Pendekar Delapan Mata Arah Angin

Pendekar Delapan Mata Arah Angin
Part 34.


__ADS_3

Pasukan berkuda yang membawa pedang dan perisai berhasil menggapai pintu masuk perbatasan. Hal ini membuat Shen Zhou serius dan tidak mau main-main lagi melawan Cao Pi.


“Formasi pembunuh laksa!” serunya.


Keempat pedang keluar dari dalam kehampaan dan melesat ke arah pasukan berkuda yang sedang menebas pintu gerbang perbatasan.


Cao Pi juga ikut melesat ke arah pintu gerbang perbatasan untuk melindungi pasukannya dari serangan Shen Zhou.


Namun, sayang pedang itu terlalu cepat dan berhasil memenggal satu persatu kepala prajurit pasukan berkuda Kekaisaran Wei.


...ZRASH! ZRASH!...


Cairan merah menyembur dari leher para prajurit dan membanjiri permukaan tanah depan pintu gerbang perbatasan. Pasukan Kerajaan Angin Utara yang berada di atas dinding pembatas terbakar semangatnya dan menghujani para prajurit berkuda dengan hujan anak panah.


...JLEB! JLEB!...


Satu persatu prajurit berkuda tumbang terkena anak panah. Mereka masih bisa berdiri, tetapi pedang-pedang milik Shen Zhou langsung terbang melesat ke arah mereka dan memenggal kepalanya.


...ZRASH! ZRASH! ...


Disaat Cao Pi sedang sibuk dengan ke-empat pedangnya, Shen Zhou mengincar lagi barisan pasukan berpanah yang terlalu banyak dan siap melepaskan anak panahnya. Dia melambaikan jari ke atas untuk memanggil Pedang Hun Dun yang diinjak oleh kaki kanannya.


Pedang dengan bilah berwarna ungu tersebut terbang dan langsung digenggam oleh Shen Zhou. Lalu pria bermanik mata biru tersebut melakukan ayunan tebasan secara vertikal dari bawah ke atas.


...SWUSH!...


Siluet sirip hiu setinggi 20 meter membelah permukaan tanah dan udara menuju barisan pasukan berpanah yang akan melepaskan anak panah dan meledak.


...BOOOM!...


Suara ledakan disertai gelombang kejut menghempaskan semua prajurit dalam radius seratus meter. Setelah itu menyusul kepulan debu dan asap menjulang ke langit membentuk siluet jamur. Disertai permukaan tanah yang bergetar hebat seperti gempa bumi.

__ADS_1


Cao Pi terlalu sibuk dengan ke-empat pedang milik Shen Zhou dan membuatnya kecolongan. 70% pasukannya telah lenyap menjadi debu yang diterpa angin oleh tebasan Pedang Neraka Hun Dun.


...TRANG! TRANG!...


Pangeran Mahkota Kekaisaran Wei itu terus berjibaku dengan ke-empat pedang Shen Zhou. Bilah tombaknya terus beradu dengan ke-empat bilang pedang yang terbang semakin cepat. Hingga akhirnya mampu menggores kedua lengan tangan dan kedua betisnya.


...SLASH! SLASH!...


Shen Zhou terbang mendekati Cao Pi dan memberikan saran, “Lebih baik kalian mundur sebelum kehilangan Kerajaan Api Timur. Jika kau memaksa, bukan hanya Kerajaan Api timur yang hilang, tetapi kau juga akan kehilangan kepalamu.”


“Jangan bercanda dan omong kosong! Tidak ada yang bisa meruntuhkan Kekaisaran Wei termasuk Kerajaan yang dinaunginya,” tolak Cao Pi dengan berteriak dan menganggap apa yang dikatakan oleh Shen Zhou hanyalah bualan belaka.


Shen Zhou yang sedang mengendarai pedang Tao Tie, kembali melambaikan jari untuk meminta Pedang Tao Tie terbang menggantikan Pedang Hun Dun yang berada genggaman tangan kanannya.


“Dasar tolol! Mati kau!” hardik Shen Zhou. 


Pedang ungu itu kembali berada di bawah injakan kedua kaki tuannya dan pedang Tao Tie dihunuskan ke arah pasukan Kekaisaran Wei yang masih tersisa. Muncul seribu bayangan Pedang Tao Tie dan menusuk satu persatu tubuh prajurit Tao Tie, hingga merobek baju dan menembus jantungnya.


...ZRASH! ZRASH!...


