
...Kediaman Klan Kai....
“Ratu Iblis Kai! Wilayah Api Hitam telah diserang oleh monster dan kawanan monster telah mendekati,” lapor Kai Shen kepala prajurit Kediaman Kai sambil berlutut dengan salah satu kaki.
“Cih, gara-gara ayah telah tiada mereka berani menyerang. Aku memang tidak mampu menguasai satu jurus pedang surga. Akan tetapi aku menguasai salah satu jurus dari sempalan Kitab Delapan Arah Mata Angin.”
Kai Yue mengeluarkan pedang berwarna ungu dengan aura kematian yang sangat pekat. “Semuanya mundur! Biar aku habisi para monster jahanam itu!”
“Pedang neraka, Hun Dun?!” Kai Shen matanya membola dengan tubuh gemetar melihat pedang yang diselimuti aura kematian yang sangat pekat.
“Retakan dimensi!” Kai Yue masuk ke dalam robekan dimensi yang dibuat hanya dengan mengedipkan mata.
Lalu masuk ke dalamnya dan langsung berada di depan gerbang kota Api Hitam. “Berhenti! Atau aku berbuat kasar!”
Monster yang berbentuk para raksasa dengan mata merah menyala dan tubuh berwarna coklat. Memiliki empat gigi taring di bagian atas dan bawah mulutnya dengan mencuat ke atas tersebut tidak menggubris ancaman Kai Yue.
Langkah kaki mereka menimbulkan suara yang bergemuruh disertai kepulan debu yang sangat tebal. Semua pasukan Kota Api Hitam mundur karena tidak mampu menghalangi monster yang terlalu kuat dan bukan tandingan mereka.
Salah satu monster dengan tubuh yang lebih tinggi maju ke depan memimpin kawanan monster. Dari mulutnya menembakan bola cahaya berwarna merah berdiameter 10 meter dan diarahkan menuju Kai Yue.
BOOM!
Bola merah itu membelah udara dan menghantam Kai Yue. Hingga menimbulkan suara ledakan yang sangat keras disertai kepulan cahaya berbentuk siluet bola yang menyebar sejauh lima puluh meter.
Para prajurit yang berjaga di dinding kota langsung bersembunyi di balik dinding dengan tubuh gemetar dan raut wajah seputih kertas.
"Ba-bagaimana ini? Jika Ratu Iblis Kai mati, maka kita juga tidak akan mampu melawan kawanan monster itu," ucap salah satu prajurit dan merasakan jika benda pusakanya telah hangat oleh cairan air seni.
"I-iya. Kita tidak akan bisa melawan kawanan monster itu. Hanya Kaisar Iblis Nirwana yang bisa membunuhnya dengan formasi pembunuh laksa," timpal prajurit lain yang sama-sama benda pusakanya telah hangat oleh cairan air seni yang tidak sengaja keluar karena ketakutan.
"... …."
__ADS_1
Semua prajurit Kota Api Hitam tidak ada yang berani maju setelah bola hitam itu menghantam Kai Yue. Hanya bisa berspekulasi dan bersembunyi di balik dinding.
“Aish, kurang panas serangan kalian.”
Kai Yue menepuk-nepuk bajunya dengan menaruh bilah pedang di pundak kanannya. “Biar aku yang menunjukan bagaimana serangan itu? Taring Naga Iblis!”
Kai Yue mengumpulkan energi chi iblis ke bilah Pedang Hun Dun. Membuat bilah pedang tersebut diselimuti aura hitam dan diayunkan secara vertikal dari atas ke bawah oleh Kai Yue.
SWUSH!
Siluet sabit besar berwarna hitam dan berbentuk vertikal melesat dengan sangat cepat ke arah monster yang menembakan bola api hitam.
SLASH!
Tubuh monster bertanduk empat tersebut terbelah dua, siluet sabit besar tersebut terus melesat dan memotong kawanan monster yang dilewatinya menjadi dua.
BOOM! BOOM!
“Sial, gara-gara kalian monster bedebah, kampret, sialan, bau tengik. Aku tidak bisa melihat tubuh lelakiku yang gagah. Jika kalian mengganggu Kota Api Hitam lagi, maka aku akan hancurkan kalian selamanya!” teriak Kai Yue berapi-api ke arah kawanan monster yang sudah lenyap.
