untuk mendekat ke arah meja yang dekat dengan meja Shen Zhou.
“Pelayan! Aku juga mau makanan seperti yang Tuan itu pesan. Aku juga mau berpesta karena tempo hari melihat lelaki tampan, hahaha …,” pinta Hongdou dengan tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian malam itu.
__ADS_1
“Sialan! Sialan! Mereka berdua pasti sedang menertawakan kebodohanku yang sedang menari perut dalam keadaan telanjang waktu itu,” batin Shen Zhou kesal.
“Baik, Nona Yuen Yin dan Nona Hongdou. Tumben kalian akur, biasanya selalu berkelahi,” kata pelayan dengan tubuh agak gemulai yang bernama Rada.
“Hei, Rada. Kamu tahu saja tingkah pola kami berdua. Tidak baik memperhatikan kami. Akan tetapi kami akur berkat seorang lelaki tampan dan kami berdua telah berjanji untuk mengejarnya. Kalau kau melihatnya pasti mimisan,” kata Yuen Yin yang terus mengagung-agungkan Shen Zhou.
Pria bermanik mata biru tersebut jadi tidak bebas menikmati makanannya, karena harus makan di depan Yuen Yin dan Hongdou yang duduk bersebrangan dengannya.
“Nona, aku yakin ketampanannya masih kalah sama Tuan yang sedang aku layani.” Rada membalikan badan dan menunjuk ke arah Shen Zhou.
Pria berambut hitam yang sedang menikmati makanannya tersebut langsung tersedak ketika mukanya yang terhalangi tubuh Rada terekspos jelas oleh Hongdou dan Yue Yin, “Uhuk-uhuk!”
“Ka-kamu?!” Hongdou dan Yuen Yin yang baru saja duduk langsung bangkit berdiri lagi dengan mata melebar.
Shen Zhou yang ditatap dengan mata melebar langsung kembali makan dengan lahap dan berpura-pura tidak mengenali mereka berdua.
Yuen Yin berjalan mendekati meja Shen Zhou dengan dahi dipenuhi urat otot dan menggulung lengan bajunya.
“Apa kau ingin merasakan pukulanku hah?”
Shen Zhou makan semakin lahap dan tidak menggubris ancaman Yuen Yin sama sekali.
“Oh, jadi kamu ingin aku membuka semua rahasiamu malam itu, ya?” Hongdou pun mendekati meja Shen Zhou dengan raut muka menyeringai dan *******-***** punggung jari jemarinya.
“Sial, mereka malah mau menggangguku. Baiklah, aku akan mengikuti permainan kalian,” batin Shen Zhou dengan tersenyum licik dan menggebrak meja dengan mata melotot.
__ADS_1
“Oh, beginikah kelakuan para Gadis Kerajaan Angin Utara? Hah! Apa kalian mau aku laporkan pada Raja Shen Xin? Aku ini Shen Zhou sepupu Raja Shen Xin. Silahkan saja jika kalian mau mengancamku,” sambungnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Yuen Yin hingga membuat tubuh wanita bermata belo tersebut condong ke belakang.
Kedua pipi Yuen Yin merona, hidungnya pun mengeluarkan cairan merah dan detak jantungnya tidak beraturan seperti sehabis lari maraton. Dia sudah tidak bisa menahan diri atas panorama indah di depan matanya.
“Jangan bercanda! Tuan Shen Zhou itu telah tiada. Raja Shen Xin dan istrinya sendiri yang telah mengumumkannya satu setengah tahun lalu,” tolak Hongdou dan menjulurkan kepalan tangan kanannya ke depan muka Shen Zhou.
Shen Zhou beralih mendekati Hongdou dan memegang kepalan tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hongdou dengan mendesah untuk menggodanya, “Apa kau tega memukul wajahku? Kalau kau tega pukullah!”
Detak jantung gadis berambut merah tersebut berdegup kencang seperti genderang mau perang. Dadanya kembang kempis tidak karuan, dan kedua pipinya merona. Dia juga tak bisa menahan panorama indah di depan matanya, sampai-sampai cairan merah keluar deras dari kedua lubang hidungnya.
"Mampus kalian! Siapa suruh menggangguku. Kelemahan wanita itu lelaki tampan dan aku ini lelaki super tampan yang tiada duanya di Daratan Alam Bawah Xia ini dan mungkin di seluruh Alam Daratan Xia," batin Shen Zhou tersenyum puas melihat Hongdou dan Yuen Yin tidak berkutik.
Setelah puas makan dan minum arak serta menggoda Yuen Yin juga Hongdou, pria bermanik mata biru tersebut keluar dari restoran kecil tersebut dengan bersendawa keras.
“Sayang aku tidak bisa menikmati satu wanita pun disini. Karena sudah saatnya aku masuk ke dalam hutan untuk memberikan persembahan. Di desa ini sama sekali tidak ada penginapan,” gumam Shen Zhou sambil berjalan santai untuk keluar dari Desa Kilin Hijau menuju pusat kota Kerajaan Angin Utara.
Bagi Shen Zhou, hutan adalah tempat yang paling aman untuk tidur, berkultivasi atau berlatih meningkatkan kekuatan tempurnya.
Setelah sinar bulan tepat berada di atas kepalanya, Shen Zhou yang sudah berada di bibir danau di dalam hutan Qianmu menanggalkan pakaian untuk memberi persembahan pada Kai Yue yang sudah dianggapnya sebagai dewa.
Akan tetapi malam ini Kai Yue tidak muncul dari robekan celah dimensi dan biasanya mengintip tubuh Shen Zhou dari celah dimensi tersebut.
"Kenapa dewa tidak menyahut, ya? Padahal aku sudah memanggilnya untuk memberikan persembahan. Apakah dewa sudah bosan? Syukurlah jika sudah bosan."
"Dengan begini aku tidak perlu lagi memberikan persembahan pada dewa setiap malam,” pikir Shen Zhou yang bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.
__ADS_1
Hatinya merasa hampa saat ini. Karena tidak ada yang melihat tubuhnya seperti biasa. Setiap kali Shen Zhou melakukan persembahan, seperti ada sebuah kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya.
Dia selalu membayangkan ketika melakukan persembahan pada dewa seperti sedang bermantap-mantap dengan seorang dewi dan sekarang tidak ada sahutan dari Kai Yue yang setiap malam mengisi hari-harinya.