Dalam sekali serang, semua prajurit Kekaisaran Wei mati berkalang tanah dengan dada bagian jantung berlubang dan terkapar dengan mulut terbuka lebar. Tubuh Cao Pi agak menggigil  melihat lima ribu anggota pasukannya tewas di  depan matanya oleh Shen Zhou seorang diri. 


“Mo-monster?” gumamnya terduduk lemas dan mata melebar sambil mundur ke arah dinding perbatasan.


Shen Zhou berpindah tempat di depan Cao Pi dan mengatakan, ”Aku sudah memberimu kesempatan dan mengampunimu, tapi kau menolak. Maka terimalah hukumanmu!”


...BAM!...


Shen Zhou memukulkan telapak tangan kanannya perut Cao Pi untuk menghancurkan dantian miliknya.  Bukan hanya itu, Shen Zhou juga melepaskan racun Naga Hitam yang membuat Cao Pi lumpuh dan bisu selamanya. Jurus tersebut merupakan jurus milik Shen Xin yang ditirunya dan sudah diperkuat sepuluh kali lipat.


“Guhak!” Cao Pi memuntahkan darah hitam dengan tubuh tak berdaya.

__ADS_1


Shen Zhou bersiul untuk memanggil  anggota Elit Organisasi Sisik Naga dan mereka langsung hadir di depan Shen Zhou, “Bawa dia ke ruang bawah tanah Paviliun Sisik Naga dan siksa dia!” titahnya.


“Baik, pemimpin!” sahut kesepuluh anggota elit Sisik Naga serentak. Lalu membawa tubuh Cao Pi yang sudah pingsan menuju ruang bawah tanah Paviliun Sisik Naga.


"Masalah ini sudah selesai. Waktunya aku membuat perhitungan dengan keluarga Shen." Shen Zhou mendongakan kepala dan menatap tajam langit yang sudah senja.


Kedua kakinya dihentakan untuk terbang melesat ke arah pusat kota Kerajaan Angin Utara. Hanya dalam 400 hembusan nafas, Shen Zhou tiba di depan sebuah toko obat, lalu masuk ke dalamnya.


Dia merubah tubuhnya menjadi Yu Shuan, karena bentuk tubuh Yu Shuan tidak  dikenali di Kerajaaan Angin Utara.


"Permisi, Nona. Bisakah kau mempertemukanku dengan pemilik toko obat ini?" mohon Shen Zhou dengan tersenyum ramah.


"Bisa, tuan. Sebentar, aku akan memanggilkan tuan Jui Suke." Pelayan wanita itu masuk ke dalam ruangan milik Jui Suke, yakni pria muda dan cukup tampan, serta ahli peracik pil ternama di Kerajaan Angin Utara.


"Ya, tuan. Perkenalkan namaku Jui Suke. Ada yang bisa kami bantu?" Jui Suke yang sudah keluar dari ruangannya menyambut Shen Zhou dengan senyuman hangat.


"Aku ingin membeli semua pil  di toko ini beserta tanamannya." Shen Zhou tanpa  basa-basi langsung mengeluarkan uang 10 juta koin emas di depan Jui Suke. "Katakan saja berapa harganya! Jika kurang bisa dilakukan negosiasi harga ulang."


"Cukup, tuan." Jui Suke menggenggam kepalan tangannya dan menunduk hormat pada Shen Zhou. "Nou Yi, Yun Hei, dan Kiu Long, bantu aku menyiapkan semuanya!"


Ketiga pelayan yang dipanggil oleh Jui Suke segera menyiapkan semua pesanan untuk Shen Zhou dan menyimpannya dalam satu tempat, yakni di dalam cincin ruang.


Shen Zhou menyunggingkan senyum ketika Jui Suke keluar membawa sebuah kotak emas berisikan cincin ruang.


“Terima kasih tuan. Senang berbisnis dengan anda.” Shen Zhou mengambil kotak emas yang diberikan oleh Jui Suke padanya. “Ingat, jangan jual ke orang lain. Aku akan membelinya dengan harga yang pantas.”


“Ya, tuan, tentu.” Jui Suke mengangguk cepat dengan raut wajah yang sumringah. Lalu memberikan token berwarna emas  pada Shen Zhou, “Ini untuk tuan dan untuk pembelian selanjutnya, tuan mendapatkan diskon 50%.”


Shen Zhou hanya mengulas senyum sambil menerima plat token yang bertuliskan Bintang Malam. Lalu keluar dari Paviliun Bintang Malam dengan tersenyum licik.


 

__ADS_1


__ADS_2