Fenomena serangan monster ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Namun setelah jiwa Kai Liu hilang, sudah tujuh kali dalam kurun waktu tiga bulan kejadian ini terjadi. Monster-monster itu seperti menginginkan sesuatu dari Kota Api Hitam.
“Untuk sementara ini aku hanya bisa menahannya. Jurus ini bukan jodohku, makanya hanya bisa digunakan satu kali dalam satu hari,” gumam Kai Yue lalu masuk ke dalam robekan dimensi.
................
Istana Angin Utara.
Shen Zhou yang sudah berubah tubuhnya menjadi Shen Xin tiba di depan pintu masuk yang menuju aula istana dengan berpura-pura terluka dalam.
“Uhuk-uhuk! Tolong! Aku butuh ciuman buatan!” teriak Shen Zhou dengan dada kembang-kempis.
__ADS_1
“Eh, salah. Aku butuh obat!”
“Yang mulia Raja!” Kedua prajurit segera memapahnya dan berjalan cepat menuju kamar milik Raja.
“Kasihan mereka semua disini. Pasti dalam hati mereka kesal memiliki Raja dan Ratu yang arogan, serta hanya mementingkan perut mereka sendiri,” batin Shen Zhou dengan tatapan sendu melihat kedua prajurit yang memapahnya bertubuh kurus kering.
"Sumaiku! Suamiku! Kenapa Suamiku?"
Yun Zishan datang dengan raut muka khawatir. Lebih tepatnya pura-pura khawatir akan Shen Xin. Biarkan saja dia tetap bisa menjadi permaisuri Kerajaan Angin Utara dan menghambur-hamburkan harta.
Mata Shen Zhou langsung memindai setiap lekukan tubuh mantan istrinya. Darahnya langsung berdesir dan sudah berada di ubun-ubun. Ingin rasanya dia membunuh wanita j***** itu saat ini juga. Akan tetapi, dia tahan agar rencana balas dendamnya sesuai yang dia inginkan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku telah berhasil membunuh Yu Shuan. Namun, aku berhasil selamat, tetapi tidak bagi Sekte Feniks Api dan Tetua Dizan. Semuanya telah dihabisi. Akan tetapi ….” Shen Zhou mengedipkan mata pada kedua prajurit yang memapahnya.
Mereka paham dan langsung keluar dari dalam kamar raja dengan menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Shen Zhou bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yun Zishan, “A-apa yang ingin kamu lakukan, Sayang?” ucapnya gugup dengan kedua pipi merona.
Wanita berambut hitam tersebut merasakan pesona aura yang lebih pekat dari tubuh Shen Xin dan seperti bukan Shen Xin yang dia kenal.
Pesonanya membuat Yun Zishan tidak bisa berpaling dan merasakan setiap sentuhan tangan Shen Zhou yang berwujud Shen Xin memiliki setruman listrik yang membuatnya mabuk kepayang.
"Sayang, hari ini kamu tampan sekali. Aku jadi sangat bergairah." Yun Zishan memuji Shen Zhou dengan nada mendesah.
Benda pusaka Shen Zhou langsung tegak, dia sudah lama tidak merasakan sentuhan tubuh Yun Zishan, sang istri yang telah mengkhianatinya.
"Sial, kenapa tubuhku tidak mampu menolak? Kenapa aku tidak bisa kabur dari perasaan ini?" monolog Shen Zhou dengan perasaan yang tak menentu.
Apalagi ketika Yun Zishan menanggalkan semua pakaiannya, hasrat Shen Zhou langsung menggebu-gebu dan tidak bisa dibendung lagi.
Perasaan cinta yang selama ini Shen Zhou kubur dalam-dalam pada Yun Zishan kembali muncul. Namun, rasionalitas dan logikanya masih ia jaga dengan ketat, agar perasaan itu tidak menjerumuskannya ke jurang yang sama.
“Biarlah aku menikmati cinta masa lalu ini. Toh, aku bukan Shen Zhou di matanya. Aku adalah Shen Xin di matanya,” batin She Zhou pasrah dengan mengingat semua rasa sakit yang telah ditorehkan Yun Zishan padanya.
__ADS_1